f ' KISAH TELADAN DARI UMAR BIN KHATTAB ~ Inspirasi Pendidikan

Jumat, 28 Maret 2025

KISAH TELADAN DARI UMAR BIN KHATTAB

 Oleh: Shamita Maulida El Queena H.

Shamita: Penulis*

Assalamu’alaikum wr wb.

Hai..teman-teman semua? Apa kabar? Pasti semua sehat-sehat aja kan? Eh.. eh.. kenalan dulu ya.. namaku Shamita Maulida El Queena, Panggilanku Shamita. Saat ini, aku masih kelas 4 SDIT Qurrota A’yun Ponorogo. 

Oiya, teman-teman. kali ini aku akan bercerita tentang sahabat Nabi, yaitu Umar Bin Khattab. Ada yang sudah pernah mendengar nama beliau itu? Kisah hidup beliau penuh dengan teladan yang dapat menginspirasi umat Islam di seluruh dunia. Hayo.. penasaran kan? Begini Ceritanya…

Umar bin Khattab, adalah khalifah kedua dalam Islam setelah Rasul wafat. Baginya menjadi seorang kepala negara bukan sebuah kebanggaan yang membuatnya merasa lebih istimewa dibanding rakyat biasa, tapi ada amanah besar yang harus dilaksanakan. Salah satu langkah yang Umar lakukan untuk menegakkan keadilan adalah memastikan keadaan rakyatnya baik-baik saja di tengah paceklik yang melanda pada masa pemerintahannya. Umar sering berpatroli dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Hingga suatu malam…beliau bersama Zaid bin Aslam menemukan sebuah rumah yang didalamnya terdapat seorang ibu bersama tiga anak kecil yang semuanya sedang menangis. Diam-diam Umar bin Khattab bersama Zaid bin Aslam mendekati rumah dan mengintipnya. Ternyata… ibu tadi sedang memasak sesuatu sambil berdoa.

“Ya, Alloh, berilah balasan terhadap Umar. Ia telah berbuat dzolim. Kami rakyatnya kelaparan, sedangkan dia hidup serba berkecukupan.”

Umar seketika kaget mendengarnya,dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

“assalamu’alaikum.., boleh kami masuk bu?” kata Umar bin Khattab

“wa’alaikumsalam.. silahkan masuk. Siapa kalian” Jawab wanita itu.

 “Kami datang dari jauh bu. Mengapa anak-anak ibu menangis semua? Tanya Umar.

.”Aku dan anak-anakku kelaparan. Aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa,” terang wanita itu dengan nada sendu.

“Lalu, apa yang kau masak di panci ini?”

“Itu hanya air mendidih. Agar anak-anak mengira aku sedang memasak makanan. Dengan begitu mereka akan terhibur.”

Mendengar semua itu, Umar sangat malu, sedih, dan tentu merasa sangat berdosa. Ia pun berpamit untuk pergi dan menuju baitul mal. Ia mengambil sekarung sembako dan memanggulnya sendiri menuju kediaman wanita tadi.

“Wahai Amirul Mu’minin, turunkan bawaanmu, biar aku saja yang memikulnya,” pinta Zaid.

“Jangan, biar aku saja yang membawanya. Anggap saja aku sedang memikul dosa-dosaku, semoga ini menjadi penghalang dikabulkannya doa wanita itu tadi,” tegas Umar. Sambil memikul sekarung sembako yang begitu berat menuju rumah wanita tadi. Ia merasa berdosa.

Sesampainya di rumah wanita, Umar memberikan semua sembako itu.

“Semoga Allah memberimu balasan terbaik,” kata si wanita.

Tidak hanya sampai di situ. Umar pun ikut memasakkan untuk mereka. Setelah makanan siap, Umar mempersilakan mereka untuk menikmatinya.

 “Silakan, sekarang kalian semua bisa makan,” kata Umar, senyumnya melebar melihat wajah-wajah mereka yang tidak lagi murung.

“Ibu, mulai sekarang tidak perlu lagi mendoakan keburukan untuk Umar, ya. Mungkin dia belum mendengar kabar ada kalian kelaparan di sini,” kata Umar dengan lembut.

Wanita dan ketiga anaknya tadipun menganggukkan kepala, mereka tidak tahu bahwa yang ada di depannya adalah Khalifah Umar bin Khattab.

Nah.. teman-teman semua, begitulah ceritanya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Umar bin Khattab. Sehingga kelak apabila kita menjadi seorang pemimpin dapat adil, bijaksana dan bertanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya.

Demikianlah yang dapat saya kisahkan, semoga bermanfaat. Sampai ketemu dalam kisah-kisah teladan lainnya.

Burung irian, burung cenderawasih. Cukup sekian, terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb.

-------
Penulis adalah siswi kelas IV SDIT Qurrota A'yun Ponorogo

0 comments:

Posting Komentar