f ' Inspirasi Pendidikan: Pengembangan Diri

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2025

KISAH TELADAN DARI UMAR BIN KHATTAB

 Oleh: Shamita Maulida El Queena H.

Shamita: Penulis*

Assalamu’alaikum wr wb.

Hai..teman-teman semua? Apa kabar? Pasti semua sehat-sehat aja kan? Eh.. eh.. kenalan dulu ya.. namaku Shamita Maulida El Queena, Panggilanku Shamita. Saat ini, aku masih kelas 4 SDIT Qurrota A’yun Ponorogo. 

Oiya, teman-teman. kali ini aku akan bercerita tentang sahabat Nabi, yaitu Umar Bin Khattab. Ada yang sudah pernah mendengar nama beliau itu? Kisah hidup beliau penuh dengan teladan yang dapat menginspirasi umat Islam di seluruh dunia. Hayo.. penasaran kan? Begini Ceritanya…

Umar bin Khattab, adalah khalifah kedua dalam Islam setelah Rasul wafat. Baginya menjadi seorang kepala negara bukan sebuah kebanggaan yang membuatnya merasa lebih istimewa dibanding rakyat biasa, tapi ada amanah besar yang harus dilaksanakan. Salah satu langkah yang Umar lakukan untuk menegakkan keadilan adalah memastikan keadaan rakyatnya baik-baik saja di tengah paceklik yang melanda pada masa pemerintahannya. Umar sering berpatroli dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Hingga suatu malam…beliau bersama Zaid bin Aslam menemukan sebuah rumah yang didalamnya terdapat seorang ibu bersama tiga anak kecil yang semuanya sedang menangis. Diam-diam Umar bin Khattab bersama Zaid bin Aslam mendekati rumah dan mengintipnya. Ternyata… ibu tadi sedang memasak sesuatu sambil berdoa.

“Ya, Alloh, berilah balasan terhadap Umar. Ia telah berbuat dzolim. Kami rakyatnya kelaparan, sedangkan dia hidup serba berkecukupan.”

Umar seketika kaget mendengarnya,dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

“assalamu’alaikum.., boleh kami masuk bu?” kata Umar bin Khattab

“wa’alaikumsalam.. silahkan masuk. Siapa kalian” Jawab wanita itu.

 “Kami datang dari jauh bu. Mengapa anak-anak ibu menangis semua? Tanya Umar.

.”Aku dan anak-anakku kelaparan. Aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa,” terang wanita itu dengan nada sendu.

“Lalu, apa yang kau masak di panci ini?”

“Itu hanya air mendidih. Agar anak-anak mengira aku sedang memasak makanan. Dengan begitu mereka akan terhibur.”

Mendengar semua itu, Umar sangat malu, sedih, dan tentu merasa sangat berdosa. Ia pun berpamit untuk pergi dan menuju baitul mal. Ia mengambil sekarung sembako dan memanggulnya sendiri menuju kediaman wanita tadi.

“Wahai Amirul Mu’minin, turunkan bawaanmu, biar aku saja yang memikulnya,” pinta Zaid.

“Jangan, biar aku saja yang membawanya. Anggap saja aku sedang memikul dosa-dosaku, semoga ini menjadi penghalang dikabulkannya doa wanita itu tadi,” tegas Umar. Sambil memikul sekarung sembako yang begitu berat menuju rumah wanita tadi. Ia merasa berdosa.

Sesampainya di rumah wanita, Umar memberikan semua sembako itu.

“Semoga Allah memberimu balasan terbaik,” kata si wanita.

Tidak hanya sampai di situ. Umar pun ikut memasakkan untuk mereka. Setelah makanan siap, Umar mempersilakan mereka untuk menikmatinya.

 “Silakan, sekarang kalian semua bisa makan,” kata Umar, senyumnya melebar melihat wajah-wajah mereka yang tidak lagi murung.

“Ibu, mulai sekarang tidak perlu lagi mendoakan keburukan untuk Umar, ya. Mungkin dia belum mendengar kabar ada kalian kelaparan di sini,” kata Umar dengan lembut.

Wanita dan ketiga anaknya tadipun menganggukkan kepala, mereka tidak tahu bahwa yang ada di depannya adalah Khalifah Umar bin Khattab.

Nah.. teman-teman semua, begitulah ceritanya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Umar bin Khattab. Sehingga kelak apabila kita menjadi seorang pemimpin dapat adil, bijaksana dan bertanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya.

Demikianlah yang dapat saya kisahkan, semoga bermanfaat. Sampai ketemu dalam kisah-kisah teladan lainnya.

Burung irian, burung cenderawasih. Cukup sekian, terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb.

-------
Penulis adalah siswi kelas IV SDIT Qurrota A'yun Ponorogo

Rabu, 12 Maret 2025

Kisah Raja Waskita Leksana dan Patih Garda Jaladara dari Kerajaan Kencana Arum

Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena H

inspirasipendidikan.com_ sahabat inspirasi pendidikan, hidup memang memiliki rahasianya sendiri. Beberapa peristiwa yang terjadi tekadang sulit untuk dipahami bahkan seringkali manusia berprasangka negatif terhadap apa yang menimpa. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan sebuah kisah inspiratif semoga bermanfaat.

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan yang rakyatnya hidup sejahtera, gemah ripah loh jinawe, tata tentrem kerta raharja. Tentu saja jika ada kerajaan yang begitu makmur kehidupan rakyatnya pastilah pemimpinnya adalah seorang yang arif bijaksana, amanah menjalankan kepemimpinannya sebagai seorang raja, dan para punggawa kerajaannya juga memiliki nasionalisme, patriotisme dan loyalitas tinggi kepada sang raja. Kerajaan itu bernama Kerajaan Kencana Arum yang dipimpin seorang raja bernama Raja Waskita Leksana. Patihnya yang pandai dan bijak, ahli strategi bidang pemerintahan dan pertahanan keamanan bernama Patih Garda Jaladara. Dua orang Petinggi kerajaan tersebut memiliki pengaruh besar dalam membentuk kerajaan yang makmur, dan wibawa mereka berdua menyebabkan para Menteri, Tumenggung dan Adipati segan, sehingga menjalankan kepemimpinannya dengan baik, tidak pernah melakukan korupsi. Selain itu, kesaktian sang Raja dan Patih yang termashur, menyebabkan kerajaan Kencana Arum disegani oleh kawan maupun lawan.

Raja Waskita Leksana dan Patih Garda Jaladara sejatinya adalah teman sejak kecil, mereka memang terlahir dari kalangan bangsawan di lingkungan keratin. Meskipun demikian, didikan dari orang tua mereka sangat baik, sehingga mereka tidak angkuh, sombong dan tetap mencintai rakyatnya. Mereka memiliki kegemaran yang sama yaitu berburu di saat ada waktu luang. Singkatnya mereka ini ibaratnya dwi tunggal. Dua orang tetapi memiliki banyak kesamaan dalam kegemaran, tata pemerintahan, strategi perang dan olah kanuragan, serta hal-hal lainnya.

Pada suatu hari, Raja Waskita Leksana bertitah,” Patih Garda Jaladara, sudah lama kita tidak pergi berburu di hutan.”

“ Benar baginda, apakah baginda bermaksud berburu di hutan lagi?” jawab sang Patih.

“Ya, saya ingin sekali berburu rusa, kelinci hutan dan hewan hutan lainnya. Pasti menyenangkan. Ya.. sekedar meregangkan otot dan melonggarkan pikiran kita dari beban memikirkan kerajaan ini walaupun hanya beberapa saat.” Kata sang Raja sambil menatap sang patih.

Patih pun menjawab, “Kalau begitu biar hamba persiapkan segala sesuatunya, para pengawal yang bertugas ikut selama berburu dan beberapa perbekalan yang akan kita perlukan nantinya.”

“Baiklah, kita berangkat besuk pagi ya, Patih juga harus ikut berburu. Jangan lupa bawa anak panah dan busur pusaka saya.” Sahut sang raja dengan sorot mata berbinar-binar.

Maka berangkatlah rombongan kerajaan tersebut. Sesampainya di dekat hutan mereka membagi kelompok tujuannya untuk mendapatkan hasil buruan yang lebih banyak. Sang Raja bersama 4 orang prajurit pengawal dan sang Patih. Kelompom prajurit lainnya menyebar ke sisi hutan lainnya. Seekor menjangan bertanduk menyelinap di antara rerimbunan pepohonan, hal itu menarik perhatian sang raja. Maka segera dia menarik brosurnya dan melesatkan anak panah ke arahnya. Tapi sayangnya meleset. Raja kemudian marah dan menyerukan para prajurit untuk mengejarnya. Tinggalah Raja dengan patihnya yang menunggu di tengah hutan terebut.

Patih membuka pembicaraan, “Baginda raja apakah engkau tidak akan memarahi para prajurit jika mereka gagal mendapatkan menjangan tersebut?”

“Tentu saja tidak, yang penting mereka sudah berusaha, nanti saya sendiri yang akan mendapatkan hewan buruan itu, bahkan binatang buas sekalipun seperti harimau bisa saya dapatkan.” Kata sang Raja sedikit jumawa.

Patih hanya mengangguk tersenyum,” Benar Baginda, tetapi ini adalah hutan lebat yang jarang disinggahi manusia, maka kita tetap harus hati-hati.”

“Santai saja, tidak usah khawatir Patih, bukankan kita sudah sering berburu di hutan ini.” tegasnya.

“oiya, patih bagaimana kalau ternyata sampai seharian ternyata kita tidak mendapatkan buruan?” tanya Raja mulai bimbang.

“Berarti itu kehendak Tuhan, dan pasti kehendak Tuhan adalah yang terbaik, Karena Tuhan begitu menyayangi hamba-Nya.” Jawab Patih penuh kebijaksanaan.

“Haah .. sudahlah, ayo kita lanjutkan lebih masuk ke dalam hutan.” Ajak Raja sambil melangkah mendahului Patih.

Tetapi beberapa saat kemudian dari arah depan, terdengar suara auman yang menggetarkan dada bagi siapa saja yang mendengarnya. Seekor hewan berbulu, besar dan kuat dengan kuku-kuku tajam, matanya tajam seolah menyala. Tidak salah lagi, seekor raja hutan, Singa hutan yang berjarak hanya 3 meter dari depan Raja dan Patih. Tiba-tiba menatap tajam dan berancang-ancang untuk melompat menerkam Raja. Sang Raja mengetahui bahaya yang akan menimpanya, maka dia pun bersiap untuk mempertahankan diri dan melawan Singa itu. Meskipun raja memiliki olah bela diri yang baik, tetapi keperkasaan Singa ini memang luar biasa, selain tubuhnya yang besar, tenaganya juga sangat kuat. Raja pun dibuat tersungkur kepalanya tercakar berdarah. Bahkan salah satu jarinya terputus karena kena gigitan taring singa.

Dia berteriak, “Patih.. Patih di mana kamu, ayo cepat bantu aku.. tolong aku..?

Anehnya Patih malah tidak terlihat, maka Raja pun harus berjuang seorang diri, dan ketika lompatan singa itu menerjang dengan kekuatan penuh ke arahnya, Raja sudah pasrah, karena panah dan busur yang dia bawa sudah tidak berarti apa-apa bagi Singa. Dan tepat ketika Singa hendak menerkam kepala Raja. Tiba-tiba sekelebat bayangan dengan cepat bergerak, semburat darah muncrat dari leher singa.

“Achh… Tamat kamu sekarang.” Patih berdiri tepat di depan raja, Tangannya mengenggam kokoh pedang yang menancap di leher Singa besar itu.

“Baginda, tidak apa?” tanya Patih gugup.

Raja mendesah kesakitan, “Kemana saja kamu Patih? ketika aku berduel dengan singa kamu malah menghilang, lihat ini jari kelingkingku hancur, kepala dan punggungku terluka parah!”
“Ampun Baginda, tadi hamba mencari pedang yang tertinggal ditempat kita singgah tadi begitu tahu kalau ada Singa yang mendekat.” Jawabnya merasa bersalah.

“Sudah-sudah, sekarang kumpulkan semua prajurit kita kembali ke Istana. Bakar kayu, keluarkan asap sebagai tanda berkumpul semua prajurit kita.” Perintahnya dengan nada marah dan menahan rasa sakit.

Sesampai di Istana, seluruh tabib istana segera mengobati Raja dengan segenap kemampuannya. Berita tentang Raja yang hampir mati ini pun tersebar dengan cepat. Para penasehat istana kemudian menyalahkan Patih, dan menyampaikan kepada Raja agar memberikan hukuman kepada Patih. Raja yang masih jengkel dan emosi itupun kemudian memanggil patih dan memberikan hukuman berupa penjara kepada Patih. Tetapi sebelum menjebloskan ke dalam penjara dia sempat bertanya kepada Patihnya.

“Patih Garda Jaladara, karena kelalaianmu menyebabkan aku hampir mati diterkam singa, maka sebagai hukuman, kamu akan aku jebloskan ke dalam penjara.” Tegas Raja Wakita Leksana.

“Hamba menerima hukuman ini baginda, hamba yakin Tuhan memiliki rencana yang baik untuk hamba dan untuk baginda sendiri.” Sahut Patih pasrah.

Hari-hari berlalu, bulan berganti bulan. Suasana kerajaan tetap seperti sebelumnya. Raja pun sudah sembuh dan kembali lagi ingin melakukan hobinya berburu lagi di hutan. Maka berangkatlah Raja dengan dikawal beberapa prajurit pilihan. Sampai di tengah hutan, mereka pun berburu hewan-hewan yang ada hingga lupa dan tersesat jauh ke dalam hutan. Bahkan Raja pun tersesat seorang diri terpisah jauh dengan para pengawalnya. Kejadian naas pun terjadi, Raja Waskita Leksana ditangkap oleh suku primitif yang tinggal di dalam hutan itu. Raja diikat dan diserahkan kepada ketua Suku. Raja akan dijadikan tumbal persembahan bagi dewa dan leluhur suku tersebut. Karena dalam kepercayaan suku itu, tumbal seorang pemuda tampan akan mendatangkan keberkahan bagi Suku mereka. Darah yang menetes akan menyuburkan tanahnya. Maka dipilihlah tumbal atau persembahan terbaik. Tetapi tepat sebelum Raja hendak dieksekusi, mata Sang Ketua Suku melihat bahwa kelingking kanan sang Raja tidak ada. Tumbal itupun cacat dan tidak akan diterima oleh dewa dan leluhur suku itu.

Ketua suku segera menginstruksikan rakyatnya untuk pergi dari altar persembahan dan mencari tumbal yang lainnya. Raja pun dibiarkan terikat di altar persembahan dan tidak bisa berkutik sama sekali. Ketika para penduduk suku primitive itu sudah semakin menjauh dan hilang diantara rimbunnya belantara. Barulah para pengawal raja menemukan dan membawanya kembali ke Istana.

Beberapa hari pasca kejadian itu, Raja sering melamun dan merenungi kejadian yang menimpanya. Dia seketika teringat ucapan patih Garda Jaladara, “Tuhan pasti memiliki rencana yang baik untuk hambanya.” Maka diapun meminta prajuritnya untuk menghadapkan patih kepadanya.

“Patih, sekarang aku menyadari, ketika itu aku marah karena kelingkungku hancur digigit singa, dan aku lampiaskan amarahku dengan menghukummu. Tapi aku berikir jika saja kelingkingku masih utuh, maka pasti aku sudah mati menjadi tumbal suku primitif  di hutan itu. Jika Tuhan tidak menghadirkan Singa itu, mungkin tidak aka nada kejadian ini.” Papar sang Raja.

“Hamba mengerti  baginda, itulah kebenaran yang hamba sampaikan.” Jawab sang Patih singkat.

“Tapi, Patih, kalau memang Tuhan itu baik kepada kita. Mengapa Tuhan membiarkan aku menghkummu?” Tanya Raja Waskita Leksana.

“Jika baginda tidak memenjarakanku, pasti baginda akan mengajak untuk berburu agi di hutan. Dan jika hamba yang tertangkap, maka hambalah yang akan menjadi tumbal persembahan suku primitive itu. Untungnya baginda memenjarakan hamba.” Jawab Patih dengan sopan

Kata-kata patih itu menyadarkan Raja, bahwa emosinya sesaat membuatnya tidak jernih menilai jasa patihnya. Tetapi ada yang lebih penting lagi dia menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya. Dan asalkan bersabar maka, hikmah kebaikan pastilah ada. Semua sudah direncanakan dengan baik, atas kehendak yang Maha penguasa. Akhirnya Patih pun dibebaskan dan jabatannya sebagai patih dikembalikan lagi.

--- Tamat----

Shakayla (Penulis)

*Penulis adalah siswi kelas VIII ICP MTs N 2 Ponorogo

Rabu, 26 Februari 2025

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA YANG TOXIC TERHADAP PRODUKTIVITAS KINERJA

 Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd*

Di era globalisasi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Kinerja karyawan merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Namun, kinerja karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan individu, tetapi juga oleh faktor lingkungan kerja.

Lingkungan kerja yang sehat dan positif dapat memotivasi karyawan untuk bekerja dengan lebih baik dan meningkatkan produktivitas mereka. Sebaliknya, lingkungan kerja yang toxic dapat berdampak negatif terhadap kinerja karyawan, bahkan dapat menyebabkan masalah kesehatan mental dan fisik. Lingkungan kerja yang toxic ditandai dengan adanya perilaku negatif seperti perundungan (bullying), diskriminasi, pelecehan, dan komunikasi yang buruk. Kondisi ini dapat menciptakan suasana kerja yang tidak nyaman, tidak aman, dan tidak produktif. Karyawan yang bekerja di lingkungan yang toxic cenderung merasa stres, tidak dihargai, dan tidak termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Disinilah peran kepemimpinan seharusnya mengambil peran untuk menjaga kondusifitas perusahaan. Bukan justru menjadi penyebab atau pemicu terciptanya lingkungan yang toxic tersebut.

Pendapat di atas sesuai dengan hasil sejumlah peneltian yang menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang toxic memiliki korelasi negatif dengan produktivitas kinerja. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal "Work & Stress" menemukan bahwa karyawan yang mengalami perundungan di tempat kerja memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan karyawan yang tidak mengalami perundungan. Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal "Journal of Occupational Health Psychology" menemukan bahwa lingkungan kerja yang ditandai dengan komunikasi yang buruk dan kurangnya dukungan sosial dapat menurunkan kinerja karyawan. Beberapa kasus perusahaan yang mengalami penurunan produktivitas akibat lingkungan kerja yang toxic juga telah banyak dipublikasikan. Misalnya, kasus yang terjadi di sebuah perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, di mana karyawan melaporkan adanya budaya kerja yang toxic dan diskriminatif. Akibatnya, banyak karyawan yang mengundurkan diri dan produktivitas perusahaan pun menurun drastis.

Bagaimana kita mengenali apakah lingkungan kerja sudah terkategori toxic atau lingkungan yang memiliki aura positif? Berikut ini adalah ciri-ciri lingkungan kerja yang toxic:

1            1.   Komunikasi yang Buruk:

o   Komunikasi yang tidak jelas, agresif, atau pasif-agresif dapat menciptakan ketegangan dan kebingungan di tempat kerja.

o   Kurangnya transparansi dan informasi yang tidak merata juga dapat menjadi tanda lingkungan kerja yang toxic.

o   Menurut penelitian, komunikasi yang buruk secara signifikan menurunkan kinerja karyawan.

2.    Perilaku Negatif dan Tidak Profesional:

o   Perundungan (bullying), pelecehan, diskriminasi, dan perilaku tidak etis lainnya sering terjadi di lingkungan kerja yang toxic.

o   Perilaku ini dapat menciptakan suasana kerja yang tidak aman dan tidak nyaman bagi karyawan. Para ahli psikologi organisasi telah lama mengidentifikasi bahwa tindakan perundungan di tempat kerja memiliki dampak yang sangat negatif terhadap kesehatan mental karyawan.

3.    Kurangnya Dukungan dan Kerja Sama:

o   Lingkungan kerja yang toxic sering kali ditandai dengan kurangnya dukungan dari rekan kerja dan atasan.

o   Persaingan yang tidak sehat dan kurangnya kerja sama tim dapat menciptakan suasana kerja yang tidak produktif.

o   Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial di tempat kerja sangat penting untuk kesejahteraan karyawan dan produktivitas.

4.    Atasan yang Toxic:

o   Atasan yang suka melakukan micromanaging, narsis, atau tidak adil dapat menciptakan lingkungan kerja yang sangat tidak sehat.

o   Atasan yang tidak memberikan umpan balik yang konstruktif atau tidak menghargai kontribusi karyawan juga dapat menjadi masalah.

o   Banyak riset telah mendokumentasikan dampak negatif dari kepemimpinan yang toxic terhadap kepuasan kerja dan retensi karyawan. Retensi karyawan dapat dilihat dari banyaknya karyawan yang mengundurkan diri atau berhenti. Tanda-tanda itu sudah menunjukkan bahawa ada yang tidak beres dalam kepemimpinan di perusahaan atau instansi tersebut.

5.    Kurangnya Batasan dan Keseimbangan Kerja-Hidup:

o   Lingkungan kerja yang toxic sering kali tidak menghormati batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

o   Tekanan untuk selalu terhubung dan bekerja di luar jam kerja dapat menyebabkan stres dan kelelahan.

o   Para ahli kesehatan kerja menekankan pentingnya keseimbangan kerja-hidup untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.

6.    Tidak adanya ruang untuk berkembang:

o    Karyawan merasa terjebak tanpa kemajuan, mengakibatkan frustrasi dan kekecewaan.

o    Kurangnya pengakuan terhadap prestasi.

o    Ketidakjelasan dalam rencana karier.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, apabila instansi/perusahaan sudah terjangkit beberapa gejala tersebut di atas, maka harus segera dicarikan solusi. Solusi yang ditawarkan seperti:

1. Jika penyebab lingkungan yang toxic salah satunya adalah pimpinan/ atasan, maka sebaiknya segera diganti dengan pimpinan/ manager yang lebih kompeten, visioner dan bijaksana;

2. Perusahaan perlu membangun budaya kerja yang saling menghormati, menghargai, dan mendukung;

3. Bangunlah komunikasi yang efektif dan positif antara bawahan dengan atasan, atau antar staff. Komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat;

4. Memberikan pelatihan: Pelatihan tentang anti-perundungan, anti-diskriminasi, dan komunikasi yang efektif perlu diberikan kepada seluruh karyawan;

5. Menegakkan aturan: Perusahaan perlu memiliki aturan/ kode etik yang jelas dan tegas mengenai perilaku yang tidak pantas di tempat kerja. Kode etik tersebut perlu diterapkan dengan tegas.

Lingkungan kerja yang toxic memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap produktivitas kinerja karyawan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengatasi masalah ini. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan positif, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas kinerja karyawan dan mencapai kesuksesan yang lebih besar.


 

Daftar Pustaka:

 

Einarsen, S., & Skogstad, A. (2005). The relationship between workplace bullying and psychological health. Work & Stress, 19(3), 207-221.

Michel, J. S., Kotrba, L. M., Mitchelson, J. K., Clark, M. A., & Baltes, B. B. (2011). Antecedents of work–family conflict: A meta-analytic review. Journal of Organizational Behavior, 32(5), 689-725.  

Spector, P. E., & Jex, H. C. (1998). Organizations: A social psychology perspective. John Wiley & Sons.

__________________________

* Penulis adalah Dosen di IAIN Ponorogo

Senin, 14 Oktober 2024

SHAMITA MAULIDA EL QUEENA: PENJAGA NYALA LITERASI

 

inspirasipendidikan.com_Shamita Maulida El Queena Harfianto, biasa dipanggil Shamita. Seorang anak perempuan yang berparas cantik, shalihah, energik, mudah berteman, memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal yang positif. Begitulah gambaran untuk menjelaskan tentang kepribadian siswi kelas IV SDIT Qurrota A’yun Ponorogo ini. Hebatnya lagi pada kelas IV SD ini dia sudah mengahasilkan sebuah karya buku yang diberi judul “Meniti Perjalananku”. Sebuah buku yag ditulisnya sejak di kelas 3 mengenai pengalaman-pengalaman kehidupan baik di sekolah, keluarga dan di lingkungan masyarakat.

Kepala SDIT Qurrota A’yun Ponorogo, Ibu Wijiati, S.TP., S.Pd secara khusus memberikan apresiasi kepada Shamita karena keberhasilannya menghasilkan karya buku ini, “ini sejalan dengan slogan SDIT yang dipimpinnya yaitu salah satunya membentuk generasi Literat."Tegasnya. Diharapkan karya ini menjadi pemicu dan memotivasi siswa-siswi lainnya untuk berani menulis dan mempublikasikan hasil karya tulisnya. Seperti karya Shamita yang diterbitkan oleh CV. Pustaka El Queena pada tahun 2024. Diwawancarai oleh inspirasipendidikan.com, mengenai alasan mengapa dia menulis, dia hanya menjawab,” itu kan hobbi jadi tidak bosan meskipun harus menulis berlembar-lembar, tetapi memang harus tekun dan sabar untuk menulis.” Jawabnya lugas.


Keberhasilan Shamita, yang juga aktif sebagau Jurnalis QA ini tidak lepas dari bimbingan para guru di SDIT QA dan atas dukungan kedua orang tua. Bisa dibayangkan jika semua anak setingkat SD saja sudah berani menerbitkan karyanya, berapa jumlah buku yang telah dihasilkan semua anak SD/ MI, belum lagi di jenjang SMP dan SMA/ sederajat. Dengan demikian karya-karya nyata dari para peserta didik, apapun hasilnya merupakan hasil nyata dari upaya membangun literasi di Indonesia.  Sekolah dan orang tua perlu bahu membahu bergandeng tangan untuk memotivasi peserta didik agar menghasilkan karya minimal satu karya yang dipublikasikan di setiap jenjang pendidikan. Dengan demikian siswa-siswi ini merupakan para penjaga agar semangat literasi tetap menyala dan tidak pernah padam.

Redaksi Inspirasi Pendidikan, mengucapkan selamat dan sukses untuk ananda Shamita yang telah menerbitkan bukunya, semoga karya ini menjadi pembuka bagi karya-karya berikutnya yang lebih berkualitas, dan dapat memotivasi para siswa-siswi lainnya untuk berkarya. (Hary/14/10/24)

Shamita (Penulis) bersama buku karyanya

Jumat, 06 September 2024

BERKACA PADA KESUKSESAN J.K. ROWLING

J.K. Rowling, nama yang tak asing lagi bagi pecinta buku dan film fantasi, memiliki masa kecil yang penuh dengan imajinasi dan tantangan. Lahir dengan nama Joanne Rowling pada tanggal 31 Juli 1965 di Yate, Inggris, ia memiliki seorang adik perempuan bernama Dianne. Sejak kecil, Rowling sudah menunjukkan kecintaannya pada buku dan imajinasinya yang luar biasa. Ia sering menulis cerita-cerita pendek dan bahkan membuat buku pertamanya pada usia enam tahun. Namun, masa kecil Rowling tidak selalu mudah. Pada usia empat tahun, keluarganya pindah ke Winterbourne, Gloucestershire. Di sana, ia bersekolah di Sekolah Dasar St Michael. Saat Rowling berusia sembilan tahun, orang tuanya membeli Church Cottage yang bersejarah di Tutshill. Pada tahun 1990, ibu Rowling meninggal dunia akibat penyakit sklerosis multipel. Kejadian ini sangatlah memukul Rowling, dan ia sempat merasa putus asa.

Kehidupan yang dialaminya juga tidaklah mudah. Rowling menjadi ibu tunggal setelah perceraiannya, dan hidup bersama putrinya dengan kondisi keuangan yang serba kekurangan. Ia bahkan harus menulis di kafe sambil mengasuh anaknya karena tak mampu membeli komputer. Namun, Rowling tak menyerah pada mimpinya. Ia terus menulis naskah Harry Potter di tengah segala keterbatasan. Naskahnya ditolak berkali-kali oleh penerbit, namun ia tak patah semangat. Akhirnya, pada tahun 1997, Bloomsbury menerbitkan buku pertamanya, Harry Potter dan Batu Bertuah. Buku ini menjadi fenomena global, dan mengantarkan Rowling menjadi salah satu penulis terkaya di dunia. Beberapa serial buku Harry Potter juga teah di filmkan yang membuat J.K Rowling semakin terkenal dan lebih produktif lagi dalam menghasilkan karya tulisnya. Beberapa buku sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk ke dalam Bahasa Indonesia. antara lain:

Seri Harry Potter:

  • Harry Potter dan Batu Bertuah (1997) 
  • Harry Potter dan Kamar Rahasia (1998)
  • Harry Potter dan Tawanan Azkaban (1999)
  • Harry Potter dan Piala Api (2000)
  • Harry Potter dan Orde Phoenix (2003)
  • Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran (2005)
  • Harry Potter dan Relikui Kematian (2007)
  • Hewan-hewan Fantastis dan Di Mana Menemukannya (2001)
  • Quidditch dari Masa ke Masa (2001)
  • The Tales of Beedle the Bard (2008)
  • The Casual Vacancy (2012) (di bawah nama samaran Robert Galbraith)
  • The Cuckoo's Calling (2013) (di bawah nama samaran Robert Galbraith)
  • Silkworm (2014) (di bawah nama samaran Robert Galbraith)
  • Career of Evil (2015) (di bawah nama samaran Robert Galbraith)
  • Lethal White (2018) (di bawah nama samaran Robert Galbraith)
  • Trouble in Blood (2020) (di bawah nama samaran Robert Galbraith)
  • The Ickabog (2020)
  • The Christmas Pig (2021)
  • Very Good Lives: Three Short Stories (2015)
  • Kika and the Witch's Kick (2022)
Buku-Buku Lainnya:

Berdasarkan cerita singkat tentang J.K Rowling ini, memberikan inspirasi kepada kita untuk pantang menyerah. Sebagai penulis ketika ditolak penerbit berkali-kali, maka tulislah lagi agar lebih produktif. Ketekunan dan kerja keras menjadi pendorong agar tulisan-tulisan atau karya tulis dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembacanya. Kreativitas dan imajinasi perlu dikembangkan dan dilatih, selanjutnya berbekal kreativitas dan imajinasi tersebut, akan dapat menghasilkan karya tulis yang berbeda dengan yang lain. Kisah J.K. Rowling adalah bukti bahwa keajaiban bisa terjadi bila kita percaya pada diri sendiri dan tidak pernah berhenti berusaha.

Buku-Buku Non Fiksi:
Apa yang menjadi kunci keberhasilan dari J.K Rowling sehingga bisa menjadi penulis berkelas internasional dan menghasilkan pundi-pundi yang luar biasa dengan menekuni profesi sebagai penulis? Berikut hal-hal positif yang dapat kita adopsi jika ingin menjadi seorang penulis sukses:
Ketekunan dan Disiplin: Rowling tidak pernah menyerah pada mimpinya untuk menjadi penulis. Meskipun ditolak berkali-kali oleh penerbit, ia terus menulis dan menyempurnakan karyanya. Ia juga memiliki disiplin yang tinggi dalam menulis, dan selalu berusaha untuk menyelesaikan targetnya.
Kreativitas dan Imajinasi: Rowling memiliki imajinasi yang luar biasa, yang ia tuangkan dalam cerita-ceritanya yang menarik dan penuh dengan keajaiban. Ia mampu menciptakan dunia yang unik dan karakter yang disukai oleh banyak orang.

Etos Kerja yang Kuat: Rowling dikenal sebagai penulis yang sangat pekerja keras. Ia menghabiskan banyak waktu untuk menulis dan menyempurnakan karyanya. Ia juga sering bangun pagi dan menulis di kafe sebelum mengantar putrinya ke sekolah.

Kemampuan Bercerita yang Baik: Rowling adalah seorang pendongeng yang ulung. Ia mampu menceritakan kisahnya dengan cara yang menarik dan memikat para pembacanya. Ia juga pandai dalam membangun plot dan karakter yang kompleks.

Semangat untuk Belajar: Rowling selalu ingin belajar dan meningkatkan kemampuannya sebagai penulis. Ia sering mengikuti kelas menulis dan membaca buku-buku tentang penulisan.

Dukungan Orang Terdekat: Rowling beruntung memiliki orang-orang terdekat yang selalu mendukungnya. Ibunya dan putrinya selalu mendorongnya untuk terus berkarya dan tidak menyerah pada mimpinya.

Keberanian untuk Mengambil Risiko: Rowling berani untuk mengambil risiko dengan menerbitkan bukunya secara swadaya setelah ditolak oleh banyak penerbit. Keputusannya ini terbukti tepat, dan bukunya akhirnya menjadi fenomena global.
Rasa Syukur dan Kedermawanan: Rowling selalu bersyukur atas kesuksesannya. Ia telah menyumbangkan banyak uang untuk berbagai kegiatan amal, termasuk untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung.



Rabu, 24 Juli 2024

MENELADANI SIKAP KENEGARAWANAN DARI BUNG HATTA

 Oleh: Hariyanto

Sahabat inspirasi pendidikan, kali ini kami akan berbagi inspirasi dari kisah seorang proklamator Indonesia, Mohammad Hatta, yang akrab disapa Bung Hatta. Beliau lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 12 Agustus 1902. Sejak kecil, beliau dididik dalam lingkungan keluarga yang taat beragama dan cinta tanah air. Hatta muda menunjukkan kecerdasan dan kegigihannya dalam belajar.

Pada tahun 1916, Hatta melanjutkan pendidikannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Padang. Di sanalah ia mulai aktif dalam pergerakan pemuda dan mendirikan organisasi Jong Sumatranen Bond. Pada tahun 1921, Hatta mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda. Di Negeri Belanda, beliau aktif dalam organisasi Perhimpunan Hindia (PI) dan menerbitkan majalah "Indonesia" yang kritis terhadap kolonialisme Belanda.

Hatta meraih gelar Doctor in de Staatswetenschappen (Doktor Ilmu Pengetahuan Negara) dari Universitas Erasmus Rotterdam pada tahun 1932. Disertasinya yang berjudul "De Volkenrechtkundige Positie van West-Nieuw Guinea (Kedudukan Hukum Internasional Irian Barat)" menjadi rujukan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1932, Hatta semakin aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Bersama tokoh-tokoh nasional lainnya seperti Soekarno, beliau mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927. Hatta juga aktif dalam berbagai organisasi pergerakan lainnya, seperti Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dan Volksraad (Dewan Rakyat). Beliau dikenal sebagai orator ulung dan pemikir yang cerdas, dan pemikirannya tentang ekonomi kerakyatan dan koperasi sangat berpengaruh pada perkembangan bangsa.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, bersama Mohammad Soekarno, Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Beliau kemudian ditunjuk sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia dalam Kabinet Indonesia Merdeka. Selama masa jabatannya sebagai Wakil Presiden, Hatta memainkan peran penting dalam berbagai bidang, termasuk:
  • Perundingan Kemerdekaan: Hatta berunding dengan Belanda dalam berbagai perundingan penting, seperti Konferensi Meja Bundar tahun 1949, yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia.
  • Pembangunan Ekonomi: Hatta merumuskan berbagai kebijakan ekonomi untuk membangun Indonesia yang sejahtera, seperti sistem ekonomi kerakyatan dan koperasi.
  • Politik Luar Negeri: Hatta aktif dalam politik luar negeri dan memperjuangkan kemerdekaan negara-negara lain di Asia Afrika.

Sikap Kenegarawanan

Salah satu aspek yang paling menonjol dari kepribadian Hatta adalah sikapnya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kenegarawanan. Sebagai seorang negarawan, Hatta selalu menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Ia memiliki visi yang jelas tentang arah pembangunan Indonesia dan selalu berusaha untuk mewujudkannya dengan cara-cara yang bijaksana dan penuh tanggung jawab.

Hatta adalah sosok yang sangat sederhana dan rendah hati. Meskipun menduduki posisi penting dalam pemerintahan, ia tidak pernah memamerkan kekuasaannya atau bersikap sombong. Sebaliknya, ia selalu bersikap terbuka dan mudah bergaul dengan rakyat. Hatta juga dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin dan konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil presiden.

Salah satu contoh nyata dari sikap kenegarawanan Hatta adalah ketika ia menolak untuk menjadi presiden setelah Soekarno lengser pada tahun 1966. Pada saat itu, Hatta menyadari bahwa kondisi negara sedang mengalami krisis yang sangat berat, dan ia merasa bahwa dirinya tidak lagi memiliki kapasitas yang cukup untuk memimpin negara. Alih-alih mempertahankan kekuasaannya, Hatta justru memilih untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk memimpin Indonesia.

Sikap Hatta yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi ini sangat patut untuk diteladani oleh generasi muda Indonesia saat ini. Di tengah maraknya praktik korupsi dan nepotisme di kalangan elit politik, sikap Hatta yang jujur, sederhana, dan berintegritas tinggi menjadi cermin bagi para pemimpin masa kini untuk kembali menjunjung tinggi nilai-nilai kenegarawanan.

Selain itu, Hatta juga dikenal sebagai seorang pemikir yang visioner dan progresif. Ia memiliki gagasan-gagasan yang jauh melampaui zamannya, terutama dalam bidang ekonomi. Hatta adalah salah satu arsitek ekonomi kerakyatan yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan ekonomi Indonesia. Ia menentang keras kapitalisme dan imperialisme ekonomi yang dianggap merugikan kepentingan rakyat.

Dalam bidang politik, Hatta juga dikenal sebagai seorang demokrat sejati. Ia memperjuangkan demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang paling sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Hatta percaya bahwa demokrasi dapat menjadi sarana bagi rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan negara.

Pengunduran Diri Sebagai Wakil Presiden

Sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran dua tokoh penting yang menjadi arsitek kemerdekaan negara ini, yaitu Mohammad Hatta dan Soekarno. Meskipun keduanya memiliki visi dan pendekatan yang berbeda dalam memimpin, hubungan antara Hatta dan Soekarno telah melalui pasang surut yang menarik untuk dicermati. Masa Awal Kemerdekaan dan Kerja Sama Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Hatta dan Soekarno bekerja sama erat dalam membangun fondasi negara baru ini. Sebagai Wakil Presiden, Hatta berperan penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Soekarno sebagai Presiden. Keduanya saling melengkapi, dengan Hatta yang lebih berfokus pada pembangunan ekonomi dan tata kelola pemerintahan, sementara Soekarno menjadi sosok yang karismatik dan mampu memobilisasi massa.

Meskipun pada awalnya bekerja sama dengan baik, perbedaan pandangan dan ideologi antara Hatta dan Soekarno mulai muncul ke permukaan seiring dengan perkembangan situasi politik di Indonesia. Hatta, yang lebih moderat dan pragmatis, mulai merasa khawatir dengan kecenderungan Soekarno yang semakin otoriter dan cenderung ke kiri. Sementara itu, Soekarno melihat Hatta sebagai sosok yang terlalu konservatif dan tidak sejalan dengan perjuangan revolusioner.

Pengunduran Diri dari Wakil Presiden Puncak dari perbedaan pandangan antara Hatta dan Soekarno terjadi pada tahun 1956, ketika Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden. Hatta merasa bahwa posisinya semakin terpinggirkan dan tidak lagi memiliki pengaruh yang signifikan dalam pengambilan keputusan penting. Ia juga menilai bahwa Soekarno semakin menjauh dari prinsip-prinsip demokrasi dan cenderung mengarah ke sistem pemerintahan yang otoriter.

Dampak Pengunduran Diri Hatta Keputusan Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden memiliki dampak yang sangat signifikan bagi perkembangan politik Indonesia. Kepergian Hatta dari panggung politik nasional meninggalkan kekosongan yang sulit diisi, terutama dalam hal kepemimpinan yang moderat dan pragmatis. Soekarno, yang kini menjadi satu-satunya pemimpin utama, semakin leluasa dalam menerapkan kebijakan-kebijakan yang cenderung otoriter dan ideologis.

Refleksi dan Pembelajaran Hubungan antara Hatta dan Soekarno, dengan segala dinamikanya, menjadi cermin bagi kita untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan dan saling menghargai dalam kepemimpinan nasional. Perbedaan pandangan dan ideologi memang tidak dapat dihindari, namun hal tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan perpecahan yang merugikan bagi bangsa. Pembelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Hatta dan Soekarno adalah pentingnya menjaga kompromi, dialog, dan komitmen bersama dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

Mohammad Hatta wafat di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Beliau dikenang sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berjasa besar dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa. Pemikiran dan karya Mohammad Hatta masih relevan hingga saat ini. Beliau adalah sosok yang visioner, cerdas, dan berintegritas tinggi. Semangatnya untuk memperjuangkan kemerdekaan, keadilan sosial, dan demokrasi patut diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Meneladani sikap kenegarawanan Hatta menjadi sangat penting bagi generasi muda Indonesia saat ini. Di tengah berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa, kehadiran sosok-sosok teladan seperti Hatta dapat menjadi inspirasi bagi para pemimpin masa depan


Selasa, 23 Juli 2024

BUYA HAMKA; ULAMA, CENDEKIAWAN, DAN SASTRAWAN YANG CINTA TANAH AIR

Buya Hamka
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang populer dengan nama Buya Hamka, adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan terkemuka Indonesia. Lahir di Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Februari 1908, Buya Hamka dikenal sebagai sosok multitalenta yang berkontribusi besar dalam berbagai bidang, termasuk agama, pendidikan, dan kesusastraan. 

Sejak kecil, Buya Hamka telah dididik dalam lingkungan keluarga yang religius. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), merupakan seorang ulama besar dan pelopor Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau. Buya Hamka tidak mengenyam pendidikan formal secara teratur. Namun, beliau memiliki semangat belajar yang tinggi dan banyak membaca buku-buku agama, filsafat, dan sastra. Beliau juga pernah berguru kepada beberapa ulama ternama di Minangkabau, seperti Syekh Abdullah Batuah dan Syekh Muhammad Jamil Jambek.

Buya Hamka memulai karirnya sebagai jurnalis di berbagai surat kabar dan majalah, seperti Soeara Oemoem, Fajar Asia, dan Pedoman Masyarakat. Tulisan-tulisannya yang tajam dan penuh semangat mencerminkan pemikiran Islam yang moderat dan kritis terhadap penjajahan Belanda. Pada tahun 1937, Buya Hamka mendirikan Majalah Pembela Islam, yang menjadi salah satu media massa Islam paling berpengaruh di Indonesia. Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi Islam, seperti Muhammadiyah dan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII). Inilah cara-cara Buya Hamka dalam melawan penjajahan Belanda, perjuangan dengan tinta dan mencerdaskan Bangsa. Tak jarang ketajaman dakwahnya dan kekritisannya terhadap pemerintah Belanda maupun ketika Indonesia sudah merdeka membuatnya terancam dan menjadikan hubunganya tidak harmonis dengan pemerintah. Misalnya, pada masa Orde Lama, beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh Presiden Soekarno atas tuduhan subversif kepada pemerintah. Beliau ditangkap pada tanggal 27 Januari 1964 dan ditahan selama dua tahun empat bulan, tanpa melalui proses pengadilan yang adil.

Meskipun dipenjara, Buya Hamka tetap semangat dan produktif. Beliau menggunakan waktunya di penjara untuk menulis dan menyelesaikan beberapa karyanya, termasuk Tafsir Al-Azhar. Beliau juga tetap memberikan pengajaran agama dan moral kepada para tahanan lainnya. Penahanan Buya Hamka merupakan salah satu contoh pelanggaran hak asasi manusia pada masa Orde Lama. Kejadian ini menunjukkan bagaimana pemerintah Orde Lama menggunakan kekuasaannya untuk membungkam suara-suara kritis, termasuk suara Buya Hamka yang merupakan ulama dan cendekiawan ternama. Beliau dibebaskan pada tanggal 24 Agustus 1966.

Buya Hamka menghasilkan banyak karya tulis, termasuk novel, cerpen, tafsir Al-Quran, artikel, dan buku-buku agama. Beberapa karyanya yang paling terkenal antara lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Manikebu, dan Tafsir Al-Azhar. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia. Buya Hamka menghasilkan karya-karyanya yang luar biasa dengan menggabungkan berbagai faktor, seperti kebiasaan membaca, pengalaman hidup, kemampuan menulis yang luar biasa, disiplin, kegigihan, dan berbagai sumber inspirasi lainnya. Beliau menjadi teladan bagi para penulis dan generasi muda untuk terus berkarya dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat. (Hary, 23/7/2024)


Selasa, 09 Juli 2024

Nelson Mandela: Pejuang Anti-Apartheid dan Presiden Afrika Selatan Pertama yang Berkulit Hitam

Nelson Mandela

Sahabat inspirasi pendidikan, setiap zaman ada tokohya dan setiap tokoh ada zamannya, begitu kata pepatah yang sering kita dengar. Tetapi dari setiap perjalanan para tokoh ini sesungguhnya terdapat banyak hal yang dapat menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. Inspirasipendidikan.com berbagai kisah tentang Nelson Mandela, seorang pejuang anti-apartheid yang juga seorang presiden Afrika Selatan. Kisahnya begitu melegenda dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di dunia.

Masa Kecil dan Pendidikan

Nelson Rolihlahla Mandela, yang lebih dikenal dengan nama Nelson Mandela, lahir di desa Mvezo, Afrika Selatan pada tanggal 18 Juli 1918. Dia berasal dari keluarga Thembu, salah satu suku terbesar di Afrika Selatan.

Mandela kecil dibesarkan dalam tradisi dan budaya Thembu. Ayahnya, Gadla Henry Mphakanyiswa, adalah kepala desa Mvezo. Ibunya, Nosekeni Fanny, adalah istri ketiga ayahnya. Mandela memiliki 2 saudara perempuan dan 2 saudara laki-laki.

Mandela memulai pendidikannya di sekolah desa setempat. Pada usia 9 tahun, ayahnya meninggal dan dia diasuh oleh bupati Thembu, Jongintaba. Mandela kemudian melanjutkan pendidikannya di Clarkebury Boarding Institute dan Healdtown Institution.

Pada tahun 1939, Mandela mendaftar di University of Fort Hare untuk belajar hukum. Namun, dia dikeluarkan dari universitas tersebut karena terlibat dalam aksi protes politik. Dia kemudian menyelesaikan pendidikannya di University of the Witwatersrand, di mana dia menjadi aktivis anti-apartheid.

Perjuangan Melawan Apartheid

Apartheid adalah sistem segregasi ras yang diberlakukan di Afrika Selatan dari tahun 1948 hingga 1994. Sistem ini memisahkan orang kulit hitam dan kulit putih di semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal.

Mandela bergabung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) pada tahun 1944. ANC adalah organisasi politik yang memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam di Afrika Selatan. Mandela dengan cepat menjadi pemimpin ANC dan terlibat dalam berbagai aksi protes dan kampanye anti-apartheid.

Pada tahun 1961, Mandela ditangkap dan didakwa melakukan sabotase. Dia dihukum penjara seumur hidup dan dipenjara di Pulau Robben. Mandela menghabiskan 27 tahun di penjara, di mana dia mengalami kondisi yang keras dan tidak manusiawi. Namun, Mandela tidak pernah menyerah pada perjuangannya melawan apartheid. Dia terus menginspirasi orang lain melalui kepemimpinannya dan tekadnya yang kuat.

Kisah Nelson Mandela di Penjara: 27 Tahun Menuju Kebebasan dan Perubahan

Nelson Mandela menghabiskan 27 tahun hidupnya di penjara akibat perjuangannya melawan apartheid di Afrika Selatan. Masa-masa di balik jeruji besi ini penuh dengan tantangan dan kesulitan, namun juga menjadi periode penting dalam perjalanan hidupnya yang mengantarkannya menjadi ikon perdamaian dan keadilan.

Masa Awal di Penjara:

Pada tahun 1962, Mandela ditangkap dan dihukum penjara seumur hidup karena terlibat dalam kegiatan anti-apartheid. Awalnya, dia dipenjara di Pulau Robben, sebuah pulau kecil yang terpencil dan terkenal dengan kondisi yang keras. Di sana, Mandela dipaksa untuk bekerja keras dalam kondisi yang tidak manusiawi, dan dia hanya diizinkan untuk mengunjungi keluarganya sekali setahun.

Kehidupan di Pulau Robben:

Meskipun dihadapkan pada kondisi yang sulit, Mandela tidak pernah menyerah pada semangatnya. Dia terus belajar dan membaca buku di penjara, dan dia menjadi pemimpin informal bagi para tahanan politik lainnya. Mandela juga menggunakan posisinya untuk mengorganisir aksi protes dan mogok makan untuk menuntut hak-hak para tahanan.

Perjuangan Melawan Apartheid dari Penjara:

Mandela tidak hanya berfokus pada perjuangannya sendiri, dia juga terus mengabdikan diri untuk melawan apartheid. Dia secara diam-diam menulis surat dan artikel yang diselundupkan keluar dari penjara, dan dia berkomunikasi dengan para pemimpin ANC di luar negeri untuk menyusun strategi perjuangan.

Pengakuan Internasional dan Tekanan untuk Pembebasan:

Seiring waktu, Mandela menjadi simbol perlawanan terhadap apartheid dan perjuangan untuk hak-hak asasi manusia. Dukungan internasional untuk pembebasannya terus meningkat, dan tekanan terhadap pemerintah Afrika Selatan semakin besar.

Pembebasan dan Masa Depan:

Pada tahun 1990, setelah 27 tahun dipenjara, Mandela akhirnya dibebaskan. Pembebasan ini menjadi momen bersejarah bagi Afrika Selatan dan menandai awal dari era baru dalam perjuangan melawan apartheid. Mandela kemudian memimpin negosiasi antara ANC dan pemerintah Afrika Selatan, yang akhirnya menghasilkan pemilihan umum demokratis pertama di negara itu pada tahun 1994.

Kisah Nelson Mandela di penjara adalah kisah tentang keberanian, tekad, dan pengorbanan. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa meskipun dihadapkan pada rintangan yang paling sulit, kita dapat mencapai perubahan melalui perdamaian dan rekonsiliasi. Mandela menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan dan menghabiskan masa jabatannya untuk membangun bangsa yang lebih adil dan setara.

Selama masa jabatannya sebagai presiden, Mandela fokus pada rekonsiliasi rasial dan pembangunan bangsa. Dia juga bekerja untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan pendidikan dan perawatan kesehatan.

Mandela pensiun dari jabatan presiden pada tahun 1999, tetapi dia tetap aktif dalam berbagai kegiatan filantropi dan advokasi. Dia meninggal dunia pada tanggal 5 Desember 2013 di usia 95 tahun.

Warisan Nelson Mandela

Nelson Mandela adalah salah satu pemimpin paling inspiratif di abad ke-20. Dia adalah simbol perlawanan terhadap penindasan dan perwujudan harapan dan rekonsiliasi. Warisannya terus menginspirasi orang-orang di seluruh dunia untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.

Fakta Menarik tentang Nelson Mandela:

  • Mandela menikah tiga kali dan memiliki enam anak.
  • Dia adalah penerima lebih dari 250 penghargaan, termasuk Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1993.
  • Ulang tahunnya, 18 Juli, diperingati sebagai Hari Nelson Mandela Internasional setiap tahun.

Pesan Moral dari Kisah Nelson Mandela:

  • Keberanian, tekad, dan optimisme adalah kunci untuk mencapai perubahan.
  • Pengampunan dan rekonsiliasi adalah penting untuk membangun masa depan yang lebih baik.
  • Setiap orang memiliki potensi untuk membuat perbedaan di dunia.

Kisah Nelson Mandela adalah pengingat bahwa bahkan dalam menghadapi rintangan yang paling sulit, kita dapat mencapai hal-hal yang luar biasa jika kita memiliki keberanian untuk memperjuangkan apa yang kita yakini. “selalu ada harapan untuk perubahan” (hary, 09/07/2024)