f '
Berbagi Inspirasi dan informasi pendidikan
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)
Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.
Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.
Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.
![]() |
| Foto bersama Siswa, Guru dan Mahasiswa KPM Kelompok 66 |
inspirasipendidikan.com
– Komitmen mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Kiai Ageng Muhammad
Besari Ponorogo dalam mendukung penguatan pendidikan di sekolah dasar
diwujudkan melalui partisipasi aktif pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan
Sekolah (MPLS) di SDN Bondrang 1, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, yang
berlangsung pada 14-15 Juli 2026 dan dilanjutkan tanggal 18 Juli 2026.
Kegiatan
yang menjadi bagian dari program kerja Bidang Pendidikan Kelompok 66 KPM ini
menghadirkan mahasiswa sebagai narasumber dan fasilitator pembelajaran bagi
peserta didik baru. Dibawah bimbingan DPL Dr. Hariyanto, M.Pd, Kelompok 66 mengusung
konsep pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, mahasiswa menyampaikan
dua materi yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak, yakni Pencegahan
Bullying di Lingkungan Sekolah dan Gemar Menabung Sejak Dini.
Ketua
Kelompok 66 KPM, Ridho Nurrohman, menjelaskan bahwa kedua tema tersebut dipilih
berdasarkan kebutuhan sekolah sekaligus sebagai upaya membangun karakter
peserta didik sejak usia dini.
![]() |
| Suasana antusias dalam kegiatan MPLS bersama mahasiswa KPM 66 |
"Sekolah
bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk
karakter. Karena itu kami ingin anak-anak memahami pentingnya saling menghargai
teman dan membiasakan hidup hemat melalui budaya menabung," ujarnya.
Materi
mengenai anti-bullying dikemas secara sederhana melalui cerita,
simulasi, diskusi ringan, serta permainan edukatif yang mengajak siswa
mengenali bentuk-bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, dan cara
menjadi teman yang baik. Sementara itu, materi gemar menabung memperkenalkan
pentingnya mengelola uang sejak dini, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta
menanamkan kebiasaan menyisihkan sebagian uang saku untuk masa depan.
Berbeda
dari metode ceramah konvensional, mahasiswa menghadirkan pembelajaran yang
komunikatif melalui ice breaking, permainan kelompok, kuis interaktif,
hingga pemberian hadiah sederhana bagi siswa yang aktif berpartisipasi. Suasana
kelas pun berlangsung meriah dengan gelak tawa, tepuk tangan, dan antusiasme
siswa yang terus terlibat dalam setiap sesi.
![]() |
| Unjuk kreativitas para siswa SDN Bondrang 1 |
Pada hari
pertama, kegiatan dipandu oleh Ridho Nurrohman, Fadhillah Shinta, Zulfa
Zakiyyah, Huda Nurrohman, Arin, dan Pinchi Septian. Sementara pada hari kedua,
sesi pembelajaran dilanjutkan oleh Moch. Rifa'i, Ervina Pranindita, Arwinda
Ilma, Rina Setiana, Latifa Syarafina, Zilda Hidayatul, Shahida, dan Alfi
Lailatul Badriyah. Pada hari ketiga, yaitu tanggal 18 Juli 2026 diisi dengan
berbagai lomba yang edukatif dan menarik.
Kepala SDN
Bondrang 1, Ni’mal Mafiroh, S.Pd menyampaikan apresiasi atas kontribusi
mahasiswa KPM dalam menyukseskan kegiatan MPLS tahun ini. Menurutnya,
pendekatan yang dilakukan mahasiswa mampu menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan sekaligus memberikan nilai-nilai pendidikan karakter kepada
peserta didik.
"Kami
mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa dari mahasiswa
Kelompok 66 KPM. Topik yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak
saat ini, dan cara penyampaiannya begitu menarik. Anak-anak terlihat sangat
antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan."
Melihat
semangat dan kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dengan siswa, pihak sekolah
juga berharap kerja sama tidak berhenti pada kegiatan MPLS. Kepala sekolah
meminta mahasiswa KPM untuk turut membantu proses pembelajaran selama masa
pengabdian,
Menanggapi
permintaan tersebut, Ketua Kelompok 66, Ridho, menyatakan kesiapan seluruh
anggota kelompok untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
![]() |
| Mahasiswa KPM Kelompok 66 berpose di depan SDN Bondrang1 |
Bagi para
mahasiswa, pengalaman mengajar secara langsung memberikan pembelajaran yang
tidak diperoleh di ruang kuliah. Mereka belajar memahami karakter peserta
didik, mengelola kelas, serta membangun komunikasi yang efektif dengan
anak-anak sekolah dasar.
Fadhillah
Shinta, salah satu mahasiswa peserta KPM, mengungkapkan bahwa antusiasme siswa
menjadi motivasi tersendiri selama menyampaikan materi.
"Awalnya
kami sempat khawatir anak-anak akan cepat bosan. Namun ternyata mereka sangat
aktif bertanya, berani menjawab, bahkan ikut berbagi pengalaman. Rasanya menyenangkan
ketika melihat mereka belajar sambil tertawa."
Hal serupa
disampaikan Ervina Pranindita yang bertugas pada hari kedua.
"Kegiatan
ini membuat kami sadar bahwa menjadi pendidik bukan hanya menyampaikan materi,
tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang berkesan bagi peserta
didik."
Antusiasme
juga datang dari para siswa. merekamengaku senang mengikuti kegiatan karena
penyampaian materi tidak membosankan.
"Kakak-kakaknya
baik. Belajarnya sambil main game, jadi seru. Sekarang aku tahu kalau mengejek
teman itu tidak boleh."
Sementara
itu, salah seorang siswi yang lain juga mengaku mulai termotivasi untuk rajin
menabung.
"Aku
mau mulai menabung supaya nanti bisa membeli barang yang aku butuhkan sendiri.
Ternyata menabung itu penting."
Kegiatan
ini menjadi bukti bahwa kehadiran mahasiswa KPM tidak hanya menjalankan program
kerja, tetapi juga membangun ruang belajar yang inspiratif dan menyenangkan
bagi peserta didik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar
diharapkan mampu memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan literasi keuangan
sejak dini, serta menumbuhkan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas
dari perundungan.
![]() |
| Keceriaan siswa siswi dalam game yang menyenangkan |
Melalui pengabdian yang menyentuh langsung dunia pendidikan, mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna ketika hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Alfi, salah seorang mahasiswi dari kelompok 66 menegaskan “Pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi juga menjadikan mereka tumbuh sebagai manusia yang berkarakter.” Senada dengan itu, Zilda menyatakan bahwa ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat, ilmu pengetahuan berubah menjadi aksi, dan pengabdian menjadi jembatan menuju perubahan. (Hary_23/72026)
inspirasipendidikan.com – Universitas
Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo secara resmi membuka
kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tahun 2026 di Desa Bondrang,
Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Senin (13/7/2026).
Bertempat di Kantor Desa Bondrang, kegiatan pembukaan berlangsung khidmat dan
penuh semangat kolaborasi sebagai langkah awal sinergi antara perguruan tinggi,
pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pengabdian yang berdampak
nyata.
Acara
pembukaan dihadiri oleh Kepala Desa Bondrang, Baru Pria Sukaca, Ketua Badan
Permusyawaratan Desa (BPD), Larno, beserta perangkat desa. Dari pihak kampus
hadir Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Hariyanto, M.Pd. dan Septiyan
Huda Fuadi, M.E., Sy., bersama seluruh mahasiswa peserta KPM yang akan
melaksanakan pengabdian selama beberapa pekan ke depan.
Dalam
sambutannya, Kepala Desa Bondrang, Baru Pria Sukaca, menyampaikan apresiasi
atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Bondrang sebagai lokasi pelaksanaan
KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia berharap kehadiran mahasiswa
mampu menjadi mitra strategis pemerintah desa dalam mendukung berbagai program
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami
menyambut dengan penuh sukacita kehadiran mahasiswa KPM di Desa Bondrang.
Semoga mereka dapat berbaur dengan masyarakat, memahami kondisi riil desa,
serta menghadirkan inovasi dan solusi yang bermanfaat bagi kemajuan desa,”
ungkapnya.
Sementara
itu, Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy., selaku Dosen Pembimbing Lapangan,
menegaskan bahwa Kuliah Pengabdian Masyarakat merupakan implementasi nyata dari
Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada
masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi
juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan melalui program-program yang relevan
dengan kebutuhan masyarakat.
“KPM
menjadi ruang belajar yang sesungguhnya bagi mahasiswa. Mereka akan belajar
berinteraksi dengan masyarakat, memetakan potensi dan permasalahan desa, serta
merancang program yang memberikan manfaat nyata. Oleh karena itu, mahasiswa
diharapkan mampu menjaga etika, membangun komunikasi yang baik, serta menjadi
bagian dari solusi bagi masyarakat,” jelasnya.
Hal
senada disampaikan oleh Dr. Hariyanto. M.Pd, yang mengajak seluruh peserta KPM
untuk menjaga nama baik almamater serta menjadikan pengabdian sebagai media
pembelajaran yang memperkuat kompetensi akademik, sosial, dan kepemimpinan.
Pada
pelaksanaan KPM di Desa Bondrang, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok yang
ditempatkan di beberapa dusun agar pelaksanaan program lebih efektif dan
menjangkau masyarakat secara luas.
Kelompok
66 terdiri atas 15 mahasiswa yang berada di bawah bimbingan Dr. Hariyanto,
M.Pd. Kelompok ini menempati dua posko, yaitu Posko Mahasiswi di Dukuh Tengah
dan Posko Mahasiswa di Dukuh Jotangan. Sementara itu, Kelompok 67 juga
beranggotakan 15 mahasiswa/mahasiswi yang berposko di Dukuh Pethak di bawah
pendampingan Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy.
Pembagian
kelompok tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program
kerja, memperkuat pendampingan kepada masyarakat, sekaligus mempermudah
koordinasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan dosen pembimbing lapangan.
Usai
mengikuti acara pembukaan di Kantor Desa Bondrang, Kelompok 66 langsung
menggelar rapat koordinasi internal di Posko Mahasiswa Dukuh Jotangan. Rapat
tersebut membahas tindak lanjut hasil analisis kebutuhan masyarakat yang telah
dilakukan sebelumnya, penyusunan skala prioritas program kerja, pembagian tugas
antar anggota, serta strategi teknis implementasi program pengabdian selama
masa KPM.
Koordinasi
ini menjadi langkah awal untuk memastikan setiap program yang akan dilaksanakan
benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Bondrang serta dapat
diimplementasikan secara terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. Melalui
pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat (needs assessment), dengan
pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) mahasiswa diharapkan
mampu menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga
memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat desa.
Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, pelaksanaan KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo di Desa Bondrang diharapkan menjadi wadah pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa sekaligus memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mewujudkan pembangunan masyarakat yang partisipatif, inovatif, dan berkelanjutan. (HR/13/7/26)
Hari Kamis selalu terasa seperti monster bagi Queena. Bagaimana tidak? Deretan mata pelajaran mulai dari Matematika, IPA, Bahasa Jawa, PJOK, hingga TIK berjejal memaksa masuk ke kepalanya yang serasa mau pecah akibat vertigo. Bel sekolah yang berbunyi nyaring terdengar sangat kuno, seolah memanggil para siswa dari zaman Kerajaan Mataram.
Meskipun kelas Queena terkenal
berisi anak-anak ber-IQ tinggi, kelakuan mereka tetap saja khas remaja. Tidur
di kelas, malas, atau dihukum guru sudah jadi santapan harian. Bahkan langganan
disidang di ruang BK. Namun, solidaritas mereka kuat bak keluarga. Sayangnya,
kehangatan itu mendadak menguap bagi Queena begitu pelajaran Matematika dimulai.
Langkah kaki sang guru wanita yang
merangkul laptop dan buku kian mendekat.di belakangnya seorang siswa dengan
tubuh tinggi tegak membawa seperangkat kabel mengikuti. Ya, semua tahu kalau
dia adalah Mas Tama, Kakak kelas. Begitu Bu Guru duduk di kursi dan membuka
laptop, dia yang sibuk membantu untuk menyambungkan ke layar monitor kelas. Kelas mendadak ricuh, teman-teman Queena sibuk
mengatur posisi dan mematikan layar PC yang tersambung ke TV kelas. Begitu
duduk, sang guru langsung mencekoki mereka dengan rumus-rumus rumit. Queena
tidak luput diiserang dengan pertanyaan matematika yang mematikan.
Queena gelagapan menjawab. Di tengah
kepanikan tiba-tiba terdengar suara dari depan. Dengan wajah tanpa senyum, anak
itu menyindir Queena yang tampak kebingungan, “Paham gak nih... jangan
lama-lama loading-nya!”
Seketika seisi kelas menertawakannya.
Rasanya Queena ingin menghilang karena malu. Beruntung, Queena sudah terbiasa
dengan ejekan model seperti ini dari teman-teman sekelas. Untuk menenangkan
hatinya yang dongkol, Queena pura-pura tersenyum manis meskipun pahit rasaya.
Apalagi yang menyindir adalah Mas Tama, Kakak kelas yang sok pintar ini.
Sesampainya di rumah, rasa malas
membayangi Queena saat mengingat tugas Civic Education (PKn) dari guru killer
yang harus dikumpulkan besok. Namun, kantuk dan rasa malasnya mendadak buyar
saat sebuah notifikasi berdering. di layarnya, muncul nama "Mas Tama".
Mas Tama adalah kakak kelas yang semua
siswi pasti kenal. Perawakannya tinggi, berkulit sawo matang dengan senyum
manis eksotis. Nilai plusnya? Dia sangat genius di bidang Matematika, sebuah
pesona level dewa di mata Queena.
“Aku free nih, mau ngobrol
nggak?” pesan dari Mas Tama.
Tepat di saat jemari Queena gemetar
ingin membalas, sebuah pesan lain masuk. Kali ini dari Alza, cowok yang selama
ini diam-diam ditunggunya.
“Bantu aku jawab soal dong,” tulis
Alza singkat.
Queena panik. Logika dan perasaannya
bertabrakan. Dengan gugup, ia meminta saran ke grup obrolan bersama
sahabat-sahabatnya: Lucy, Veliza, Rena, dan Viska.
Respon sahabat-sahabatnya justru
sangat menohok.
"Udah jelas-jelas nggak pasti,
ngapain ditunggu?" ketus Lucy.
"Ingat, second choice
itu ngalah," tambah Viska mengingatkan bahwa Alza sering memperlakukan Queena
sebagai pilihan kedua.
Kata-kata mereka menghujam bak
pasukan gajah. Queena sadar, selama ini Alza hanya mencarinya saat butuh
bantuan tugas. Di titik akhir logikanya, Queena berbisik pada diri sendiri: “Dia
tidak sepeduli itu dengan perasaanku selama ini.”
Dengan nekat, Queena mengetik pesan
penolakan kepada Alza.
“Sorry Za, aku masih sibuk.”
Lalu, ia mengiyakan ajakan Mas Tama
untuk melakukan panggilan telepon pertama mereka.
Queena mengira obrolan dengan Mas
Tama akan terasa monoton, kaku, dan membosankan mengingat citra Mas Tama di
sekolah yang pendiam, jarang tersenyum, dan tampak tidak peka. Ia takut Mas
Tama akan sedingin Alza.
Namun, begitu suara di seberang
telepon menyapa, asumsi Queena berputar 180 derajat. Mas Tama ternyata sangat
hangat, seru, dan pendengar yang baik. Mereka tertawa bersama, berdiskusi
banyak hal, hingga membuat Queena melupakan sejenak beban tugas sekolahnya.
Di tengah asyiknya obrolan, Mas Tama
tiba-tiba berkata, “Oh iya Queen, maaf ya soal kejadian di kelas tadi Kamis.
Aku nggak bermaksud bikin kamu malu di depan anak-anak waktu mapel Matematika.”
Queena tertegun. Jantungnya serasa
berhenti. “Maksud... Mas Tama?”
“Iya, tadi siang kan aku yang masuk
ke kelasmu bareng Bu Guru buat bantu asistensi materi PC yang nyambung ke TV,”
suara Mas Tama terdengar tulus dan penuh sesal dari seberang telepon.
“Wajahku emang galak dan nggak ada
manis-manisnya kalau lagi serius ngajar. Kalimatku yang 'jangan lama-lama
loading-nya' itu murni bercanda biar kelas gak tegang, tapi aku baru sadar
kalau itu malah bikin kamu ditertawain sekelas. Maaf banget ya, Queen.”
Queena mematung di kamarnya.
Semburat merah langsung menjalar di pipinya.
Plot twist kehidupan remaja baru saja dimulai. Sosok menyebalkan yang
sepanjang hari ia umpat sebagai sok pintar di kelas Matematika, ternyata adalah
Mas Tama, kakak kelas idaman yang diam-diam dikaguminya, sekaligus cowok yang
malam ini sedang menemaninya tertawa lewat panggilan telepon.
Satu malam di telepon bersama Mas Tama telah berhasil
menjungkir balikkan dunia Queena. Kejadian hari Kamis yang semula dianggapnya
sebagai kutukan, berubah menjadi awal dari sebuah harapan baru. Hari-hari
berikutnya dilewati Queena dengan senyum yang sulit disembunyikan. Di koridor
sekolah, setiap kali berpapasan dengan Mas Tama yang bertubuh tinggi itu, ada
getaran halus yang membuat langkah kaki Queena terasa ringan. Mas Tama sesekali
memberikan anggukan kecil atau senyuman tipis, sesuatu yang dulu dianggap Queena
sebagai sikap "tak kasat rasa", namun kini terasa begitu eksklusif
hanya untuknya.
Queena merasa telah mengambil keputusan
paling tepat dalam hidup remaja awalnya: membuang Alza yang hanya datang saat
butuh, dan membuka hati untuk Mas Tama yang genius Matematika dan ternyata
penuh kehangatan.
Namun, dunia remaja memang sebuah
labirin yang kejam. Dan Queena baru saja membentur dinding paling keras.
Tepat satu minggu setelah malam telepon yang indah itu,
hari Kamis kembali datang membawa takdirnya yang dingin. Siang itu, bel
istirahat berbunyi. Queena bermaksud pergi ke perpustakaan untuk mencari
referensi tugas Civic Education
alias PKn yang mulai menumpuk lagi. Langkahnya terhenti tepat di koridor dekat
laboratorium komputer yang agak sepi.
Dari balik sekat ruangan, ia mendengar
suara tawa yang sangat ia kenal. Suara berat, lembut, dan renyah. Suara Mas
Tama.
Queena berniat mengejutkannya. Namun,
begitu ia melangkah mendekat, pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot
habis. Di sana, Mas Tama tidak sendirian. Ia sedang duduk berdua, begitu dekat
dan asyik, dengan seorang siswi bernama Nindia, siswi populer dari kelas
sebelah yang dikenal cantik, pintar, dan berprestasi.
Mas Tama sedang menatap Nindia dengan
binar mata yang belum pernah Queena lihat sebelumnya. Tangan Mas Tama bergerak
pelan, mengacak rambut Nindia dengan penuh kasih sayang, sebuah gestur yang
teramat intim.
“Kamu masih marah soal minggu lalu?”
samar-samar Queena mendengar suara Mas Tama membujuk Nindia.
“Maaf ya, kemarin aku emang lagi pusing banget karena kita
berantem. Makanya aku sengaja nyari kesibukan lain biar nggak kepikiran kamu
terus.”
Nindia mengerucutkan bibirnya, lalu
tersenyum manis.
“Terus, cewek kelas bawah yang kamu telepon semalaman itu
gimana? Kamu nggak kasihan?”
Mas Tama terkekeh, menggelengkan
kepala meremehkan.
“Queena? Ah, dia cuma anak anak remaja awal yang polos,
gampang baper. Lagian malam itu aku cuma gabut dan butuh pelarian gara-gara
kamu diemin. Mana mungkin aku serius sama anak kecil? Cinta aku kan cuma buat
kamu, Nin.”
Brak!!!
Dunia di sekitar Queena serasa runtuh.
Jiwanya seperti dihantam gada besi berwajah seribu. Kata-kata Mas Tama barusan
bukan lagi sekadar sindiran Matematika yang membuatnya malu sekelas, melainkan
belati berkarat yang ditusukkan tepat ke ulu hatinya, lalu diputar dengan
sengaja.
Queena berbalik, berlari sekencang-kencangnya menuju toilet
paling pojok sekolah. Di depan cermin, napasnya memburu, air matanya tumpah tak
terbendung. Rasa malu, kecewa, benci, dan dendam bercampur menjadi satu racun
yang pekat di dalam dadanya.
“Pelarian? Anak kecil yang gampang
baper?” Queena berbisik lirik, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
Rasa benci yang luar biasa kini
mengalir di setiap aliran darahnya. Ia membenci Mas Tama atas kepalsuan wajah
manis eksotisnya. Ia membenci Nindia yang menertawakan kepolosannya. Dan yang
paling parah, ia membenci dirinya sendiri karena begitu bodoh dan murahan
hingga mau dijadikan obat penawar sepi dari sepasang kekasih yang sedang
bertengkar.
Seketika, kata-kata pedas dari Viska
dan teman-temannya terngiang kembali di kepalanya: “Ngapain ditunggu? Second choice itu ngalah.”
Ternyata, bukan hanya Alza yang menganggapnya pilihan
kedua. Mas Tama, cowok yang ia anggap "pesona level dewa", melakukan
hal yang jauh lebih menjijikkan, menjadikannya sebuah keset pelampiasan ego.
Amarah itu mulai meracuni pikiran
sehatnya. Muncul hasrat gelap di benak Queena untuk membalas dendam. Ingin
rasanya ia mengonfrontasi mereka di depan umum, menyebarkan cerita busuk
tentang kelakuan Mas Tama, atau setidaknya membuat kekacauan yang bisa
menghancurkan reputasi Mas Tama yang sebentar lagi mau lulus. Pikiran tentang cinta
monyet ini benar-benar telah membutakannya, persis seperti ketakutannya dulu
tentang remaja sebayanya yang menghalalkan segala cara demi perasaan obsesif.
Namun, di tengah badai dendam itu,
lembaran kertas putih bergaris di dalam sakunya mendadak terjatuh ketika dia
merogoh saku untuk mengambil tisu. Itu adalah kertas tempat ia menulis puisi
dan target masa depannya. Queena tertegun melihat tulisan tangannya sendiri.
Aku adalah anak kelas unggulan ber-IQ tinggi. Aku punya
mimpi besar untuk kuliah di universitas ternama, menjadi seorang penulis hebat,
dan membuktikan pada dunia bahwa aku bukan sekadar angka di buku absen.
Dua kekuatan besar kini berperang
hebat di dalam dada remaja awal itu. Di satu sisi, perasaan hancur dan dendam
membara yang mendesaknya untuk merusak segalanya, membiarkan nilai-nilainya
hancur, dan larut dalam depresi cinta remaja yang toxic. Di sisi lain, cita-cita
dan harga diri yang berteriak mengingatkannya bahwa masa depannya terlalu mahal
untuk ditumbalkan demi seorang lelaki pengecut.
Queena membasuh wajahnya dengan air
dingin. Menatap tajam bayangannya di cermin.
“Kamu mau menghancurkan masa depanmu
hanya untuk membuktikan bahwa tebakan mereka benar? Bahwa kamu cuma anak kecil
yang lemah?” tanyanya pada diri sendiri.
Tidak. Queena menolak kalah. Kalau Mas
Tama menggunakan keahlian Matematikanya untuk meremehkan orang, maka Queena
akan menggunakan otak dan penanya untuk membalas dengan cara yang paling elegan.
Kesuksesan yang tak tergapai oleh mereka.
Queena mengambil tasnya, berjalan
keluar dari toilet dengan dagu tegak. Rasa kecewa dan benci itu tidak hilang,
perasaan itu masih ada dan amat menyakitkan, namun kini Queena telah mengubah
racun itu menjadi bahan bakar. Labirin remaja ini memang penuh jebakan, tetapi
malam ini, di atas kertas putih bergarisnya, di dalam buku diarinya, Queena tidak lagi menulis puisi cengeng
tentang cinta. Ia menulis babak baru tentang ambisinya. Meninggalkan Mas Tama
dan Alza di belakang sebagai serpihan masa lalu yang remeh.
---------
* Penulis
![]() |
| Dr. Hariyanto, M.Pd* |
Fenomena perjokian atau ghostwriting ini sangat
marak di Indonesia, bahkan tidak jarang diiklankan melalui media sosial. Tentu
saja fenomena sosial ini melahirkan profesi baru yaitu joki atau ghostwriter. Ghostwriting
tidak hanya diperuntukkan pada penulisan karya-karya ilmiah
seperti menulis buku, skripsi, tesis, desertasi, artikel ilmiah, tetapi juga
karya non ilmiah atau fiksi seperti penulisan cerpen, novel dan bentuk karya
fiksi lainnya. Dengan demikian dapat diketahui justru praktik ini sedang
melanda dalam dunia akademik, di kalangan mahasiswa, siswa, dosen, guru, atau
bahkan pejabat publik yang memiliki sumber daya ekonomi tetapi kurang memiliki
kemampuan atau tidak memiliki banyak waktu untuk menghasilkan karya tulis.
Kecurangan akademik tersebut semakin nyata apabila
kita membaca hasil riset yang berjudul predatory publishing in Scopus;
Evidence on cross-country differences oleh Vit
Machachek dan Martin Shrolek (2022) bahwa terdapat banyak jurnal termasuk dalam
Beal’s List, sebagai jurnal abal-abal. dari 172 negara di empat bidang penelitian
menunjukkan keragaman yang luar biasa. Di negara Kazakhstan dan Indonesia
sebanyak 17% dari artikel dipublikasikan dalam jurnal predator. Praktik ghostwriting
ini seolah lazim terjadi di kalangan mahasiswa, karena itu
sering kali kita jumpai mahasiswa yang secara terang-terangan membuat iklan di
status whatsappnya dengan membuka jasa pembuatan
makalah, pembuatan slide presentasi, penyusunan proposal skripsi, artikel
jurnal dan lain-lain dengan mematok tarif yang beragam.
Mengapa profesi ghostwriter ini muncul
dan semakin menggurita? Disinilah mestinya kita harus kita renungkan bersama
dengan tanpa terlebih dahulu mengkambing hitamkan ghostwriter.
Bagaimanapun harus diakui bahwa ghostwriter ini adalah
orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang tulis menulis, jika mereka
masih berstatus mahasiswa, maka bisa dikategorikan mahasiswa yang piawai dalam
menulis bahkan pandai. Fuad Fachruddin (2023) menganalisis dari dimensi ekonomi
dan psikologi. Faktor yang medasar adalah kebutuhan finansial. Para ghostwriter
ini menjual jasa demi mendapat imbalan. Sementara pengguna jasa ghostwriter
ini melakukan cara yang menodai integritas akademik demi
mendapatkan nilai atau pengakuan dari publik. Disinilah dilematiknya antara
urusan perut dan kejujuran akademik yang harus dijunjung tinggi. Mana yang akan
dipilih. Pada level perguruan tinggi,Wandayu, Purnomosidhi dan Ghofar (2019)
menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa faktor mahasiswa melakukan kecurangan
akademik adalah keyakinan etis mahasiswa,
jika mahasiswa memiliki keyakinan tinggi bahwa melakukan kecurangan akademik
merupakan tindakan yang etis atau tidak etis akan memengaruhi mahasiswa
melakukan kecurangan. Faktor lainnya adalah Tekanan mahasiswa atas studi dan
kesempatan berpengaruh terhadap niat mahasiswa melakukan kecurangan.
Menghadapi kondisi krisis integritas ini, penulis
menyodorkan beberapa hal yang bisa digunakan sebagai cara untuk mengurangi agar
krisis tidak berkelanjutan menyebar lebih dalam pada dunia akademik,
menginfeksi mahasiswa bahkan dosen, juga para pejabat atau tokoh-tokoh publik. Pertama, Menumbuhkan
kesadaran kepada para penulis dengan mengkampanyekan praktik integritas dan profesionalisme penulis. Hal ini bisa
dilakukan dengan turut memberikan ruang kepada mereka untuk menjadikan profesi
penulis tidak hanya untuk membangun literasi di Indonesia, tetapi juga dapat
memberikan bekal income yang layak
dari hasil karya tulisnya. Penghormatan terhadap hak cipta dan kepatuhan dalam
memberikan royalti kepada penulis harus ditingkatkan dan dilakukan secara
jujur. Kedua, Kampus sebagai sumber peradaban
hendaknya secara terus menerus melakukan upaya preventif agar kecurangan
akademik tidak dapat dilakukan mulai dari ruang kelas melalui tugas-tugas yang
diberikan dosen, sampai pada tugas akhir sesuai jenjang studinya. Dosen harus
dibekali dengan kompetensi untuk dapat mendeteksi kecurangan mahasiswa dalam
bentuk apapun, semua tindakan plagiasi tidak boleh ditolerir. Kompetensi dosen
ini diimbangi dengan implementasi teknologi. Hal ini diperlukan karena
mahasiswa dengan mudah menggunakan Artificial intellegencies untuk menghasilkan
karya tulisnya, mengalami ketergantungan penuh pada produk AI sehingga lambat
laun bisa kehilangan kemampuan critical thinking. Ketiga, Tugas
membangun literasi di Indonesia adalah tugas seluruh elemen bangsa, maka para
pejabat publik, tokoh masyarakat, dosen dan guru hendaknya memberikan teladan
atau contoh dengan tidak menggunakan jasa ghostwriter untuk
kepentingan popularitas pribadi, demi mendongkrak popularitas. Sebagai role
model hendaknya memiliki kemampuan menulis dan kemampuan public speaking secara
berimbang.
Menjaga integritas harus menjadi prioritas, demi membangun pendidikan di Indonesia yang lebih baik. Sebagai bangsa besar, sudah seharusnya kita merasa malu dan menjauhi perbuatan yang akan menjerumuskan lebih dalam lagi pada krisis integritas.
Oleh: Naufal Annora Ichwan*
Mungkin bagi kalangan akademisi terutama pendidik
melihat suasana kelas yang kondusif adalah sebuah kemegahan yang tak
tergantikan. Namun perlu diketahui bahwa untuk mencapai taraf tersebut
diperlukan effort besar agar tujuan dari ketenangan kelas bisa diperoleh.
Hari ini saya terjun di dunia pendidikan khususnya
dalam kegiatan perkuliahan, alhasil saya berhasil memotret berbagai problem
pengelolaan kelas yang sebetulnya ini perlu dibenahi oleh pendidik maupun
peserta didik. Salah satunya terkait penataan ruang kelas yang masih
mengedepankan cirikhas tradisional (baris), dimana banyak sekali
sekolah-sekolah yang masih mengadopsi tata letak seperti ini tanpa
mempertimbangakan implikasi dan mungkin sekolah tidak melakukan kajian terkait
penataan ini taken for granted (diterima begitu saja tanpa
digugat).
Dalam prinsip pengelolaan kelas ada beberapa unsur
yang perlu diperhatikan yaitu ;Visibility, Accesbility, Flexybility,
kenyamanan, dan keindahan. Nah, saya menganailisis penataan ruang kelas
tradisional itu membuat guru kesusahan untuk mengawasi atau memantau aktivitas
peserta didik secara intens, karena model baris sendiri sebenarnya lebih cocok
digunakan untuk proses belajar yang berfokus pada intruksi secara langsung
seperti : ceramah, ujian, atau pemberian tugas. Akan tetapi masih banyak
sekali yang menggunakan model ini untuk kegiatan belajar mengajar di tengah
gagahnya kurikulum merdeka. Padahal di zaman sekarang sudah ada pendekatan deep
learning mengharuskan pendidik untuk memberikan ruang aktif bagi peserta
didik dalam mengaktualisasikan potensinya.
Model tradisional (baris) ini juga menghambat
keleluasan guru untuk berinteraksi lebih dekat kepada muridnya, karena melihat
tatanan ruang yang sangat padat memungkinkan guru untuk tetap nyaman menerangkan
materinya di singgasananya dan yang saya amati guru / pendidik itu jarang yang
mau berkeliling atau berusaha mengeksplore habibat siswa khususnya yang tidak
bisa dijangkau (posisi duduk bisa di belakang, atau nylempit). Ini juga
didukung dengan pendidik / guru tidak punya ghiroh untuk menciptakan sebuah
gebrakan baru seperti ; mencoba model penataan ruang konsep letter U, atau
model klusterisasi (kelompok) dll. Padahal dalam penyusunan modul ajar pasti
disana sudah tertulis bagaimana guru nanti memasak berbagai metode, pendekatan,
model pembelajaran dalam pengelolaan kelas.
Di dalam buku Teaching and Learning Through
Reflective Practice karya Tony Ghaye ada kalimat yang berbunyi “ Ketika
pihak lain sedang berbicara, mereka mendengarkan dan berharap dapat belajar
dari situ. Jika pemahaman timbal balik tidak ada, orang – orang akan salah
dimengerti dan tidak dihormati,serta saling tidak percaya”. Pernah suatu Ketika
dosen saya memberikan sepercik cerita “ kadang para guru atau dosen merasa
kesusahan ketika akan mendesain ruang kelas yang notabene-nya sudah tertata
rapi oleh pihak sekolah”, karena jika di dunia perkuliahan penataan ruang fisik
bisa menjadi Pr bagi pengguna selanjutnya dan jika di lingkup sekolah mungkin menjadi
sebuah beban baru bagi wali kelas barangkali harus menata ulang kelasnya. Akan
tetapi yang saya soroti bukan beban ini, tapi bagaiman proses percakapan
reflektif bisa dirasakan secara kolektif dan murid bisa ikut andil dalam proses
belajar. Kalau kita amati terkadang kursi
depan diisi siswa yang aktif dan rajin sedangkan penghuni bangku
belakang biasanya anaknya malu-malu, atau memilih aman, atau ingin kumpul
dengan temannya (sekadar asumsi penulis). Ketika guru sudah tidak diperdulikan
maka disitulah komunikasi reflektif menjadi pertanyaan, ini sesuai dengan isi
buku diatas menekankan adanya proses menghargai dan memberikan feed back,
karena berfungsi sebagai pondasi penting dalam proses belajar mengajar.
Mungkin ini menjadi sebuah oleh – oleh bagi kalangan
akademisi khususnya bagi guru, bahwa kelas itu sebenarnya bisa menjadi wadah
kita dalam mewarnai karakter sang anak, meskipun terkadang banyak sekali
problem diluar prediksi yang terjadi di dalam kelas. Alangkah baiknya guru harus
mempunyai sebuah bumbu baru bagaimana menyesuiakan materi dengan kondisi kelas,
memanah metode dengan baik, dan mengevaluasinya secara objektif. Mengajar
memang mudah yang sulit itu menciptakan pembelajaran bermakna, berkesadaran,
dan menyenangkan. Sekolah sebaiknya juga memberikan retreatment bagi guru terutama
yang masih menggunakan metode mengajar konvensional. Kita boleh mejaga warisan
budaya nenek moyang tapi jangan sampai proses Pendidikan tidak relevan bagi generasi
masa depan.
Terakhir
penulis mengambil Kesimpulan bahwa sisi gelap itu konotasinya tak harus hal –
hal yang bersifat destruktif, akan tetapi kelas yang penuh manusia tetapi sepi
dari interaksi yang tulus adalah sebuah kegelapan yang perlu penerangan.
“Yah, kenapa luka itu rasanya lama sekali sembuh?”Suara Queena memecah sunyi di teras rumah. Gadis itu duduk memeluk lutut, memandangi langit yang mulai menguning diterpa senja. Wajahnya muram, matanya sembab seperti sudah terlalu sering menahan tangis.
Ayahnya, yang duduk di kursi kayu sambil memegang secangkir teh hangat, menoleh pelan.
“Luka yang mana?” tanyanya lembut.