f ' Inspirasi Pendidikan: Literasi Mahasiswa

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Tampilkan postingan dengan label Literasi Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2024

Mengenal Gaya Belajar dan Gaya Kognitif Peserta Didik

Oleh: Pebri Nur Khusnul Khotimah & Intan Aprillia Putri*

Setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Salah satu keunikannya adalah gaya belajar mereka. Memahami gaya belajar peserta didik merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Hal ini berfungsi agar pendidik dapat memberikan layanan sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Selain itu, dengan memahami gaya belajar peserta didik, pendidik mampu memilih dan menentukan berbagai cara dan teknik pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan setiap peserta didik sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan optimal. Selain Gaya Belajar, terdapat juga Gaya Kognitif yang juga bervariasi pada setiap peserta didik. Seorang pendidik juga diharapkan bisa mengidentifikasi gaya kognitif peserta didiknya sehingga capaian pembelajaran dapat dicapai secara maksimal. Pada artikel kali ini, akan kami kupas terkait dengan gaya belajar dan gaya kognitif peserta didik serta implementasinya dalam pembelajaran.
 
A.       Pengertian Gaya Belajar
Setiap siswa memiliki caranya masing-masing untuk mencerna informasi yang diterima di dalam kelas. Cara mencerna informasi ini disebut sebagai gaya belajar. Gaya belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa akan menentukan keberhasilan mereka dalam belajar. Dengan kata lain, gaya belajar adalah suatu metode yang digunakan untuk menyerap dan mengolah informasi maupun pengetahuan agar mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

B.        Jenis Gaya Belajar
Gaya belajar dibagi menjadi 3 bagian, yakni gaya belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Penjelasan lebih rinci dari masing-masing Gaya Belajar tersebut adalah sebagai berikut:

1)    Gaya Belajar Visual
Gaya belajar visual merupakan suatu cara pembelajaran di mana kekuatan belajar terletak pada indra penglihatan. Gaya belajar visual menitikberatkan kemampuan belajar melalui cara melihat, mengamati, dan memandang suatu objek, gambar, maupun film. Siswa dengan gaya belajar visual dapat dilihat dari karakteristik mereka yang khas. Beberapa contoh karakteristik siswa dengan gaya belajar visual seperti menyukai hal-hal yang bersifat rapi,  mengutamakan tampilan gambar dan kesesuaian warna dalam powerpoint (PPT) saat presentasi; mengingat sesuatu dari apa yang dilihatnya, lebih suka mencoret-coret buku ketika belajar, lebih suka membaca daripada dibacakan, dan lebih suka melakukan pertunjukan seperti demonstrasi daripada berpidato.

2)    Gaya Belajar Auditorial
Gaya belajar auditorial memiliki hal yang berkebalikan dengan gaya belajar visual. Gaya belajar auditorial lebih menitikberatkan kemampuan belajar pada indra pendengaran. Siswa yang memiliki gaya belajar auditorial lebih mudah untuk belajar dan mendapatkan stimulus dari suara atau penjelasan secara lisan.  Karakteristik siswa yang memiliki gaya belajar auditorial adalah mereka yang cenderung merasa terganggu dengan suasana ramai; lebih suka mengucapkan apa yang dia baca, lebih suka membaca dengan suara lantang, lebih suka berpidato daripada melakukan suatu pertunjukkan, lebih suka dibacakan,  dan lebih suka berdiskusi.

3)    Gaya Belajar Kinestetik
Gaya Belajar Kinestetik memiliki kecenderungan belajar dengan melakukan gerakan maupun menyentuh dan merasakan barang dengan indra perabanya. Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki ciri-ciri yang selalu berorientasi pada fisik, menghafal dengan cara berjalan maupun menggerakkan tangan,  mengerjakan sesuatu bersamaan dengan gerakan-gerakan ringan pada tangan,  menggunakan jari, pensil, bolpoin maupun peraga yang lain sebagai penunjuk ketika membaca,  dan tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama.
 
C.      Pengertian Gaya Kognitif
Berbeda dengan Gaya Belajar, Gaya Kognitif memiliki pengertian dan cara mengimplementasikan tersendiri. Desmita (2012) menjelaskan bahwa gaya kognitif adalah karakteristik individu dalam menggunakan fungsi kognitif (berpikir, mengingat, memecahkan masalah, dan sebagainya) yang bersifat konsisten dan lama. Pendapat lain seperti Shi (2011: 20) mendefinisikan gaya kognitif sebagai sebuah konsep psikologis yang berkaitan dengan bagaimana seorang individu memproses informasi.

D.  Jenis-Jenis Gaya Kognitif

1)    Field Dependent (FD) – Field Independent (FI)
Siswa dengan gaya kognitif FI cenderung memilih belajar individual, menanggapi dengan baik, dan bebas (tidak bergantung pada orang lain). Sedangkan, siswa yang memiliki gaya kognitif FD cenderung memilih belajar dalam kelompok dan sesering mungkin berinteraksi dengan siswa lain atau guru, memerlukan penguatan yang bersifat ekstrinsik.
 2)  Impulsif – reflektif
Merupakan gaya kognitif yang didasarkan atas perbedaan konseptual tempo yaitu perbedaan gaya kognitif berdasarkan atas waktu yang digunakan untuk merespon suatu stimulus. Orang yang memiliki gaya kognitif impulsif menggunakan alternatif-alternatif secara singkat dan cepat untuk menyeleksi sesuatu. Mereka menggunakan waktu sangat cepat dalam merespon, tetapi cenderung membuat kesalahan sebab mereka tidak memanfaatkan semua alternatif. Sedangkan, orang yang mempunyai gaya kognitif reflektif sangat berhati-hati sebelum merespon sesuatu, dia mempertimbangkan secara hati-hati dan memanfaatkan semua alternatif. Waktu yang digunakan relatif lama dalam merespon tetapi kesalahan yang dibuat relatif kecil (Rahman, 2008:461)
3) Perseptif – Reseptif
peserta didik yang perseptif dalam mengumpulkan informasi mencoba mengadakan organisasi dalam hal-hal yang diterimanya, ia menyaring informasi yang masuk dan memperhatikan hubungan-hubungan diantaranya. sedangkan peserta didik yang reseptif lebih memperhatikan detail atau perincian informasi dan tidak berusaha untuk menghubungkan informasi yang satu dengan yang lain.
4) Sistematis – intuitif
Siswa yang sistematis mencoba melihat struktur suatu masalah dan bekerja sistematis dengan data atau informasi untuk memecahkan suatu persoalan. Siswa yang intuitif langsung mengemukakan jawaban tertentu tanpa menggunakan informasi sistematis.
E.    Implementasi Gaya Belajar dan Gaya Kognitif pada Peserta Didik
1.     Implementasi Gaya Belajar
Sebelum dilaksanakan proses pembelajaran, pendidik harus mengetahui dan memahami gaya belajar dari peserta didik yang akan diajarkan. peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, oleh sebab itu sebagai pendidik perlu mengetahui dan memahami gaya belajar apa yang dimiliki peserta didik untuk lebih mudah memberikan pemahaman materi secara personal (Argarini, 2018).
1)   Peserta didik dengan gaya belajar auditori cenderung menyerap informasi pembelajaran melalui pendengaran, oleh karena itu, untuk memaksimalkan potensi peserta didik dengan gaya belajar ini adalah:
a.  Variasikan vokal saat memberikan penjelasan, seperti intonasi, volume suara, ataupun               kecepatannya.
b.  Menjelaskan materi secara berulang-ulang.
c.  Cariasikan penjelasan materi dengan menggunakan lagu.
d.  Saat belajar, biarkan peserta didik membaca secara nyaring

2)   Peserta didik dengan gaya belajar visual cenderung menggunakan indera pengelihatannya untuk memahami informasi pembelajaran. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan potensi peserta didik dengan gaya visual adalah:
a. Memberikan pembelajaran dengan menggunakan beragam bentuk grafis untuk                             menyampaikainformasi atau materi pelajaran.
b.  Gunakan gambar berwarna, grafik, tabel sebagai media pembelajaran.
c.  Pergunakan setiap gambar/tulisan/benda di dalam kelas sebagai sumber pembelajaran.
d.  Menggunakan warna untuk meng-highlight hal-hal penting.
e.  Ajak peserta didik untuk mengilustrasikan ide mereka pada gambar

3) Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik cenderung menggunakan aktivitas fisik atau  gerakan untuk memahami informasi pembelajaran. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan   potensi peserta didik dengan gaya kinestetik adalah.
a.  Jangan memaksakan anak untuk belajar berjam-jam.
b.  Mengajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya.
c.   Memberikan pembelajaran dengan cara selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak.
d. Belajar melalui pengalaman dengan menggunakan model atau alat peraga, belajar di laboratorium, dan bermain sambil belajar.
e.   Menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan.
f.    Perbanyak simulasi serta role playing.

F. Implementasi Gaya Kognitif
1) Menggunakan Pendekatan Berbasis Masalah: Guru dapat menggunakan pendekatan berbasis masalah di mana peserta didik diajak untuk mencari solusi atas masalah tertentu melalui pemikiran kritis dan analisis.
2) Penerapan Pendekatan Keterampilan Berpikir: Guru dapat mengajarkan keterampilan berpikir seperti analisis, sintesis, dan evaluasi agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
3) Penggunaan Media Interaktif: Pemanfaatan media interaktif seperti video interaktif, simulasi, atau permainan edukatif membantu peserta didik dalam mengolah informasi dengan cara yang menarik dan menantang.
4) Penggunaan Metode Diskusi dan Tanya Jawab: Diskusi dan tanya jawab melibatkan interaksi aktif antara guru dan peserta didik, yang mendorong refleksi, analisis, dan pengorganisasian informasi dalam pemahaman yang lebih mendalam.
5) Memberikan Tantangan: Memberikan tugas atau soal yang menantang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir secara mendalam dan mencari solusi kreatif. pengorganisasian informasi dalam pemahaman yang lebih mendalam.

Gaya Belajar dan Gaya Kognitif setiap peserta didik memang berbeda, maka tantangan dan tugas seorang pendidik adalah memberikan pembelajaran yang menarik bagi peserta didik dengan variasi metode pembelajaran, dan media yang sesuai. Jika Motivasi belajar sudah terbentuk, maka dimungkinkan prestasi belajar peserta didik akan meningkat.
------------
* Penulis adalah Mahasiswa Semester 1 Jurusan PAI, FTIK IAIN Ponorogo Angkatan Tahun 2024

Kamis, 28 November 2024

PERAN GURU DALAM INOVASI PENDIDIKAN

 Oleh:  Sekar Putri Hapsari*


Inovasi Pendidikan

Pendidikan adalah pilar utama dalam pembangunan masyarakat dan bangsa. Melalui pendidikan, individu tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam konteks global yang terus berkembang dengan cepat, pendidikan menghadapi tantangan baru yang kompleks. Perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, tuntutan dunia kerja, serta dinamika globalisasi memunculkan kebutuhan mendesak akan pembaharuan dan inovasi dalam dunia pendidikan. Inovasi pendidikan menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan ini, dengan memberikan pendekatan baru yang relevan, efektif, dan mampu mengakomodasi kebutuhan beragam peserta didik.

Inovasi pendidikan mencakup berbagai aspek, mulai dari perancangan kurikulum yang adaptif, pengembangan metode pembelajaran yang interaktif, hingga pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu yang memperkaya pengalaman belajar. Tidak hanya itu, inovasi pendidikan juga bertujuan untuk memastikan bahwa pendidikan menjadi inklusif, merata, dan mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, inovasi dalam pendidikan tidak hanya menjadi solusi atas tantangan saat ini, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam mempersiapkan generasi yang kompeten menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Dalam upaya merealisasikan inovasi tersebut, peran guru menjadi sangat vital.

Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pemimpin dalam proses pembelajaran yang dinamis. Guru memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta didik, merancang strategi pembelajaran yang relevan, serta mengintegrasikan teknologi dan metode baru dalam proses pengajaran. Sebagai agen perubahan, guru dituntut untuk selalu meningkatkan kompetensi profesionalnya agar mampu mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan. Di samping itu, guru juga memiliki peran strategis dalam membangun hubungan yang harmonis dengan siswa, mendorong rasa ingin tahu, serta menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat.

Selain itu, guru juga menjadi penghubung antara kebijakan pendidikan yang dirancang di tingkat pemerintah atau institusi dengan praktik nyata di dalam kelas. Inovasi pendidikan yang baik memerlukan implementasi yang efektif, dan hal ini bergantung pada kemampuan guru dalam menerjemahkan konsep-konsep inovatif ke dalam pembelajaran sehari-hari. Dengan kata lain, keberhasilan inovasi pendidikan sangat ditentukan oleh peran aktif guru sebagai penggerak utama perubahan.

Penulis mengajak pembaca secara lebih  mendalam memahami pentingnya inovasi dalam pendidikan di tengah tantangan global yang terus berkembang. Selain itu, akan diuraikan pula peran strategis guru dalam mendukung dan mengimplementasikan inovasi pendidikan, sehingga tercipta sinergi antara pembaharuan pendidikan dan profesionalisme guru. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana pendidikan yang inovatif dapat membawa dampak positif bagi pembentukan generasi masa depan yang unggul dan kompeten.

Tantangan di Era Global

Inovasi pendidikan merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern yang ditandai oleh pesatnya perubahan teknologi dan sosial. Dengan memanfaatkan pendekatan baru dan teknologi canggih, inovasi pendidikan dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.Selanjutnya apa yang dapat diberikan oleh teknologi yang semakin hebat untuk kepentingan pembelajaran/ pendidikan di sekolah. TJahjana, dkk (2021) mengemukakan gagasan pemikirannya sebagai berikut:

1)  Pengintegrasian Teknologi dalam Pembelajaran ; Pemanfaatannya dalam pendidikan menawarkan peluang yang luar biasa. Melalui pembelajaran berbasis teknologi seperti e-learning, aplikasi pendidikan, dan virtual reality, peserta didik dapat belajar dengan cara yang lebih interaktif dan mendalam (Fauzan Tasya, 2021). Penggunaan platform daring, seperti Learning Management System (LMS), juga memungkinkan personalisasi pembelajaran sehingga setiap peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajarnya masing-masing.

2)   Metode Pembelajaran Berbasis Kompetensi; Inovasi dalam metode pembelajaran, seperti project-based learning dan problem-solving learning, memungkinkan peserta didik belajar melalui pengalaman nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Misalnya, siswa dapat diberikan proyek yang membutuhkan kerja sama tim, pemecahan masalah, dan kreativitas, sehingga mereka tidak hanya menguasai teori tetapi juga memiliki keterampilan praktis. Hal ini memperkuat koneksi antara pendidikan dengan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

3)  Kurikulum yang Fleksibel dan Adaptif ; Kurikulum konvensional sering kali kaku dan sulit mengikuti perubahan zaman. Dengan inovasi, kurikulum dapat dirancang lebih fleksibel. Pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan global.

4) Inklusi dan Kesetaraan Akses Pendidikan; Inovasi pendidikan juga memungkinkan terciptanya akses yang lebih merata bagi seluruh peserta didik, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil atau memiliki kebutuhan khusus. Teknologi digital, seperti platform daring dan bahan ajar digital, dapat menjangkau siswa yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan berkualitas.

5)  Peningkatan Motivasi dan Partisipasi Peserta Didik; Inovasi yang mengintegrasikan siswa untuk belajar. Ketika siswa merasa bahwa pembelajaran relevan, menarik, dan menyenangkan, partisipasi mereka dalam proses belajar mengajar akan meningkat secara signifikan. (Zulela & Muskenia, 2021).  Melalui pendekatan ini, inovasi pendidikan memastikan bahwa pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik di era modern, sekaligus mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Peran Guru

Berdasarkan penjelasan mengenai tantangan global di atas, guru juga memiliki peran yang penting. Widyaningsih (2024) memaparkan  peran guru dalam inovasi pendidikan yaitu:

(1) Fasilitator Pembelajaran Aktif ; Sebagai fasilitator, guru memotivasi siswa untuk menjadi pembelajar mandiri dan aktif dalam mengeksplorasi pengetahuan. Winarti, Hidayati dan Sulistyoningsih (2022) berpendapat bahwa di era modern, peran guru telah bergeser dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator yang mendorong siswa untuk aktif belajar. Guru membantu siswa untuk mengakses, menganalisis, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber, termasuk teknologi.

(2) Pemimpin dan Penggerak Inovasi di Kelas; Guru bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, di mana siswa dapat belajar dengan cara yang kreatif dan kolaboratif.

(3) Pembentuk Karakter dan Budaya Inovasi; Selain mengajarkan materi akademik, guru juga berperan membangun karakter siswa yang kreatif, kritis, dan adaptif. Guru dapat menanamkan nilai-nilai seperti rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan semangat inovasi yang penting untuk kesuksesan di masa depan.

(4) Penghubung Kebijakan dan Praktik ; Guru menjadi jembatan antara kebijakan pendidikan yang dirancang di tingkat makro dan penerapannya dalam konteks mikro di kelas. Inovasi pendidikan yang digagas oleh pemerintah atau institusi pendidikan dapat berhasil jika guru mampu mengimplementasikannya secara efektif dalam pengajaran sehari-hari.

Guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagaimana disebutkan di atas, tidaklah mudah. Tantangan dan kendala pasti akan ditemui. Seperti: kurangnya pelatihan dan dukungan professional, Terbatasnya fasilitas dan infrastruktur teknologi, Beban administrasi guru yang cukup berat , resistensi terhadap perubahan yang dimiliki oleh guru dan tenaga kependidikan. Hambatan psikologis dan kepercayaan diri.  Kendala-kendala tersebut perlu diatasi oleh guru dengan berbekal kompetensi yang dimiliki, seperti kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi professional. 

Berkembangnya teknologi saat ini merupakan momentum berharga bagi guru untuk dimanfaatkan sebagai bagaian dari inovasi pendidikan. Keberhasilan inovasi pendidikan sangat bergantung pada peran aktif dan dukungan terhadap guru sebagai pelaku utama. Dengan mengatasi kendala yang ada dan menerapkan strategi yang tepat, pendidikan dapat menjadi lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan tuntutan zaman. Inovasi pendidikan bukan hanya sebuah pilihan, melainkan suatu keharusan untuk mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.

 Daftar Pustaka

David Tjahjana dkk., Digital Education Management : Innovation, Challenges and Strategies,  2021, www.diandracreative.com.

Dewi Ambarwati dkk., “Studi Literatur: Peran Inovasi Pendidikan pada Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital,” Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan 8, no. 2 (t.t.): 173–84, https://doi.org/10.21831/jitp.v8i2.43560.

Hulu Pendidikan Agama Kristen dkk., “Problematika Guru Dalam Pengembangan Teknologi dan Media Pembelajaran.”

Khalisatun Husna dkk., “Transformasi Peran Guru Di Era Digital: Tantangan Dan Peluang,” Perspektif : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Bahasa 1, no. 4 (23 November 2023): 154–67, https://doi.org/10.59059/perspektif.v1i4.694.

Ricka Muskania dan Zulela MS, “Realita Transformasi Digital Pendidikan di Sekolah Dasar  Selama Pandemi Covid-19,” Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara. Vol. 6, no. 2 (30 Januari 2021): 155–65, https://doi.org/10.29407/jpdn.v6i2.15298.

Sindi Septia Hasnida, Ridho Adrian, dan Nico Aditia Siagian, “Tranformasi Pendidikan Di Era  Digital,” Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia 2, no. 1 (18 Desember 2023): 110–16, https://doi.org/10.55606/jubpi.v2i1.2488.

Sri Widiyaningsih, “Social, Humanities, and Educational Studies SHEs: Conference Series 7  (3) (2024) 1898-1904 Peran Tenaga Pendidik Dalam Pembelajaran di Era Digital,” t.t., https://jurnal.uns.ac.id/shes.

Sri Listiyoningsih, Dian Hidayati, dan Yuni Winarti, “Strategi Guru Menghadapi Transformasi Digital,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 7, no. 2b (26 Mei 2022): 655–62, https://doi.org/10.29303/jipp.v7i2b.389.

Tasya Calvina Fauzan, “Peran Guru dalam Inovasi Pendidikan,” Seri Publikasi  Pembelajaran, vol. 1, 2021.

Yunusman Hulu Pendidikan Agama Kristen dkk., “Problematika Guru Dalam Pengembangan Teknologi dan Media Pembelajaran,” | ANTHOR: Education and Learning Journal, vol. 2, 2023.

----------------------

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia IAIN Ponorogo  Angkatan 2022

Senin, 25 Maret 2024

KOMPETENSI LITERASI DIGITAL SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS MAHASISWA DI BIDANG LITERASI

 Oleh: Ailin Aulia Febrianti Anam*

Di zaman digital ini, kecakapan literasi digital menjadi esensial bagi setiap individu, termasuk memahami mahasiswa, litrasi digital mencakup kemampuan untuk efektif untuk mengakses, memahami, serta memanfaatkan informasi dalam konteks digital. Kemampuan literasi digita mahasiswa bisa menjadi penunjuk kualitas literasi mereka karena literasi digital mencangkup segala aspek literasi seperti literasi informasi, media, dan teknologi.Literasi informasi meliputi keahlian dalam menemukan, menilai, dan mengaplikasikan informasi dengan efesien, literasi media mencagkup kemampuan dalam memahami dan menggunakan media secara kritis. Sedangkan literasi teknologi merupakan kecakapan untuk enggunakan teknologi secara aman dan efektif.

Mahasiswa yang memiliki kemampuan literasi digital yang handal dapat:
1. Mnemukan informasi yang relevan dan akurat dari berbagai sumber, baik online maupun offline.
2. Melakukan evaluasi kritis terhadap informasi untuk menilai keaslian dan kepercayaannya.
3. Memanfaatkan informasi secara efektif dalam mendukug proses pembelajaran dan riset.
4. Mengomunikasikan informasi secara efisien melalui beragam media: teks, gambar, suara dan video.
5. Berkolaborasi dengan efekif bersama orang lain melalui plattfom digital.
6. Mengamankan diri dari potensi risiko yang mugkin timbul akibat penggunaan teknologi digital.

Kemahiran-kemahiran tersebut menjadi krusial bagi mahasiswa tidak hanya sebagai pendukung proses belajar di perguruan tinggi, tetapi juga sebagai persiapan menghadapi tantangan di dunia kerja. Menurut survei yang dilakukan oleh kementrian komunikasi dan informasi (kominfo) pada tahun 2020, tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam taraf yang menengah, ini menunjukkan bahwa masih ada sejumlah besar masyarakat yang belum memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Situasinya juga sama bagi mahasiswa, di mana masih tedapat sejumlah besar mahasiswa yang belum memiliki keterampiln literasi digital yang memadai. Ini dapat diamati dari keberlangsungan penyebaran informas palsu (hoax), konten yang menyalahi hukum, dan perlaku cyberbullying yang terjadi di lingkungan mahasiswa. Maka dari itu, institusi pendidikan tinggi perlu memberikan pembelajaran mengenai literasi digital kepada mahasiswa. Pembelajaran ini bisa dilakukan melalui mata kuliah yang spesifik, program pelatihan, atau kegiatan di luar kurikulum. Dengan kemahiran literasi digital yang kuat, mahasiswa memiliki potensi untuk menjadi individu yang berkualitas dan siap menghadapi berbagai perubahan dan tantangan di zaman digital.

Literasi digital merupakan keahlian vital yang diperlukan oleh semua, terutama mahasiswa, di era digital ini di mana informasi dan teknologi digital menjadi integral dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif dalam lingkungan digital.

Kemahiran literasi digital mahasiswa bisa menjadi penanda kualitas mereka dalam literasi karena mencangkup aspek penting seperti literasi informasi, media, dan teknologi. Mahasiswa yang tampil dalam literasi digital akan cenderung memiliki ketrampilan literasi yang lebih komprehensif secara keseluruhan institusi pendidikan tinggi perlu memberikan pelajaraan literasi digital kepada mahasiswa. Hal ini membantu mereka mengembangkan kemampuan literasi digital melalui beragam cara, seperti mata kuliah tertentu, program pelatihan, atau kegiatan di luar kurikulum.  Berharap perguruan tinggi di Indonesia terus meningkatkan usahannya dalam memberikan pendidikan literasi digital kepada mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki kapasitas yang unggul dan siap untuk menghadapi perubahan yang ada di era digital.

--------  

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan MPI Angkatan 2022, IAIN Ponorogo

Minggu, 24 Maret 2024

INOVASI PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN MELALUI DIGITAL LIBRARY

 Oleh: Ahmad Mustofaina Ahyar Habibullah*

Pengembangan perpustakaan melalui digital library merupakan sebuah langkah untuk memperluas cakupan pengetahuan dan mempermudah akses bagi masyarakat. Dengan kemajuan teknologi, digital library memberikan kepada kita sebuah solusi inovatif untuk mengatasi sebuah kendala-kendala yang belum dihadapi oleh perpustakaan konvensional.

Perpustakaan digital memiliki fitur-fitur khusus untuk membedakan antara perpustakaan konvensional dengan digital library. Pertama, perpustakaan digital merupakan lembaga atau organisasi yang bertanggung jawab menyediakan akses dan mengelola informasi untuk masyarakat. Kedua, perpustakaan digital merupakan perkembangan dari perpustakaan tradisional, yang diperbarui oleh layanannya dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). perpustakaan digital akan tetap terhubung dengan konsep perpustakaan konvensional dan masih menyimpan koleksi buku dan materi secara manual. Selanjutnya, perpustakaan digital sering dijalankan oleh lebih dari satu perpustakaan, yang memiliki koleksi bahan atau sumber informasi yang unik atau lokal. Mereka akan menyediakan akses digital ke koleksi mereka masing-masing untuk memudahkan dalam mencari informasi. Terakhir, perpustakaan digital memiliki portal web untuk layanan digitalnya. Dengan adanya portal ini, pengguna dengan mudah dapat mengakses berbagai layanan digital yang ditawarkan oleh perpustakaan.

Dengan demikian, perpustakaan digital bukan hanya sekadar representasi digital, tetapi juga merupakan kemajuan yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi layanan, sambil tetap mempertahankan koneksi dengan konsep dasar perpustakaan konvensional. Salah satu aspek positif dari digital library adalah kemudahan aksesibilitas. Dengan batuan digital library ini, kita tidak perlu lagi datang ke perpustakaan untuk mencari buku. Bagi saya ini sangat menguntungkan kita bisa membaca buku dengan memagng ponsel saja, tidak khawatir apabila buku hilang atau pun rusak.

Dengan adanya berbagai format dan jenis materi yang disajikan oleh digital library memberikan pengalaman belajar yang lebih luas. Digital library ini bisa berupa Buku elektronik, rekaman audio, dan materi multimedia lainnya yang memberikan variasi lebih besar untuk pedalaman pengetahuan. Misalnya, kita dapat memilih untuk mendengarkan audio atau membaca buku elektronik, sesuai dengan preferensi dan kebutuhan belajarnya.

Kemampuan pencarian yang modern juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Kita dapat dengan mudah menemukan informasi yang mereka cari tanpa harus melalui susunan fisik buku. Dengan sistem metadata yang baik, proses pencarian menjadi lebih efisien dan akurat. kita juga perlu mempertimbangkan aspek keamanan dan privasi dalam mengadopsi digital library. Perlindungan data pengguna dan informasi sensitif harus menjadi prioritas utama untuk menghindari risiko penyalahgunaan.

Secara keseluruhan, pengembangan perpustakaan melalui digital library adalah langkah maju yang memberikan manfaat signifikan. Dengan memanfaatkan teknologi, kita dapat menciptakan perpustakaan yang lebih inklusif, dinamis, dan responsive terhadap kebutuhan Masyarakat Indonesia.

----------------------

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan MPI IAIN Ponorogo Angkatan 2022


Minggu, 11 Juni 2023

GELIAT IKATAN MAHASISWA LAMONGAN (IKAMALA) DI BUMI REOG PONOROGO

 GELIAT IKATAN MAHASISWA LAMONGAN (IKAMALA)
DI BUMI REOG PONOROGO

Mahasiswa selalu identik dengan intelektualitas, progresifitas, agent of change, dan beberapa sebutan menarik lainnya yang menggambarkan semangat jiwa muda untuk selalu bangkit membawa perubahan di manapun. Begitu juga dengan sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Lamongan (Ikamala) yang secara nasional sudah memiliki kepengurusan. Termasuk Ikamala yang berada di Kabupaten Ponorogo. Tanggal 10 Juni 2023 bisa menjadi tonggak mulai bangkitnya gerakan kemahasiswaan yang mewadahi mahasiswa asal Lamongan yang melanjutkan studi di Perguruan tinggi yang ada di Ponorogo. Bertempat di Aula kompleks Masjid Jannatul Firdaus, Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo, Ikamala mengadakan Musyawarah Besar (MUBES) untuk menentukan estafet kepemimpinan pada periode 2023-2024.

Pengurus IKAMALA Ponorogo periode 2023/2024
bersama Ketua Fornasmala dan Pembina Ikamala Ponorogo

Rangkaian MUBES tersebut dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 1630 WIB. Agenda yang dilakukan adalah pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) organisasi, Program kerja, dan dilanjutkan pemilihan ketua umum dan pelantikan pengurus baru periode 2023/2024. Istimewanya adalah Pengurus Nasional Forum Mahasiswa Lamongan juga turut hadir menghadiri perhelatan tersebut dan melantik pengurus yang dipilih secara demokratis tersebut. Dalam sambutannya Ketua Umum  Fornasmala, Muhammad Nasrullahil Aziz menyampaikan pentingnya berorganisasi, menjaga soliditas antar sesama mahasiswa di perantauan .

Pada kesempatan itu, teripilih menjadi ketua umum Ikamala Ponorogo yaitu Abdul Malik Khusaini, menggantikan Shahril Iqbal Falahi yang sudah habis masa bhaktinya. Acara yang digelar secara hikmat tersebut berlangsung gayeng dan juga dihadiri oleh Pembina Ikamala Ponorogo, yaitu Fahril Umaro, SH., MH dan Dr. Hariyanto, M.Pd .

Sebagai Pembina Ikamala, Dr. Hariyanto, M.Pd memberikan sambutan atas mubes tersebut. Dalam sambutanya disampaikan ucapan selamat dan rasa haru yang mendalam mengingat selama ini belum ada organisasi yang mengikat mahasiswa asal daerah Lamoangan. Ikamala menginisiasi dari kepemimpinan sebelumnya sampai dengan kepemimpinan yang sekarang. Karena itu beliau sangat berharap agar kepemimpinan sekarang lebih mampu mengidentifikasi mahasiswa asal Lamongan yang kuliah di Ponorogo, di semua perguruan tinggi yang ada di Ponorogo baik Perguruan Tinggu negeri maupun swasta. Penghargaan yang setinggi-tingginya juga diberikan kepada pengurus periode sebelumnya yang telah menginisiasi berdirinya Ikamala Ponorogo. Seluruh perangkat organisasi telah maksimal digerakkan melalui beberapa kegiatan, mulai kegiatan ilmiah, sampai acara buka bersama pada waktu bulan puasa dan berbagai kegiatan positif lainnya. Lebih lanjut beliau berharap agar Ikamala juga bisa menginisiasi untuk terjalinnya silaturahim orang-orang Lamongan selain mahasiswa yang sudah bertempat tinggal di Ponorogo.

Senada dengan hal itu, Pembina Ikamala Bapak Fahril Umaro, MH juga menyampaikan pesan untuk turut mempererat menjaga solidaritas dan kerukukan sesama saudara. Meskipun bukan saudara sedarah tetapi saudara sedaerah. Maka pantaslah dan menjadi kewajiban untuk saling mengingatkan, saling membantu, saling menyemangati agar tugas utama kuliah, kompetensi akademik maupun non akademik dapat dilaksanakan secara maksimal. Kagiatan yang hari ini dilakukan, antusiasme peserta yang hadir menunjukkan bahwa ada ikatan batin yang kuat untuk menyatu, jadi majlis ini merupakan wilayah ruhani karena yang hadir disini bukan karena dorongan materi, tetapi semata-mata untuk kebaikan, dan pangkal dari semua itu adalah mendapat ridho dari Alloh SWT.

Sebagai ungkapan rasa syukur atas terselenggaranya acara Mubes secara lancar, dan terpilihnya Ketua dan pengurus periode 2023/2024, dilakukan pemotongan tumpeng setelah doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Fahril,MH. Potongan tumpeng selanjutnya diberikan kepada Malik Khusaini selaku ketua Ikamala Ponorogo yang baru. Acara ditutup dengan perkenalan seluruh anggota dan sarasehan, yang didalamnya digunakan oleh seluruh anggota dan pengurus untuk saling asah, asih dan asuh.

Foto bersama jajaran pengurus Ikamala Ponorogo

Selamat untuk IKAMALA Ponorogo, semoga terus berkembang maju membawa kebermanfaat untuk mahasiswa Lamongan yang berada di Ponorogo dan bermanfaat untuk masyarakat di sekitarnya. Ingatlah selalu “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.”

"Bagi mahasiswa asal Lamongan yang kuliah di Ponorogo, di kampus manapun, Ikamala akan dengan senang hati untuk menerima bergabung menjadi saudara kami. IKAMALA Bangkit." Tegas Malik Khusaini, Ketua Ikamala Ponorogo.(HAR,  10 Juni 2023)


Senin, 29 Mei 2023

PUISI: GURU

inspirasipendidikan.com- Sahabat Inspirasi Pendidikan, berikut ini kami publikasikan sebuah puisi yang berjudul Guru.  Puisi berjudul "Guru" ini adalah karya Afrilia Eka Prasetyawati, seorang guru di sebuah sekolah menengah Kejuruan di Ponorogo. Puisi yang dilatar belakangi oleh kegelisahan dalam melihat fenomena pembelajaran saat ini, termasuk kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru. Perdebatan dalam batinnya tentang hakekat dari profesi guru dituangkannya dalam bentuk puisi "Guru".
Puisi ini mendapatkan penghargaan sebagai JUARA II TINGKAT NASIONAL dalam Lomba menulis puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Veteran Bangun Nusantara pada tanggal 21 Februari 2023. 

Penulis, Afrilia (dua dari kanan)

GURU
Karya: Afrilia Eka Prasetyawati

Gurukah aku?
Yang congkak berbangga  ilmu
Didepan murid yang dianggap dungu
Yang melangkah gagah dengan buku tebal
Didepan murid yang dianggap bebal

Gurukah aku?
Berseragam rapi 
Tampil wibawa di panggung kelas yang sepi
Di depan murid  yàng tak bernyali
Meski hanya untuk  angkat jari

Gurukah aku?
Berbicara lantang tentang pengetahuan
Yang dikarang orang dari segala zaman
Tanpa pernah menghasilkan 
Karya diri bersimpul pengalaman

Gurukah aku?
Yang berbangga dengan profesi
Mengejar sertifikasi mengumpulkan  pundi pundi
Hingga lalai makna mengabdi

Gurukah aku?
Mengajar, mendidik, menebar ilmu
Menata siswa agar luhur berperilaku
Menyiapkan, menyambung generasi 
Demi tugas dan masa depan negeri

Akukah guru? 
Pahlawan selaksa tanda jasa
Pengukir peradaban
Gurukah aku???

Ponorogo, 30 Desember 2022

Rabu, 25 Januari 2023

TIPS MEMILIH SEKOLAH DAN KAMPUS YANG IDEAL

 

Marketing atau pemasaran lazimnya disematkan untuk produk-produk barang saja, produksi, penjualan dan pemasaran barang yang dilakukan oleh perusahaan. Tidak heran beberapa strategi mereka terapkan, mulai dari pemasangan iklan, pemberian discount, promosi di website perusahaan, media sosial, dll. Biaya yang dikeluarkan pun cukup besar. Semua usaha tersebut dilakukan untuk menarik konsumen agar banyak menggunakan produk yang dipasarkan. Tujuannya adalah angka penjualan akan meningkat, dan akhirnya keuntungan yang diperoleh perusahaan juga akan meningkat.

Bagaimana dengan bidang pendidikan? apakah bidang pendidikan juga sudah bermetamorfosis menjadi bidang industri? Pertanyaan tersebut memang cukup debatable. Karena itu, cukup bijak apabila kita terlebih dulu mengesampingkan hal tersebut, dan kita telaah dari sudut pandang marketing atau pemasaran yang saat ini sangat gencar dilakukan oleh lembaga pendidikan di semua jenjang mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Selanjutnya nanti baru mengambil kesimpulan masing-masing.

Pada setiap musim Penerimaan Pesera Didik Baru (PPDB) yang jadwalnya bagi sekolah negeri ditetapkan oleh dinas pendidikan setempat, sudah mulai terasa aroma persaingan antar sekolah. Beberapa sekolah malah sudah ambil start untuk penerimaan peserta didik baru. Kebanyakan sekolah swasta yang melakukan hal ini, meskipun ada juga sekolah negeri yang mengikuti. Maklumlah eksistensi sekolah swasta ditentukan oleh faktor dominan yaitu jumlah siswa. Maka, bisa kita lihat beberapa brosur di media sosial dengan dalih nama program indent, Pra PPDB dll. Tidak cukup itu saja, Sekolah swasta juga sudah menyusun kepanitiaan PPDB sejak dimulainya tahun ajaran baru, sehingga mereka lebih leluasa untuk persiapan dan mengatur strategi. Ada juga tim yang dibentuk mulai bergerak melalui pendekatan kepada sekolah di jenjang dibawahnya. Mengadakan event berupa lomba akademik maupun non akademik. Dengan upaya ini diharapkan akan banyak calon siswa baru yang akan melanjutkan di sekolah tersebut.

Bagaimana dengan perguruan tinggi? Tentu Sekolah saja tidak jauh beda. Hanya obyek jualannya akan berbeda, sasarannya juga berbeda yaitu para siswa siswi SMA/SMK sederajat. Dalam dunia pemasaran hal-hal yang sebagaimana tersebut di atas adalah sah-sah saja, karena untuk memperkenalkan lembaga pendidikan harus secara simultan. Mari kita bandingkan kampus-kampus ternama di dunia, Harvard University, Stanford University, University of Oxford di Inggris, California Institute of Technology di Amerika Serikat yang sudah terkenal mendunia saja masih gencar melakukan promosi melalui website resmi perguruan tingginya, dan berbagai cara agar lebih dikenal oleh masyarakat dunia. Begitu juga beberapa perguruan tinggi di Indonesia, hampir semua tidak hanya menggunakan website kampus tetapi juga media sosial.

Dengan semakin banyaknya arus informasi yang beredar tentang penerimaan siswa baru/ penerimaan mahasiswa baru, hal ini kadang membuat bingung untuk menentukan mana lembaga pendidikan yang sesuai. Bagaimana siswa dan orang tua bijak memilih perguruan tinggi/ sekolah yang tepat untuk anak-anaknya? Berikut kami berikan beberapa tips:

  • Lakukan survey pendahuluan melalui website resmi sekolah/ kampus. Orang tua dapat menilai fasilitas dan kegiatan yang diupdate di website sekolah. Seperti program ekstrakurikuler, organisasi kemahasiswaan, beberapa prestasi yang pernah diperoleh oleh lembaga ataupun oleh peserta didik/ mahasiswanya;
  • Lihat SDMnya (guru/dosen/tenaga kependidikan), dengan melihat jenjang pendidikan dan kompetensi SDM yang ada di sekolah/kampus. Hal ini dapat dilihat dari beberapa karya atau penghargaan yang diperoleh oleh SDMnya.
  • Datanglah ke sekolah/ kampus, cari informasi langsung dari panitia/ kepala sekolah. Cara ini lebih baik sehingga mendapatkan gambaran yang utuh tentang sekolah/ kampus tersebut.
  • Orang tua dapat melihat jumlah siswa, dan informasi lainnya di Dapodik. Untuk perguruan tinggi bisa mengakses di PDPT (pangkalan data perguruan tinggi). Disitu dapat diperoleh informasi tentang nama dosen, latar belakang pendidikan, jumlah mahasiswa, dll.
  • Tidak dapat dipungkiri akreditasi perguruan tinggi/ program studi/ sekolah merupakan tolok ukur dari kemampuan sebuah lembaga pendidikan dalam pengelolaan pendidikan. Tentu saja dengan persepsi bahwa BANS/M, BAN PT/ LAM sudah melakukan penilaian yang obyektif sesuai dengan standar yang ditetapkan.
  • Ketika berkunjung ke sekolah/ kampus, orang tua dapat melihat fasilitas, sarana prasarana yang dimiliki untuk mendukung kegiatan pembelajaran/ perkuliahan. Pastikan semua tercukupi untuk anak anda yang akan belajar di tempat tersebut.
  • Biaya Pendidikan, ini menjadi sangat penting karena harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi. Berbagai fasilitas beasiswa biasanya ditawarkan oleh pihak sekolah/kampus. Tetapi sebagai orang tua, anda juga harus pastikan dulu bagaimana mekanisme mendapatkan beasiswa, berapa biaya pendidikan yang harus ditanggung, dll. 
  • Bagi calon mahasiswa, pastika dulu anda mengambil jurusan/ program studi yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Jangan sampai setelah masuk kuliah, kemudian menyesal dan menganggap bahwa anda salah masuk jurusan, akibatnya adalah tidak termotivasi untuk belajar.
  • Calon mahasiswa dan orang tua dapat mencari informasi kurikulum yang akan digunakan sesuai dengan jurusan yang akan diambil. Sebaran mata kuliah dan beban sks bisa menggambarkan seperangkat kompetensi yang akan diperoleh jika nanti akan kuliah di jurusan tersebut.
  • Biaya hidup dan lingkungan di sekitar kampus juga perlu diperhatikan. Hal ini penting bagi calon mahasiswa yang akan kost atau kontrak rumah jauh dari tempat tinggal/ orang tua.

Demikianlah beberapa tips yang bisa dilakukan agar mendapatkan sekolah yang ideal, sekolah/ kampus yang sesuai dengan kemampuan dan minat calon peserta didik, termasuk sesuai dengan kemampuan ekonomi orang tua.

Rabu, 04 Januari 2023

ETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN DOSEN MELALUI WHATSAPP

 


Suatu saat seorang mahasiswa nangis-nangis curhat sama temannya, gara-gara dia kirim pesan melalui WA kepada dosennya yang memprotes nilai yang didapatkannya tidak sesuai ekspektasi mahasiswa tersebut. Sang Dosen tidak terima diprotes, bahkan dengan santainya dibalas WAnya ‘Apa nilai C itu terlalu baik? Tidak apa2 saya bisa merubah menjadi D atau bahkan E.” ditulisnya dengan emoticon marah. Setelah itu mahasiswa tersebut berulang kali menghubungi dosennya via WA bahkan telephon, tetapi … zoonnk, tidak pernah diangkat teleponnya dan WA hanya di read. Nah.. bagimana tidak stress tuh mahasiswa.

Ada lagi kasus yang hampir sama menimpa mahasiswa yang lagi bimbingan skripsi, Mahasiswa tersebut meminta jadwal untuk bimbingan skripsi kepada dosen pembimbingnya tetapi tidak pernah dibalas WA nya bahkan ditemui pun sulit. padahal sebelumnya dosen ini selalu membalas WA dari mahasiswanya. Terbukti jika mahasiwa lain yang WA selalu fast respond. Wah… wah… kalau kasus seperti ini siapa yang patut disalahkan ya.. mahasiswa atau dosennya??

Sebagai mahasiswa, kalian tidak perlu galau berkepanjangan ya.. karena itu hanya menambah beban hidupmu saja. Sudah beban kuliah berat, beban ekonomi yang lagi seret karena kiriman orang tua telat, malah ditambah lagi beban mikirin dosen pembimbing dll. so take it easy ajalah jangan sampai kamu jadi stress, kalau lama-lama bisa jadi gak lulus kuliah, malah suka tertawa sendirian. Ujung-ujungnya bisa jadi mahasiswa abadi kalau menyerah.

Nah… mari kita bahas permasalahan yang sering terjadi dari perspektif bahasa ya… kata kuncinya adalah Etika dalam berkomunikasi. Etika berkomunikasi sangat diperlukan oleh semua orang terhadap lawan komunikasi. Termasuk mahasiswa yang harus tepat dalam berkomunikasi secara profesional karena setelah lulus mahasiswa akan masuk ke dunia kerja yang menuntut profesionalisme yang tinggi. Kasus-kasus tersebut di atas sebenarnya mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan baik, sopan dan santun. Komunikasi merupakan sistem aliran yang menghubungkan dan membangkitkan kinerja apa yang kita tuju.

Komunikasi adalah alat untuk melangsungkan interaksi dan bertukar pesan baik dengan dosen, orang tua, ataupun teman sejawat. Untuk komunikasi tertulis via whatsapp yang selama ini lazim dilakukan oleh mahasiswa kepada dosen atau sebaliknya, maka harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sehingga akan meminimalisir kesalahpahaman terhadap maksud pesan yang ditulis tersebut.

Berikut beberapa tips yang bisa dijadikan acuan jika menghubungi dosen melalui whatsapp:

1.  Ucapkan Salam terlebih dahulu, HP dosen kamu ibarat sebuah rumah, maka sudah selayaknya kamu mengetuk pintu terlebih dahulu dan mengucapkan salam meskipun secara tertulis.

2. Perkenalkan dirimu terlebih dahulu, jangan terlalu PD menganggap dosen menyimpan nomormu, jadi tetap perkenalkan diri, nama dari jurusan apa, kelas apa. Angkatan tahun berapa.

3.  Sampaikan maksud kamu berkirim pesan via Whatsapp. Nah.. yang ini harus cermat ya.. jangan sampai kalimat yang dikirimkan ambigu, multitafsir karena bisa berakibat fatal bagi kamu. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak perlu bertele-tele.

4.  Tutup dengan permintaan maaf, karena bisa jadi WA kamu menganggu dosen, dan jangan lupa salam lagi sebagai penutup untuk undur diri.

5.  Perhatikan waktu yang tepat dalam berkirim WA. Jika terlalu larut malam atau dini hari ketika dosen kamu istirahat/ tidur, maka itu dianggap tidak sopan.

6.   Lebih bagus lagi, jika mengirim pesannya pada waktu jam kerja.

7.  Jika dosen hanya membaca pesan kamu, tidak perlu sakit hati dulu ya.. karena bisa jadi kalimat yang kamu kirimkan bukan kalimat Tanya tapi kalimat berita. Jadi bagi dosen tidak perlu untuk dijawab. Tetapi jika kalimat Tanya dan hanya dibaca saja, maka berprasangka baik saja, karena mungkin dosen lagi ada acara atau sibuk.

8.  Mahasiswa adalah generasi millennial yang terkadang menggunakan singkatan-singkatan gaul yang hanya kalangan anak muda yang paham. Maka perhatikan juga bahwa usia dosen kamu, karena bisa jadi beliau tidak paham. Sebaiknya jangan gunakan singkatan-singkatan atau apapun yang bisa menyebabkan dosen kamu gagal paham.

9.  Jika memang kamu sangat perlu berkomunikasi langsung melalui telephon, sebaiknya kirim pesan dulu/WA untuk meminta izin apakah dosen berkenan untuk ditelepon atau tidak. jika tidak mahasiswa jangan bersikeras juga untuk telepon.

10.Untuk meminta waktu bimbingan skripsi misalnya, hindari kalimat yang terkesan mendikte dosen, seperti waktu untuk bimbingan. Misalnya: … apakah besuk jam 09.00 saya bisa menghadap bapak/ibu untuk konsultasi proposal saya pak?” Nah.. kalimat tersebut sebaiknya diganti, “… Mohon izin bapak/ ibu untuk konsultasi proposal skripsi, untuk hari dan waktunya sesuai dengan kelonggaran bapak/Ibu…atas perkenannya saya ucapkan terima kasih”

11. Perhatikan etika atau sopan santun dalam berkomunikasi, meskipun melalui WA, kamu harus menganggap bahwa kamu seperti berhadapan langsung dengan dosen. Semua demi kelancaran urusan kamu dengan dosen. Dan yang terpenting interaksi yang terbangun menjadi interaksi yang berkualitas, yang bisa membuat seluruh tugas-tugasmu sebagai mahasiswa berlangsung lancar dan sukses.

 

Selamat mencoba, semoga berhasil dan bermanfaat. Salam literasi!