Oleh: Shamita Maulida El Queena H.
![]() |
Shamita: Penulis* |
Assalamu’alaikum
wr wb.
Hai..teman-teman
semua? Apa kabar? Pasti semua sehat-sehat aja kan? Eh.. eh.. kenalan dulu ya..
namaku Shamita Maulida El Queena, Panggilanku Shamita. Saat ini, aku masih
kelas 4 SDIT Qurrota A’yun Ponorogo.
Oiya,
teman-teman. kali ini aku akan bercerita tentang sahabat Nabi, yaitu Umar Bin
Khattab. Ada yang sudah pernah mendengar nama beliau itu? Kisah hidup beliau penuh dengan teladan yang dapat
menginspirasi umat Islam di seluruh dunia. Hayo.. penasaran kan? Begini
Ceritanya…
Umar bin
Khattab, adalah khalifah kedua dalam Islam setelah Rasul wafat. Baginya menjadi
seorang kepala negara bukan sebuah kebanggaan yang membuatnya merasa lebih
istimewa dibanding rakyat biasa, tapi ada amanah besar yang harus dilaksanakan.
Salah satu langkah yang Umar lakukan untuk menegakkan keadilan adalah memastikan
keadaan rakyatnya baik-baik saja di tengah paceklik yang melanda pada masa
pemerintahannya. Umar sering berpatroli dari satu rumah penduduk ke rumah
lainnya. Hingga suatu malam…beliau bersama Zaid bin Aslam menemukan sebuah
rumah yang didalamnya terdapat seorang ibu bersama tiga anak kecil yang
semuanya sedang menangis. Diam-diam Umar bin Khattab bersama Zaid bin Aslam
mendekati rumah dan mengintipnya. Ternyata… ibu tadi sedang memasak sesuatu
sambil berdoa.
“Ya, Alloh,
berilah balasan terhadap Umar. Ia telah berbuat dzolim. Kami rakyatnya
kelaparan, sedangkan dia hidup serba berkecukupan.”
Umar seketika
kaget mendengarnya,dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
“assalamu’alaikum..,
boleh kami masuk bu?” kata Umar bin Khattab
“wa’alaikumsalam..
silahkan masuk. Siapa kalian” Jawab wanita itu.
“Kami datang dari jauh bu. Mengapa anak-anak
ibu menangis semua? Tanya Umar.
.”Aku dan
anak-anakku kelaparan. Aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa,”
terang wanita itu dengan nada sendu.
“Lalu, apa
yang kau masak di panci ini?”
“Itu hanya air
mendidih. Agar anak-anak mengira aku sedang memasak makanan. Dengan begitu
mereka akan terhibur.”
Mendengar
semua itu, Umar sangat malu, sedih, dan tentu merasa sangat berdosa. Ia pun
berpamit untuk pergi dan menuju baitul mal. Ia mengambil sekarung sembako dan memanggulnya
sendiri menuju kediaman wanita tadi.
“Wahai Amirul
Mu’minin, turunkan bawaanmu, biar aku saja yang memikulnya,” pinta Zaid.
“Jangan, biar
aku saja yang membawanya. Anggap saja aku sedang memikul dosa-dosaku, semoga ini
menjadi penghalang dikabulkannya doa wanita itu tadi,” tegas Umar. Sambil
memikul sekarung sembako yang begitu berat menuju rumah wanita tadi. Ia merasa
berdosa.
Sesampainya di
rumah wanita, Umar memberikan semua sembako itu.
“Semoga Allah
memberimu balasan terbaik,” kata si wanita.
Tidak hanya
sampai di situ. Umar pun ikut memasakkan untuk mereka. Setelah makanan siap,
Umar mempersilakan mereka untuk menikmatinya.
“Silakan, sekarang kalian semua bisa makan,”
kata Umar, senyumnya melebar melihat wajah-wajah mereka yang tidak lagi murung.
“Ibu, mulai sekarang
tidak perlu lagi mendoakan keburukan untuk Umar, ya. Mungkin dia belum
mendengar kabar ada kalian kelaparan di sini,” kata Umar dengan lembut.
Wanita dan
ketiga anaknya tadipun menganggukkan kepala, mereka tidak tahu bahwa yang ada
di depannya adalah Khalifah Umar bin Khattab.
Nah..
teman-teman semua, begitulah ceritanya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran
dari kisah Umar bin Khattab. Sehingga kelak apabila kita menjadi seorang
pemimpin dapat adil, bijaksana dan bertanggung jawab untuk mensejahterakan
rakyatnya.
Demikianlah
yang dapat saya kisahkan, semoga bermanfaat. Sampai ketemu dalam kisah-kisah
teladan lainnya.
Burung irian,
burung cenderawasih. Cukup sekian, terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr wb.
0 comments:
Posting Komentar