f ' Kisah Raja Waskita Leksana dan Patih Garda Jaladara dari Kerajaan Kencana Arum ~ Inspirasi Pendidikan

Rabu, 12 Maret 2025

Kisah Raja Waskita Leksana dan Patih Garda Jaladara dari Kerajaan Kencana Arum

Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena H

inspirasipendidikan.com_ sahabat inspirasi pendidikan, hidup memang memiliki rahasianya sendiri. Beberapa peristiwa yang terjadi tekadang sulit untuk dipahami bahkan seringkali manusia berprasangka negatif terhadap apa yang menimpa. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan sebuah kisah inspiratif semoga bermanfaat.

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan yang rakyatnya hidup sejahtera, gemah ripah loh jinawe, tata tentrem kerta raharja. Tentu saja jika ada kerajaan yang begitu makmur kehidupan rakyatnya pastilah pemimpinnya adalah seorang yang arif bijaksana, amanah menjalankan kepemimpinannya sebagai seorang raja, dan para punggawa kerajaannya juga memiliki nasionalisme, patriotisme dan loyalitas tinggi kepada sang raja. Kerajaan itu bernama Kerajaan Kencana Arum yang dipimpin seorang raja bernama Raja Waskita Leksana. Patihnya yang pandai dan bijak, ahli strategi bidang pemerintahan dan pertahanan keamanan bernama Patih Garda Jaladara. Dua orang Petinggi kerajaan tersebut memiliki pengaruh besar dalam membentuk kerajaan yang makmur, dan wibawa mereka berdua menyebabkan para Menteri, Tumenggung dan Adipati segan, sehingga menjalankan kepemimpinannya dengan baik, tidak pernah melakukan korupsi. Selain itu, kesaktian sang Raja dan Patih yang termashur, menyebabkan kerajaan Kencana Arum disegani oleh kawan maupun lawan.

Raja Waskita Leksana dan Patih Garda Jaladara sejatinya adalah teman sejak kecil, mereka memang terlahir dari kalangan bangsawan di lingkungan keratin. Meskipun demikian, didikan dari orang tua mereka sangat baik, sehingga mereka tidak angkuh, sombong dan tetap mencintai rakyatnya. Mereka memiliki kegemaran yang sama yaitu berburu di saat ada waktu luang. Singkatnya mereka ini ibaratnya dwi tunggal. Dua orang tetapi memiliki banyak kesamaan dalam kegemaran, tata pemerintahan, strategi perang dan olah kanuragan, serta hal-hal lainnya.

Pada suatu hari, Raja Waskita Leksana bertitah,” Patih Garda Jaladara, sudah lama kita tidak pergi berburu di hutan.”

“ Benar baginda, apakah baginda bermaksud berburu di hutan lagi?” jawab sang Patih.

“Ya, saya ingin sekali berburu rusa, kelinci hutan dan hewan hutan lainnya. Pasti menyenangkan. Ya.. sekedar meregangkan otot dan melonggarkan pikiran kita dari beban memikirkan kerajaan ini walaupun hanya beberapa saat.” Kata sang Raja sambil menatap sang patih.

Patih pun menjawab, “Kalau begitu biar hamba persiapkan segala sesuatunya, para pengawal yang bertugas ikut selama berburu dan beberapa perbekalan yang akan kita perlukan nantinya.”

“Baiklah, kita berangkat besuk pagi ya, Patih juga harus ikut berburu. Jangan lupa bawa anak panah dan busur pusaka saya.” Sahut sang raja dengan sorot mata berbinar-binar.

Maka berangkatlah rombongan kerajaan tersebut. Sesampainya di dekat hutan mereka membagi kelompok tujuannya untuk mendapatkan hasil buruan yang lebih banyak. Sang Raja bersama 4 orang prajurit pengawal dan sang Patih. Kelompom prajurit lainnya menyebar ke sisi hutan lainnya. Seekor menjangan bertanduk menyelinap di antara rerimbunan pepohonan, hal itu menarik perhatian sang raja. Maka segera dia menarik brosurnya dan melesatkan anak panah ke arahnya. Tapi sayangnya meleset. Raja kemudian marah dan menyerukan para prajurit untuk mengejarnya. Tinggalah Raja dengan patihnya yang menunggu di tengah hutan terebut.

Patih membuka pembicaraan, “Baginda raja apakah engkau tidak akan memarahi para prajurit jika mereka gagal mendapatkan menjangan tersebut?”

“Tentu saja tidak, yang penting mereka sudah berusaha, nanti saya sendiri yang akan mendapatkan hewan buruan itu, bahkan binatang buas sekalipun seperti harimau bisa saya dapatkan.” Kata sang Raja sedikit jumawa.

Patih hanya mengangguk tersenyum,” Benar Baginda, tetapi ini adalah hutan lebat yang jarang disinggahi manusia, maka kita tetap harus hati-hati.”

“Santai saja, tidak usah khawatir Patih, bukankan kita sudah sering berburu di hutan ini.” tegasnya.

“oiya, patih bagaimana kalau ternyata sampai seharian ternyata kita tidak mendapatkan buruan?” tanya Raja mulai bimbang.

“Berarti itu kehendak Tuhan, dan pasti kehendak Tuhan adalah yang terbaik, Karena Tuhan begitu menyayangi hamba-Nya.” Jawab Patih penuh kebijaksanaan.

“Haah .. sudahlah, ayo kita lanjutkan lebih masuk ke dalam hutan.” Ajak Raja sambil melangkah mendahului Patih.

Tetapi beberapa saat kemudian dari arah depan, terdengar suara auman yang menggetarkan dada bagi siapa saja yang mendengarnya. Seekor hewan berbulu, besar dan kuat dengan kuku-kuku tajam, matanya tajam seolah menyala. Tidak salah lagi, seekor raja hutan, Singa hutan yang berjarak hanya 3 meter dari depan Raja dan Patih. Tiba-tiba menatap tajam dan berancang-ancang untuk melompat menerkam Raja. Sang Raja mengetahui bahaya yang akan menimpanya, maka dia pun bersiap untuk mempertahankan diri dan melawan Singa itu. Meskipun raja memiliki olah bela diri yang baik, tetapi keperkasaan Singa ini memang luar biasa, selain tubuhnya yang besar, tenaganya juga sangat kuat. Raja pun dibuat tersungkur kepalanya tercakar berdarah. Bahkan salah satu jarinya terputus karena kena gigitan taring singa.

Dia berteriak, “Patih.. Patih di mana kamu, ayo cepat bantu aku.. tolong aku..?

Anehnya Patih malah tidak terlihat, maka Raja pun harus berjuang seorang diri, dan ketika lompatan singa itu menerjang dengan kekuatan penuh ke arahnya, Raja sudah pasrah, karena panah dan busur yang dia bawa sudah tidak berarti apa-apa bagi Singa. Dan tepat ketika Singa hendak menerkam kepala Raja. Tiba-tiba sekelebat bayangan dengan cepat bergerak, semburat darah muncrat dari leher singa.

“Achh… Tamat kamu sekarang.” Patih berdiri tepat di depan raja, Tangannya mengenggam kokoh pedang yang menancap di leher Singa besar itu.

“Baginda, tidak apa?” tanya Patih gugup.

Raja mendesah kesakitan, “Kemana saja kamu Patih? ketika aku berduel dengan singa kamu malah menghilang, lihat ini jari kelingkingku hancur, kepala dan punggungku terluka parah!”
“Ampun Baginda, tadi hamba mencari pedang yang tertinggal ditempat kita singgah tadi begitu tahu kalau ada Singa yang mendekat.” Jawabnya merasa bersalah.

“Sudah-sudah, sekarang kumpulkan semua prajurit kita kembali ke Istana. Bakar kayu, keluarkan asap sebagai tanda berkumpul semua prajurit kita.” Perintahnya dengan nada marah dan menahan rasa sakit.

Sesampai di Istana, seluruh tabib istana segera mengobati Raja dengan segenap kemampuannya. Berita tentang Raja yang hampir mati ini pun tersebar dengan cepat. Para penasehat istana kemudian menyalahkan Patih, dan menyampaikan kepada Raja agar memberikan hukuman kepada Patih. Raja yang masih jengkel dan emosi itupun kemudian memanggil patih dan memberikan hukuman berupa penjara kepada Patih. Tetapi sebelum menjebloskan ke dalam penjara dia sempat bertanya kepada Patihnya.

“Patih Garda Jaladara, karena kelalaianmu menyebabkan aku hampir mati diterkam singa, maka sebagai hukuman, kamu akan aku jebloskan ke dalam penjara.” Tegas Raja Wakita Leksana.

“Hamba menerima hukuman ini baginda, hamba yakin Tuhan memiliki rencana yang baik untuk hamba dan untuk baginda sendiri.” Sahut Patih pasrah.

Hari-hari berlalu, bulan berganti bulan. Suasana kerajaan tetap seperti sebelumnya. Raja pun sudah sembuh dan kembali lagi ingin melakukan hobinya berburu lagi di hutan. Maka berangkatlah Raja dengan dikawal beberapa prajurit pilihan. Sampai di tengah hutan, mereka pun berburu hewan-hewan yang ada hingga lupa dan tersesat jauh ke dalam hutan. Bahkan Raja pun tersesat seorang diri terpisah jauh dengan para pengawalnya. Kejadian naas pun terjadi, Raja Waskita Leksana ditangkap oleh suku primitif yang tinggal di dalam hutan itu. Raja diikat dan diserahkan kepada ketua Suku. Raja akan dijadikan tumbal persembahan bagi dewa dan leluhur suku tersebut. Karena dalam kepercayaan suku itu, tumbal seorang pemuda tampan akan mendatangkan keberkahan bagi Suku mereka. Darah yang menetes akan menyuburkan tanahnya. Maka dipilihlah tumbal atau persembahan terbaik. Tetapi tepat sebelum Raja hendak dieksekusi, mata Sang Ketua Suku melihat bahwa kelingking kanan sang Raja tidak ada. Tumbal itupun cacat dan tidak akan diterima oleh dewa dan leluhur suku itu.

Ketua suku segera menginstruksikan rakyatnya untuk pergi dari altar persembahan dan mencari tumbal yang lainnya. Raja pun dibiarkan terikat di altar persembahan dan tidak bisa berkutik sama sekali. Ketika para penduduk suku primitive itu sudah semakin menjauh dan hilang diantara rimbunnya belantara. Barulah para pengawal raja menemukan dan membawanya kembali ke Istana.

Beberapa hari pasca kejadian itu, Raja sering melamun dan merenungi kejadian yang menimpanya. Dia seketika teringat ucapan patih Garda Jaladara, “Tuhan pasti memiliki rencana yang baik untuk hambanya.” Maka diapun meminta prajuritnya untuk menghadapkan patih kepadanya.

“Patih, sekarang aku menyadari, ketika itu aku marah karena kelingkungku hancur digigit singa, dan aku lampiaskan amarahku dengan menghukummu. Tapi aku berikir jika saja kelingkingku masih utuh, maka pasti aku sudah mati menjadi tumbal suku primitif  di hutan itu. Jika Tuhan tidak menghadirkan Singa itu, mungkin tidak aka nada kejadian ini.” Papar sang Raja.

“Hamba mengerti  baginda, itulah kebenaran yang hamba sampaikan.” Jawab sang Patih singkat.

“Tapi, Patih, kalau memang Tuhan itu baik kepada kita. Mengapa Tuhan membiarkan aku menghkummu?” Tanya Raja Waskita Leksana.

“Jika baginda tidak memenjarakanku, pasti baginda akan mengajak untuk berburu agi di hutan. Dan jika hamba yang tertangkap, maka hambalah yang akan menjadi tumbal persembahan suku primitive itu. Untungnya baginda memenjarakan hamba.” Jawab Patih dengan sopan

Kata-kata patih itu menyadarkan Raja, bahwa emosinya sesaat membuatnya tidak jernih menilai jasa patihnya. Tetapi ada yang lebih penting lagi dia menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya. Dan asalkan bersabar maka, hikmah kebaikan pastilah ada. Semua sudah direncanakan dengan baik, atas kehendak yang Maha penguasa. Akhirnya Patih pun dibebaskan dan jabatannya sebagai patih dikembalikan lagi.

--- Tamat----

Shakayla (Penulis)

*Penulis adalah siswi kelas VIII ICP MTs N 2 Ponorogo

0 comments:

Posting Komentar