Kamis, 20 Maret 2025
KABAR GEMBIRA DARI PEMERINTAH UNTUK CASN DAN PPPK TAHUN 2024
Rabu, 12 Maret 2025
Kisah Raja Waskita Leksana dan Patih Garda Jaladara dari Kerajaan Kencana Arum
Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena H
inspirasipendidikan.com_ sahabat
inspirasi pendidikan, hidup memang memiliki rahasianya sendiri. Beberapa peristiwa
yang terjadi tekadang sulit untuk dipahami bahkan seringkali manusia berprasangka
negatif terhadap apa yang menimpa. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan
sebuah kisah inspiratif semoga bermanfaat.
Pada zaman dahulu, terdapat sebuah
kerajaan yang rakyatnya hidup sejahtera, gemah ripah loh jinawe, tata
tentrem kerta raharja. Tentu saja jika ada kerajaan yang begitu makmur
kehidupan rakyatnya pastilah pemimpinnya adalah seorang yang arif bijaksana,
amanah menjalankan kepemimpinannya sebagai seorang raja, dan para punggawa
kerajaannya juga memiliki nasionalisme, patriotisme dan loyalitas tinggi kepada
sang raja. Kerajaan itu bernama Kerajaan Kencana Arum yang dipimpin seorang
raja bernama Raja Waskita Leksana. Patihnya yang pandai dan bijak, ahli
strategi bidang pemerintahan dan pertahanan keamanan bernama Patih Garda
Jaladara. Dua orang Petinggi kerajaan tersebut memiliki pengaruh besar dalam
membentuk kerajaan yang makmur, dan wibawa mereka berdua menyebabkan para Menteri,
Tumenggung dan Adipati segan, sehingga menjalankan kepemimpinannya dengan baik,
tidak pernah melakukan korupsi. Selain itu, kesaktian sang Raja dan Patih yang termashur,
menyebabkan kerajaan Kencana Arum disegani oleh kawan maupun lawan.
Raja Waskita Leksana dan Patih Garda
Jaladara sejatinya adalah teman sejak kecil, mereka memang terlahir dari
kalangan bangsawan di lingkungan keratin. Meskipun demikian, didikan dari orang
tua mereka sangat baik, sehingga mereka tidak angkuh, sombong dan tetap
mencintai rakyatnya. Mereka memiliki kegemaran yang sama yaitu berburu di saat
ada waktu luang. Singkatnya mereka ini ibaratnya dwi tunggal. Dua orang tetapi
memiliki banyak kesamaan dalam kegemaran, tata pemerintahan, strategi perang
dan olah kanuragan, serta hal-hal lainnya.
Pada suatu hari, Raja Waskita Leksana
bertitah,” Patih Garda Jaladara, sudah lama kita tidak pergi berburu di hutan.”
“ Benar baginda, apakah baginda
bermaksud berburu di hutan lagi?” jawab sang Patih.
“Ya, saya ingin sekali berburu rusa,
kelinci hutan dan hewan hutan lainnya. Pasti menyenangkan. Ya.. sekedar
meregangkan otot dan melonggarkan pikiran kita dari beban memikirkan kerajaan
ini walaupun hanya beberapa saat.” Kata sang Raja sambil menatap sang patih.
Patih pun menjawab, “Kalau begitu biar
hamba persiapkan segala sesuatunya, para pengawal yang bertugas ikut selama
berburu dan beberapa perbekalan yang akan kita perlukan nantinya.”
“Baiklah, kita berangkat besuk pagi
ya, Patih juga harus ikut berburu. Jangan lupa bawa anak panah dan busur pusaka
saya.” Sahut sang raja dengan sorot mata berbinar-binar.
Maka berangkatlah rombongan kerajaan
tersebut. Sesampainya di dekat hutan mereka membagi kelompok tujuannya untuk
mendapatkan hasil buruan yang lebih banyak. Sang Raja bersama 4 orang prajurit
pengawal dan sang Patih. Kelompom prajurit lainnya menyebar ke sisi hutan lainnya.
Seekor menjangan bertanduk menyelinap di antara rerimbunan pepohonan, hal itu
menarik perhatian sang raja. Maka segera dia menarik brosurnya dan melesatkan
anak panah ke arahnya. Tapi sayangnya meleset. Raja kemudian marah dan
menyerukan para prajurit untuk mengejarnya. Tinggalah Raja dengan patihnya yang
menunggu di tengah hutan terebut.
Patih membuka pembicaraan, “Baginda raja
apakah engkau tidak akan memarahi para prajurit jika mereka gagal mendapatkan
menjangan tersebut?”
“Tentu saja tidak, yang penting mereka
sudah berusaha, nanti saya sendiri yang akan mendapatkan hewan buruan itu,
bahkan binatang buas sekalipun seperti harimau bisa saya dapatkan.” Kata sang Raja
sedikit jumawa.
Patih hanya mengangguk tersenyum,”
Benar Baginda, tetapi ini adalah hutan lebat yang jarang disinggahi manusia,
maka kita tetap harus hati-hati.”
“Santai saja, tidak usah khawatir
Patih, bukankan kita sudah sering berburu di hutan ini.” tegasnya.
“oiya, patih bagaimana kalau ternyata
sampai seharian ternyata kita tidak mendapatkan buruan?” tanya Raja mulai
bimbang.
“Berarti itu kehendak Tuhan, dan pasti
kehendak Tuhan adalah yang terbaik, Karena Tuhan begitu menyayangi hamba-Nya.”
Jawab Patih penuh kebijaksanaan.
“Haah .. sudahlah, ayo kita lanjutkan
lebih masuk ke dalam hutan.” Ajak Raja sambil melangkah mendahului Patih.
Tetapi beberapa saat kemudian dari
arah depan, terdengar suara auman yang menggetarkan dada bagi siapa saja yang
mendengarnya. Seekor hewan berbulu, besar dan kuat dengan kuku-kuku tajam,
matanya tajam seolah menyala. Tidak salah lagi, seekor raja hutan, Singa hutan
yang berjarak hanya 3 meter dari depan Raja dan Patih. Tiba-tiba menatap tajam
dan berancang-ancang untuk melompat menerkam Raja. Sang Raja mengetahui bahaya
yang akan menimpanya, maka dia pun bersiap untuk mempertahankan diri dan
melawan Singa itu. Meskipun raja memiliki olah bela diri yang baik, tetapi
keperkasaan Singa ini memang luar biasa, selain tubuhnya yang besar, tenaganya
juga sangat kuat. Raja pun dibuat tersungkur kepalanya tercakar berdarah. Bahkan
salah satu jarinya terputus karena kena gigitan taring singa.
Dia berteriak, “Patih.. Patih di mana
kamu, ayo cepat bantu aku.. tolong aku..?
Anehnya Patih malah tidak terlihat,
maka Raja pun harus berjuang seorang diri, dan ketika lompatan singa itu
menerjang dengan kekuatan penuh ke arahnya, Raja sudah pasrah, karena panah dan
busur yang dia bawa sudah tidak berarti apa-apa bagi Singa. Dan tepat ketika
Singa hendak menerkam kepala Raja. Tiba-tiba sekelebat bayangan dengan cepat bergerak,
semburat darah muncrat dari leher singa.
“Achh… Tamat kamu sekarang.” Patih
berdiri tepat di depan raja, Tangannya mengenggam kokoh pedang yang menancap di
leher Singa besar itu.
“Baginda, tidak apa?” tanya Patih
gugup.
Raja mendesah kesakitan, “Kemana saja
kamu Patih? ketika aku berduel dengan singa kamu malah menghilang, lihat ini jari
kelingkingku hancur, kepala dan punggungku terluka parah!”
“Ampun Baginda, tadi hamba mencari pedang yang tertinggal ditempat kita singgah
tadi begitu tahu kalau ada Singa yang mendekat.” Jawabnya merasa bersalah.
“Sudah-sudah, sekarang kumpulkan semua
prajurit kita kembali ke Istana. Bakar kayu, keluarkan asap sebagai tanda
berkumpul semua prajurit kita.” Perintahnya dengan nada marah dan menahan rasa
sakit.
Sesampai di Istana, seluruh tabib
istana segera mengobati Raja dengan segenap kemampuannya. Berita tentang Raja
yang hampir mati ini pun tersebar dengan cepat. Para penasehat istana kemudian
menyalahkan Patih, dan menyampaikan kepada Raja agar memberikan hukuman kepada
Patih. Raja yang masih jengkel dan emosi itupun kemudian memanggil patih dan
memberikan hukuman berupa penjara kepada Patih. Tetapi sebelum menjebloskan ke
dalam penjara dia sempat bertanya kepada Patihnya.
“Patih Garda Jaladara, karena
kelalaianmu menyebabkan aku hampir mati diterkam singa, maka sebagai hukuman,
kamu akan aku jebloskan ke dalam penjara.” Tegas Raja Wakita Leksana.
“Hamba menerima hukuman ini baginda,
hamba yakin Tuhan memiliki rencana yang baik untuk hamba dan untuk baginda sendiri.”
Sahut Patih pasrah.
Hari-hari berlalu, bulan berganti
bulan. Suasana kerajaan tetap seperti sebelumnya. Raja pun sudah sembuh dan
kembali lagi ingin melakukan hobinya berburu lagi di hutan. Maka berangkatlah
Raja dengan dikawal beberapa prajurit pilihan. Sampai di tengah hutan, mereka
pun berburu hewan-hewan yang ada hingga lupa dan tersesat jauh ke dalam hutan.
Bahkan Raja pun tersesat seorang diri terpisah jauh dengan para pengawalnya.
Kejadian naas pun terjadi, Raja Waskita Leksana ditangkap oleh suku primitif
yang tinggal di dalam hutan itu. Raja diikat dan diserahkan kepada ketua Suku. Raja
akan dijadikan tumbal persembahan bagi dewa dan leluhur suku tersebut. Karena
dalam kepercayaan suku itu, tumbal seorang pemuda tampan akan mendatangkan
keberkahan bagi Suku mereka. Darah yang menetes akan menyuburkan tanahnya. Maka
dipilihlah tumbal atau persembahan terbaik. Tetapi tepat sebelum Raja hendak
dieksekusi, mata Sang Ketua Suku melihat bahwa kelingking kanan sang Raja tidak
ada. Tumbal itupun cacat dan tidak akan diterima oleh dewa dan leluhur suku
itu.
Ketua suku segera menginstruksikan
rakyatnya untuk pergi dari altar persembahan dan mencari tumbal yang lainnya.
Raja pun dibiarkan terikat di altar persembahan dan tidak bisa berkutik sama
sekali. Ketika para penduduk suku primitive itu sudah semakin menjauh dan
hilang diantara rimbunnya belantara. Barulah para pengawal raja menemukan dan
membawanya kembali ke Istana.
Beberapa hari pasca kejadian itu, Raja
sering melamun dan merenungi kejadian yang menimpanya. Dia seketika teringat
ucapan patih Garda Jaladara, “Tuhan pasti memiliki rencana yang baik untuk
hambanya.” Maka diapun meminta prajuritnya untuk menghadapkan patih kepadanya.
“Patih, sekarang aku menyadari, ketika
itu aku marah karena kelingkungku hancur digigit singa, dan aku lampiaskan
amarahku dengan menghukummu. Tapi aku berikir jika saja kelingkingku masih
utuh, maka pasti aku sudah mati menjadi tumbal suku primitif di hutan itu. Jika Tuhan tidak menghadirkan
Singa itu, mungkin tidak aka nada kejadian ini.” Papar sang Raja.
“Hamba mengerti baginda, itulah kebenaran yang hamba sampaikan.”
Jawab sang Patih singkat.
“Tapi, Patih, kalau memang Tuhan itu
baik kepada kita. Mengapa Tuhan membiarkan aku menghkummu?” Tanya Raja Waskita
Leksana.
“Jika baginda tidak memenjarakanku,
pasti baginda akan mengajak untuk berburu agi di hutan. Dan jika hamba yang
tertangkap, maka hambalah yang akan menjadi tumbal persembahan suku primitive itu.
Untungnya baginda memenjarakan hamba.” Jawab Patih dengan sopan
Kata-kata patih itu menyadarkan Raja,
bahwa emosinya sesaat membuatnya tidak jernih menilai jasa patihnya. Tetapi ada
yang lebih penting lagi dia menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di
dunia ini adalah kehendak-Nya. Dan asalkan bersabar maka, hikmah kebaikan
pastilah ada. Semua sudah direncanakan dengan baik, atas kehendak yang Maha
penguasa. Akhirnya Patih pun dibebaskan dan jabatannya sebagai patih
dikembalikan lagi.
--- Tamat----
![]() |
Shakayla (Penulis) |
Rabu, 05 Maret 2025
MENJADI GURU IDOLA DI ERA DIGITAL ; MENGAJAR DENGAN HATI, BERKARYA DENGAN TEKNOLOGI
Oleh: Hariyanto*
“Guru adalah panggilan hati, bukan panggilan materi, meski begitu jangan dieksploitasi dengan dalih mengabdi.”
Guru
memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kualitas akademik peserta
didik. Mereka bukan hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga
sebagai panutan dan inspirasi bagi siswa. Dalam perkembangan zaman yang semakin
pesat, khususnya di era digital, harapan terhadap guru pun semakin tinggi. Guru
tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu
beradaptasi dengan teknologi serta memahami kebutuhan emosional dan sosial
peserta didik.
Di era digital saat ini, peserta didik
cenderung lebih kritis dalam memilih sosok yang mereka idolakan. Guru yang
sekadar mengajar dengan metode konvensional cenderung kurang menarik bagi
mereka. Sebaliknya, guru yang inovatif, inspiratif, serta memahami teknologi
memiliki peluang lebih besar untuk menjadi idola bagi siswa. Selain itu, guru
yang dapat membangun kedekatan emosional dan memberikan motivasi lebih sering
mendapat tempat di hati peserta didik.
Paragraf
di atas berisi kalimat-kalimat yang seolah begitu sederhana untuk menjadi guru
yang diidolakan bagi peserta didik, tetapi kenyataannya begitu banyak fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan yang mencetak guru-guru di Indonesia masih belum
mampu menghasilkan guru-guru yang betul-betul berkualitas dan memiliki
keterampilan mengajar yang mumpuni. Hal ini didukung dengan perkembangan
teknologi informasi yang begitu cepat tetapi tidak berbanding lurus dengan kemampuan
inovasi dan kreatifitas guru dalam mengajar.
Berpuluh
tahun lalu, Donald R Cruicksank (1980) dalam bukunya yang berjudul Teaching
is Tough telah mengindikasikan beberapa problem yang dihadapi guru dan guru
diharapkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya tersebut. Problem
yang dihadapi antara lain (1) Problem
kurang relevannya pendidikan guru dengan kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis. (2) Terdapat
kecemasan pada guru meskipun sudah memiliki pengalaman mengajar yang lama, hal
ini dikarenakan problem dinamisnya perkembangan teknologi dan karakter peserta
didik. (3) Kebutuhan akan kepuasan guru, hal ini bisa dikaitkan permasalahan
kesejahteraan guru yang belum tercapai, sementara beban dan tuntutan orang tua di
pundaknya semakin berat. (4) Problem yang terkait dengan proses belajar
mengajar, seperti: tindakan yang sesuai untuk penegakan aturan kedisiplinan di
sekolah yang terkadang tidak bisa diterima secara bijak oleh orang tua dan
siswa, problem guru dalam menjalin kerjasama antara orang tua dengan guru, dan membangun
interaksi positif dengan peserta didik.
Sekarang ini Era
digital membawa banyak kemudahan dalam dunia pendidikan, terutama dalam aspek
pembelajaran yang lebih interaktif dan akses informasi yang lebih luas. Namun,
di sisi lain, digitalisasi juga menghadirkan berbagai tantangan bagi guru,
khususnya dalam menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik. Berikut
beberapa masalah utama yang dihadapi guru dalam kaitannya dengan pendidikan
karakter di era digital:
1. Kurangnya Interaksi
Tatap Muka yang Berkualitas
Pembelajaran
berbasis teknologi, seperti e-learning atau kelas daring, sering kali
mengurangi interaksi langsung antara guru dan siswa. Akibatnya, nilai-nilai
karakter seperti sopan santun, empati, dan kepedulian sosial sulit ditanamkan
karena keterbatasan komunikasi nonverbal dan interaksi emosional.
2.
Pengaruh Negatif Media Digital
Peserta
didik memiliki akses yang luas terhadap internet dan media sosial, yang tidak
selalu memberikan pengaruh positif. Konten negatif seperti ujaran kebencian,
hoaks, perundungan daring (cyberbullying), dan gaya hidup hedonis dapat
memengaruhi karakter mereka. Guru harus berperan sebagai filter dan pembimbing
dalam memilah informasi yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika.
3.
Perubahan Pola Pikir dan Gaya Hidup Peserta Didik
Teknologi
mengubah cara berpikir dan bertindak siswa. Banyak dari mereka lebih
individualistis, kurang sabar, dan cenderung mengutamakan kepuasan instan
(instant gratification). Hal ini menjadi tantangan bagi guru dalam menanamkan
nilai-nilai seperti kerja keras, kesabaran, dan tanggung jawab.
4.
Menurunnya Otoritas Guru dalam Pendidikan Karakter
Di
era digital, peserta didik tidak lagi hanya bergantung pada guru sebagai sumber
utama informasi. Mereka lebih banyak mencari jawaban sendiri melalui internet.
Hal ini menyebabkan otoritas guru dalam membentuk karakter siswa menjadi
berkurang, karena mereka lebih mudah dipengaruhi oleh figur lain di dunia maya
yang belum tentu memberikan teladan yang baik.
5.
Kurangnya Literasi Digital di Kalangan Guru
Tidak
semua guru memiliki keterampilan digital yang memadai untuk menyesuaikan metode
pembelajaran dengan perkembangan teknologi. Akibatnya, mereka kesulitan dalam
mendampingi siswa menghadapi tantangan moral di dunia digital, seperti etika
berinternet, keamanan digital, dan bagaimana menggunakan teknologi secara
positif.
6.
Tantangan dalam Mengajarkan Nilai-Nilai Kedisiplinan
Kemudahan
teknologi sering kali membuat siswa menjadi lebih fleksibel dan kurang
disiplin, terutama dalam hal menghargai waktu dan tanggung jawab. Misalnya,
siswa lebih mudah menunda tugas dengan alasan jaringan internet bermasalah atau
kurang fokus karena distraksi media sosial. Guru harus mencari cara untuk tetap
menanamkan kedisiplinan dalam lingkungan digital.
7.
Kurangnya Dukungan dari Orang Tua dalam
Pendidikan Karakter
Di
era digital, banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan dan kurang terlibat dalam
pendidikan karakter anak. Mereka sering menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya
kepada guru, padahal pendidikan karakter harus ditanamkan secara bersama antara
sekolah dan keluarga.
Selanjutnya apa solusi dari
permasalahan dan tantangan di atas? Dalam pandangan penulis guru seharusnya: (1) Meningkatkan Literasi Digital Guru: guru harus terus
belajar dan mengembangkan keterampilan digital agar bisa menyesuaikan metode
pengajaran dengan kebutuhan era digital. (2) Menerapkan Pendidikan Karakter
Berbasis Digital: Mengajarkan etika berinternet, literasi digital, dan cara
menggunakan media sosial secara positif. (3)Memaksimalkan Interaksi Emosional; Meskipun
menggunakan teknologi, guru tetap harus membangun kedekatan dengan siswa, baik
secara daring maupun luring. (4) Menjadi Role Model dalam Penggunaan Teknologi:
Guru harus menunjukkan contoh yang baik dalam penggunaan media sosial dan
teknologi agar siswa bisa meniru sikap positif. (5) Berkolaborasi dengan Orang Tua dan
Masyarakat: Guru perlu bekerja sama dengan orang tua dalam membentuk karakter
siswa agar nilai-nilai moral tetap terjaga di lingkungan digital.
Di
era digital yang penuh dengan perubahan cepat dan tantangan baru, guru tetap
menjadi sosok yang diidolakan oleh peserta didik bukan hanya karena ilmunya,
tetapi juga karena keteladanan, inovasi, dan kepeduliannya. Teknologi, termasuk
kecerdasan buatan (AI), memang telah mengubah cara belajar-mengajar, namun
tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru sebagai inspirator dan
pembimbing karakter. Guru yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,
mengajarkan nilai-nilai moral, serta membangun kedekatan emosional dengan siswa
akan selalu dihormati dan dicintai. Oleh karena itu, di tengah pesatnya arus
digitalisasi, guru harus terus berkembang, tidak hanya sebagai pendidik tetapi
juga sebagai panutan yang membawa harapan bagi generasi masa depan.
Daftar Rujukan:
Rabu, 26 Februari 2025
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA YANG TOXIC TERHADAP PRODUKTIVITAS KINERJA
Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd*
Di era globalisasi dan persaingan bisnis yang semakin
ketat, perusahaan dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas
dan produktif. Kinerja karyawan merupakan salah satu faktor kunci yang
menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Namun, kinerja
karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan individu,
tetapi juga oleh faktor lingkungan kerja.
Lingkungan kerja yang sehat dan
positif dapat memotivasi karyawan untuk bekerja dengan lebih baik dan
meningkatkan produktivitas mereka. Sebaliknya, lingkungan kerja yang toxic
dapat berdampak negatif terhadap kinerja karyawan, bahkan dapat menyebabkan
masalah kesehatan mental dan fisik. Lingkungan kerja yang toxic ditandai dengan
adanya perilaku negatif seperti perundungan (bullying), diskriminasi,
pelecehan, dan komunikasi yang buruk. Kondisi ini dapat menciptakan suasana
kerja yang tidak nyaman, tidak aman, dan tidak produktif. Karyawan yang bekerja
di lingkungan yang toxic cenderung merasa stres, tidak dihargai, dan tidak
termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Disinilah peran kepemimpinan
seharusnya mengambil peran untuk menjaga kondusifitas perusahaan. Bukan justru
menjadi penyebab atau pemicu terciptanya lingkungan yang toxic tersebut.
Pendapat di atas sesuai dengan hasil sejumlah peneltian yang
menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang toxic memiliki korelasi negatif dengan
produktivitas kinerja. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal "Work
& Stress" menemukan bahwa karyawan yang mengalami perundungan di
tempat kerja memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah dibandingkan
dengan karyawan yang tidak mengalami perundungan. Studi lain yang diterbitkan
dalam jurnal "Journal of Occupational Health Psychology"
menemukan bahwa lingkungan kerja yang ditandai dengan komunikasi yang buruk dan
kurangnya dukungan sosial dapat menurunkan kinerja karyawan. Beberapa kasus
perusahaan yang mengalami penurunan produktivitas akibat lingkungan kerja yang toxic
juga telah banyak dipublikasikan. Misalnya, kasus yang terjadi di sebuah
perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, di mana karyawan melaporkan
adanya budaya kerja yang toxic dan diskriminatif. Akibatnya, banyak
karyawan yang mengundurkan diri dan produktivitas perusahaan pun menurun
drastis.
Bagaimana kita
mengenali apakah lingkungan kerja sudah terkategori toxic atau
lingkungan yang memiliki aura positif? Berikut ini adalah ciri-ciri lingkungan
kerja yang toxic:
1 1. Komunikasi
yang Buruk:
o Komunikasi yang tidak jelas,
agresif, atau pasif-agresif dapat menciptakan ketegangan dan kebingungan di
tempat kerja.
o Kurangnya transparansi dan informasi
yang tidak merata juga dapat menjadi tanda lingkungan kerja yang toxic.
o Menurut penelitian, komunikasi yang
buruk secara signifikan menurunkan kinerja karyawan.
2. Perilaku Negatif dan Tidak
Profesional:
o Perundungan (bullying),
pelecehan, diskriminasi, dan perilaku tidak etis lainnya sering terjadi di
lingkungan kerja yang toxic.
o Perilaku ini dapat menciptakan
suasana kerja yang tidak aman dan tidak nyaman bagi karyawan. Para ahli
psikologi organisasi telah lama mengidentifikasi bahwa tindakan perundungan di
tempat kerja memiliki dampak yang sangat negatif terhadap kesehatan mental
karyawan.
3. Kurangnya Dukungan dan Kerja Sama:
o Lingkungan kerja yang toxic
sering kali ditandai dengan kurangnya dukungan dari rekan kerja dan atasan.
o Persaingan yang tidak sehat dan
kurangnya kerja sama tim dapat menciptakan suasana kerja yang tidak produktif.
o Penelitian menunjukkan bahwa
dukungan sosial di tempat kerja sangat penting untuk kesejahteraan karyawan dan
produktivitas.
4. Atasan yang Toxic:
o Atasan yang suka melakukan
micromanaging, narsis, atau tidak adil dapat menciptakan lingkungan kerja yang
sangat tidak sehat.
o Atasan yang tidak memberikan umpan
balik yang konstruktif atau tidak menghargai kontribusi karyawan juga dapat
menjadi masalah.
o Banyak riset telah mendokumentasikan
dampak negatif dari kepemimpinan yang toxic terhadap kepuasan kerja dan
retensi karyawan. Retensi karyawan dapat dilihat dari banyaknya karyawan yang
mengundurkan diri atau berhenti. Tanda-tanda itu sudah menunjukkan bahawa ada
yang tidak beres dalam kepemimpinan di perusahaan atau instansi tersebut.
5. Kurangnya Batasan dan Keseimbangan
Kerja-Hidup:
o Lingkungan kerja yang toxic sering
kali tidak menghormati batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
o Tekanan untuk selalu terhubung dan
bekerja di luar jam kerja dapat menyebabkan stres dan kelelahan.
o Para ahli kesehatan kerja menekankan
pentingnya keseimbangan kerja-hidup untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan
kesejahteraan karyawan.
6. Tidak adanya ruang untuk berkembang:
o Karyawan merasa terjebak tanpa
kemajuan, mengakibatkan frustrasi dan kekecewaan.
o Kurangnya pengakuan terhadap
prestasi.
o
Ketidakjelasan
dalam rencana karier.
Berdasarkan
ciri-ciri tersebut, apabila instansi/perusahaan sudah terjangkit beberapa
gejala tersebut di atas, maka harus segera dicarikan solusi. Solusi yang
ditawarkan seperti:
1. Jika penyebab lingkungan yang toxic
salah satunya adalah pimpinan/ atasan, maka sebaiknya segera diganti dengan
pimpinan/ manager yang lebih kompeten, visioner dan bijaksana;
2. Perusahaan perlu membangun budaya
kerja yang saling menghormati, menghargai, dan mendukung;
3. Bangunlah komunikasi yang efektif
dan positif antara bawahan dengan atasan, atau antar staff. Komunikasi yang
efektif antara atasan dan bawahan sangat penting untuk menciptakan lingkungan
kerja yang sehat;
4. Memberikan pelatihan: Pelatihan tentang
anti-perundungan, anti-diskriminasi, dan komunikasi yang efektif perlu diberikan
kepada seluruh karyawan;
5. Menegakkan aturan: Perusahaan perlu memiliki aturan/
kode etik yang jelas dan tegas mengenai perilaku yang tidak pantas di tempat
kerja. Kode etik tersebut perlu diterapkan dengan tegas.
Lingkungan kerja yang toxic memiliki
dampak negatif yang signifikan terhadap produktivitas kinerja karyawan. Oleh
karena itu, perusahaan perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengatasi
masalah ini. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan positif,
perusahaan dapat meningkatkan produktivitas kinerja karyawan dan mencapai
kesuksesan yang lebih besar.
Daftar Pustaka:
Einarsen, S., & Skogstad, A. (2005). The relationship
between workplace bullying and psychological health. Work & Stress, 19(3),
207-221.
Michel, J. S., Kotrba, L. M., Mitchelson, J. K., Clark, M.
A., & Baltes, B. B. (2011). Antecedents of work–family conflict: A
meta-analytic review. Journal of Organizational Behavior, 32(5),
689-725.
Spector, P. E.,
& Jex, H. C. (1998). Organizations: A social psychology perspective.
John Wiley & Sons.
* Penulis adalah Dosen di IAIN Ponorogo
Jumat, 07 Februari 2025
KIAT CERDAS MEMILIH PERGURUAN TINGGI YANG BERMUTU
Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd
Pendidikan tinggi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan masa depan seseorang. Perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan, membangun jaringan, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Oleh karena itu, memilih perguruan tinggi yang tepat menjadi keputusan krusial yang akan berdampak jangka panjang pada karier dan kehidupan seseorang.
Banyaknya pilihan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menuntut calon mahasiswa untuk lebih selektif dalam menentukan pilihan. Faktor-faktor seperti akreditasi, reputasi, kualitas pengajaran, fasilitas, peluang karier, serta biaya pendidikan harus dipertimbangkan agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang optimal. Selain itu, lingkungan akademik yang kondusif dan tata kelola universitas yang baik juga menjadi aspek penting dalam mendukung proses pembelajaran.
Pemilihan perguruan tinggi yang tepat bukan hanya berpengaruh pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesiapan seseorang dalam menghadapi tantangan global. Dengan memilih institusi yang memiliki kualitas unggul, mahasiswa dapat lebih siap bersaing di dunia kerja dan berkontribusi secara positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman mengenai faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih perguruan tinggi sangat diperlukan agar setiap individu dapat menentukan langkah terbaik untuk masa depannya.
Bagi siswa-siswi SMA/MA/SMK/ sederajat yang belum memahami dunia perguruan tinggi, bagaimana cara mengetahui bermutu atau tidaknya sebuah perguruan tinggi? Inilah yang kerap kali menjadi bahan pertanyaan para calon mahasiswa tersebut, apalagi di tengah gempuran marketing dari perguruan tinggi, mulai penawaran beasiswa, biaya pendidikan yang murah, dan penawaran fasilitas lainnya. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa menjadi pertimbangan bagi siswa yang hendak melanjutkan ke perguruan tinggi.
Akreditasi dan Reputasi
Akreditasi adalah Akreditasi adalah
proses penilaian dan pengakuan formal terhadap suatu lembaga dalam hal ini
perguruan tinggi/ institusi maupun program studi. Akreditasi dilakukan
oleh lembaga berwenang untuk memastikan bahwa lembaga tersebut memenuhi standar
kualitas tertentu. Akreditasi dilakukan untuk menilai
institusi oleh BAN PT, sedangkan untuk menilai program studi atau jurusan
dilakukan oleh LAM (Lembaga Akreditasi Mandiri). Peringkat yang diberikan adalah
Unggul, Baik Sekali, Baik dan tidak terakreditasi. Para siswa dapat melihat
status akreditasi institusi di laman BAN PT yaitu www.banpt.or.id sedangkan jurusan
dapat dilihat di LAM sesuai dengan rumpun keilmuan jurusannya, misalnya LAMDIK
(untuk jurusan kependidikan), LAMPTKes (untuk jurusan kesehatan) dll.
Berdasarkan informasi dari sumber yang valid tersebut dapat diketahui secara
umum mutu dari jurusan dan institusinya. Maka sebaiknya siswa memilih yang
sudah terakreditasi Unggul (A), baik institusinya maupun jurusannya. Nilai
akreditasi ini menggambarkan mutu dari perguruan tinggi tersebut. Hal lainnya
yang bisa dilakukan untuk menilai mutu perguruan tinggi adalah Peringkat
perguruan tinggi secara nasional maupun internasional. Biasanya Kemdiktisaintek
dan beberapa lembaga internasional setiap tahun menerbitkan peringkat perguruan
tinggi tersebut. Jika perguruan tinggi yang akan dituju berada diperingkat yang
jauh di bawah bahkan tidak masuk peringkat, maka sebaiknya jangan memilih
perguruan tinggi tersebut agar tidak menyesal di kemudian hari.
Menegaskan penjelasan sebelumnya, pastikan
siswa memilih jurusan yang sudah terakreditasi Unggul atau baik sekali. Mengapa
demikian? Hal ini dikarenakan beberapa instansi atau perusahaan mensyaratkan
penerimaan karyawan atau pekerja yang memiliki ijazah dari jurusan/ prodi
minimal baik sekali. Meskipun masih ada juga yang mau menerima dari jurusan
yang terakreditasi baik (C). Selanjutnya
pilihlah jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat anda. Karena banyak
mahasiswa yang sudah kuliah sampai beberapa semester, baru merasa bahwa mereka
salah jurusan karena tidak sesuai dengan minat mereka. Akibatnya belajar tidak
sungguh-sungguh, bahkan ada juga yang tidak melanjutkan kuliah lagi (DO). Hal
yang tidak kalah pentingnya untuk dikaji adalah jenis dan sebaran mata kuliah
yang ditawarkan. Kalau hal ini sudah terkait dengan kurikulum, metode mengajar
dll. tetapi paling tidak sebagai calon mahasiswa yang cerdas, anda dapat
menjadikan ini sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jurusan yang tepat.
Dosen dan Tenaga Pengajar
Dosen memiliki peran penting
dalam pembentukan kualitas pembelajaran. Bagaimana bisa mengetahui dosen yang
ada di suatu perguruan tinggi? Caranya mudah, siswa dapat mengeceknya melalui
laman www.pddikti.kemdiktisaintek.go.id. Dari laman tersebut dapat diketahui
nama dosen, latar belakang pendidikannya, jumlah dosen, hasil karya penelitian, dll. Semakin tinggi jenjang
pendidikan dosen, maka kualitas pembelajaran akan semakin bermutu, begitu juga
semakin banyak karya ilmiah yang dihasilkan berarti semakin bagus dosen
tersebut di bidang publikasi ilmiahnya. Perlu diketahui bahwa dalam satu
jurusan minimal harusnya memiliki sekurang-kurangnya 6 orang dosen tetap. Jadi
jika ada yang kurang dari 6, berarti patut dipertanyakan tata kelola SDM di
perguruan tinggi tersebut.
Fasilitas Kampus
Tidak dapat dipungkiri bahwa
fasilitas kampus memiliki peran penting dalam menarik kesan pertama dan minat
calon mahasiswa. Oleh karena itu banyak kampus yang menawarkan dan memberikan
peluang bagi para siswa/ sekolah untuk berkunjung dan melakukan grand tour atau
mini tour di kampus. Mereka akan diperkenalkan dengan luasnya area kampus,
gedung-gedung yang dimiliki, fasilitas laboratorium, aula tempat wisuda dan
hasil prestasi yang diraih mahasiswa di ajang nasional dan internasional. Cara
yang dianggap klasik ini terbukti ampuh memikat siswa untuk kuliah, disamping
cara kekinian juga terus dilakukan yaitu melalui media sosial maupun langsug
turun ke sekolah-sekolah, mengikuti pameran pendidikan dan menggunakan jejaring
internet lainnya. Bagi siswa SMA tidak perlu ragu sebelum memilih untuk kuliah
di suatu perguruan tinggi, lihatlah kampusnya dari dekat jika memungkinkan.
Pastikan kampus itu berdiri di atas lahan sendiri (jika swasta, lahan tersebut
milik sendiri, bukan sewa). Sehingga di kemudian hari tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan dan dapat merugikan mahasiswa.
Peluang Karier dan Alumni
Peluang karier menjadi sangat
berarti bagi mahasiswa. Sehingga setelah lulus tidak menjadi pengangguran.
Karena itu, piihlah perguruan tinggi yang memiiki network yang bagus dan telah
bekerjasama dengan bidang usaha dan industri untuk menyalurkan lulusannya.
Alumni juga memiliki peran penting, Himpunan Alumni seharusnya ada dan dibentuk
untuk lebih dapat membuka peluang lulusan atau alumni diserap dalam dunia
kerja. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa alumni memiliki peran yang
signifika dalam memajukan perguruan tinggi, misalnya melalui partisipasi mereka
dalam penerimaan mahasiswa baru dan pemberian testimony kepuasan alumni
terhadap almamater mendorong mereka untuk berbagi pengalaman positif melalui
komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth). Hal ini berperan penting
dalam menarik minat calon mahasiswa dan meningkatkan citra positif universitas
di mata publik. Tetapi sebaliknya jika alumni sendiri tidak mendukung dan tidak
mencintai almamaterya karena disebabkan pelayanan akademik yang kurang
memuaskan, pembelajaran dosen yang kurang professional, dan hal-hal negative lainnya,
maka jangan harap perguruan tinggi bisa berkembang dengan cepat dan dipercaya
oleh masyarakat secara luas.
Biaya Kuliah dan Beasiswa
Bandingkan biaya kuliah di
perguruan tinggi tersebut dengan perguruan tinggi lain. Jika biaya pendidikan
tinggi, pastikan mendapatkan perincian biaya tersebut untuk apa saja, dan
pastikan bahwa tidak ada biaya tambahan setelah masuk kuliah. Seringkali
terjadi sebagai sebuah strategi pemasaraan perguruan tinggi menyampaikan biaya
masuk perguruan tinggi murah, tetapi begitu masuk dan kuliah baru muncul jenis
jenis pembiayaan lainnya. Cara yang termudah adalah mencari tahu dari alumni
atau mahasiwa yang masih aktif apakah ada biaya tambahan. Bagaimana pula iklim
di kampus tersebut apakah ada biaya tambahan ketika menjelang skripsi, praktik
atau biaya wisuda yang tinggi. Apakah ada tradisi pungli yang dilakukan dosen atau
tenaga kependidikan untuk memuluskan urusan pembimbingan skripsi/ tugas akhir,
dll.
Beasiswa yang ditawarkan oleh perguruan tinggi juga bisa bermacam-macam, seperti KIP kuliah, beasiswa unggulan, beasiswa yayasan (bagi PTS), dll. calon mahasiswa/ siswa juga harus cermat dan cari informasi apakah pemberian beasiswa KIP kuliah, beasiswa unggulan, dll tersebut sesuai dengan mekanisme atau prosedur yag ditetapkan pemerintah? Atau ada pemotongan beasiswa dengan dalih subsidi silang, untuk administrasi dll. Jika masih terjadi hal demikian, sebaiknya siswa mencari perguruan tinggi yang lain, karena dipastikan ada yang salah dengan manajemen keuangannya.
Lokasi
dan Lingkungan Kampus
Lokasi kampus menjadi pertimbangan penting juga, jika ada
kampus yang dekat dengan tempat tinggal dan memenuhi syarat sebagaimana
disebutkan diatas, maka bisa menjadi pilihan. Karena ini terkait dengan biaya
hidup, kenyamanan dalam belajar, dan yang lebih penting tidak jauh dari orang
tua/tempat tinggal. Meskipun demikian, jika terpaksa harus kuliah di luar kota
di perguruan tinggi impiannya, sebaiknya carilah lingkungan tempat tinggal yang
kondusif, aman, dan cari lingkungan pertemanan yang tidak toxic.
Demikianlah beberapa pertimbangan yang bisa dijadikan acuan bagi para siswa SMA/SMK/MA yang hendak melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Semoga bermanfaat. (Hary, 07/02/25)
Jumat, 13 Desember 2024
BACAAN WAJIB BAGI PELAMAR PPPK DAN CASN KEMENAG RI UNTUK TEST “MODERASI BERAGAMA”
inspirasipendidikan.com- Moderasi Beragama adalah salah satu materi
wajib yang harus diikuti oleh para pelamar PPPK dan CASN di Kementerian Agama. Bahkan
bagi CPPPK yang sudah mengikuti Ujian kompetensi CAT BKN, diwajibkan untuk
mengikuti Ujian Kompetensi Tambahan yang akan menguji pengetahuan dan sikap pelamar
tentang ‘Moderasi Agama”. Sebagaimana dilansir di laman resmi kemenag RI.
Pengumuman dari Sekretariat Jenderal Kementrian Agama RI nomor: P-4692/SJ/B.II.2/KP.00.1/12/2024
tentang pemilihan titik lokasi seleksi kompetensi teknis tambahan (SKTT)
Pegawai Pemerintah dengan Perjanian Kerja (PPPK) Kementerian Agama Republik
Indonesia Tahun Anggaran 2024. Kesempatan bagi pelamar PPPK untuk mengisi titik
lokasi ujian sampai pada tanggal 13 Desember 2024 melalui laman https://pdm-nonasn.kemenag.go.id .
Bagaimanakah materi tentang moderasi beragama
itu? apa saja yang dibahas dalam soal tentang moderasi beragama? Sumber atau
referensi apa saja yang dapat digunakan sebagai acuan untuk belajar? Berbagai
pertanyaan itu yang sering muncul bagi mereka yang belum pernah mengikuti test
serupa. Meskipun demikian, bagi mereka yang sudah pernah mengikuti test serupa,
juga harus mempersiapkan diri secara maksimal, utamanya yang terkait dengan
kebijakan atau peraturan terbaru tentang moderasi beragama oleh pemerintah.
Sahabat inspirasi pendidikan, tidak perlu
khawatir karena kami akan memberikan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk
dipelajari secara mendalam tentang moderasi beragama. Referensi yang kami
berikan berasal dari Balitbang Diklat Kemenag RI, dan peraturan pemerintah, Peraturan
Menteri Agama yang biasanya dijadikan bahan untuk soal-soal tentang moderasi
beragama.
Silahkan anda klik untuk download bahan-bahan
referensi berikut:
Perpres No 58 Tahun 2023 Tentang Moderasi Beragama
PP nomor 6 Tahun 2019 tentang Perguruan Tinggi Keagamaan
Semoga bermanfaat, salam Inspirasi!
Selasa, 03 Desember 2024
Mengenal Gaya Belajar dan Gaya Kognitif Peserta Didik
A. Pengertian Gaya Belajar
Setiap siswa memiliki caranya masing-masing untuk mencerna informasi yang diterima di dalam kelas. Cara mencerna informasi ini disebut sebagai gaya belajar. Gaya belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa akan menentukan keberhasilan mereka dalam belajar. Dengan kata lain, gaya belajar adalah suatu metode yang digunakan untuk menyerap dan mengolah informasi maupun pengetahuan agar mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
B. Jenis Gaya Belajar
Gaya belajar dibagi menjadi 3 bagian, yakni gaya belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Penjelasan lebih rinci dari masing-masing Gaya Belajar tersebut adalah sebagai berikut:
1) Gaya Belajar Visual
Gaya belajar visual merupakan suatu cara pembelajaran di mana kekuatan belajar terletak pada indra penglihatan. Gaya belajar visual menitikberatkan kemampuan belajar melalui cara melihat, mengamati, dan memandang suatu objek, gambar, maupun film. Siswa dengan gaya belajar visual dapat dilihat dari karakteristik mereka yang khas. Beberapa contoh karakteristik siswa dengan gaya belajar visual seperti menyukai hal-hal yang bersifat rapi, mengutamakan tampilan gambar dan kesesuaian warna dalam powerpoint (PPT) saat presentasi; mengingat sesuatu dari apa yang dilihatnya, lebih suka mencoret-coret buku ketika belajar, lebih suka membaca daripada dibacakan, dan lebih suka melakukan pertunjukan seperti demonstrasi daripada berpidato.
2) Gaya Belajar Auditorial
Gaya belajar auditorial memiliki hal yang berkebalikan dengan gaya belajar visual. Gaya belajar auditorial lebih menitikberatkan kemampuan belajar pada indra pendengaran. Siswa yang memiliki gaya belajar auditorial lebih mudah untuk belajar dan mendapatkan stimulus dari suara atau penjelasan secara lisan. Karakteristik siswa yang memiliki gaya belajar auditorial adalah mereka yang cenderung merasa terganggu dengan suasana ramai; lebih suka mengucapkan apa yang dia baca, lebih suka membaca dengan suara lantang, lebih suka berpidato daripada melakukan suatu pertunjukkan, lebih suka dibacakan, dan lebih suka berdiskusi.
3) Gaya Belajar Kinestetik
Gaya Belajar Kinestetik memiliki kecenderungan belajar dengan melakukan gerakan maupun menyentuh dan merasakan barang dengan indra perabanya. Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki ciri-ciri yang selalu berorientasi pada fisik, menghafal dengan cara berjalan maupun menggerakkan tangan, mengerjakan sesuatu bersamaan dengan gerakan-gerakan ringan pada tangan, menggunakan jari, pensil, bolpoin maupun peraga yang lain sebagai penunjuk ketika membaca, dan tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama.
C. Pengertian Gaya Kognitif
Berbeda dengan Gaya Belajar, Gaya Kognitif memiliki pengertian dan cara mengimplementasikan tersendiri. Desmita (2012) menjelaskan bahwa gaya kognitif adalah karakteristik individu dalam menggunakan fungsi kognitif (berpikir, mengingat, memecahkan masalah, dan sebagainya) yang bersifat konsisten dan lama. Pendapat lain seperti Shi (2011: 20) mendefinisikan gaya kognitif sebagai sebuah konsep psikologis yang berkaitan dengan bagaimana seorang individu memproses informasi.
D. Jenis-Jenis Gaya Kognitif
1) Field Dependent (FD) – Field Independent (FI)
Siswa dengan gaya kognitif FI cenderung memilih belajar individual, menanggapi dengan baik, dan bebas (tidak bergantung pada orang lain). Sedangkan, siswa yang memiliki gaya kognitif FD cenderung memilih belajar dalam kelompok dan sesering mungkin berinteraksi dengan siswa lain atau guru, memerlukan penguatan yang bersifat ekstrinsik.
Merupakan gaya kognitif yang didasarkan atas perbedaan konseptual tempo yaitu perbedaan gaya kognitif berdasarkan atas waktu yang digunakan untuk merespon suatu stimulus. Orang yang memiliki gaya kognitif impulsif menggunakan alternatif-alternatif secara singkat dan cepat untuk menyeleksi sesuatu. Mereka menggunakan waktu sangat cepat dalam merespon, tetapi cenderung membuat kesalahan sebab mereka tidak memanfaatkan semua alternatif. Sedangkan, orang yang mempunyai gaya kognitif reflektif sangat berhati-hati sebelum merespon sesuatu, dia mempertimbangkan secara hati-hati dan memanfaatkan semua alternatif. Waktu yang digunakan relatif lama dalam merespon tetapi kesalahan yang dibuat relatif kecil (Rahman, 2008:461)
3) Perseptif – Reseptif
peserta didik yang perseptif dalam mengumpulkan informasi mencoba mengadakan organisasi dalam hal-hal yang diterimanya, ia menyaring informasi yang masuk dan memperhatikan hubungan-hubungan diantaranya. sedangkan peserta didik yang reseptif lebih memperhatikan detail atau perincian informasi dan tidak berusaha untuk menghubungkan informasi yang satu dengan yang lain.
4) Sistematis – intuitif
Siswa yang sistematis mencoba melihat struktur suatu masalah dan bekerja sistematis dengan data atau informasi untuk memecahkan suatu persoalan. Siswa yang intuitif langsung mengemukakan jawaban tertentu tanpa menggunakan informasi sistematis.
E. Implementasi Gaya Belajar dan Gaya Kognitif pada Peserta Didik
1. Implementasi Gaya Belajar
Sebelum dilaksanakan proses pembelajaran, pendidik harus mengetahui dan memahami gaya belajar dari peserta didik yang akan diajarkan. peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, oleh sebab itu sebagai pendidik perlu mengetahui dan memahami gaya belajar apa yang dimiliki peserta didik untuk lebih mudah memberikan pemahaman materi secara personal (Argarini, 2018).
1) Peserta didik dengan gaya belajar auditori cenderung menyerap informasi pembelajaran melalui pendengaran, oleh karena itu, untuk memaksimalkan potensi peserta didik dengan gaya belajar ini adalah:
a. Variasikan vokal saat memberikan penjelasan, seperti intonasi, volume suara, ataupun kecepatannya.
b. Menjelaskan materi secara berulang-ulang.
c. Cariasikan penjelasan materi dengan menggunakan lagu.
d. Saat belajar, biarkan peserta didik membaca secara nyaring
2) Peserta didik dengan gaya belajar visual cenderung menggunakan indera pengelihatannya untuk memahami informasi pembelajaran. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan potensi peserta didik dengan gaya visual adalah:
a. Memberikan pembelajaran dengan menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikainformasi atau materi pelajaran.
b. Gunakan gambar berwarna, grafik, tabel sebagai media pembelajaran.
c. Pergunakan setiap gambar/tulisan/benda di dalam kelas sebagai sumber pembelajaran.
d. Menggunakan warna untuk meng-highlight hal-hal penting.
e. Ajak peserta didik untuk mengilustrasikan ide mereka pada gambar
a. Jangan memaksakan anak untuk belajar berjam-jam.
b. Mengajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya.
c. Memberikan pembelajaran dengan cara selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak.
d. Belajar melalui pengalaman dengan menggunakan model atau alat peraga, belajar di laboratorium, dan bermain sambil belajar.
e. Menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan.
f. Perbanyak simulasi serta role playing.
F. Implementasi Gaya Kognitif
2) Penerapan Pendekatan Keterampilan Berpikir: Guru dapat mengajarkan keterampilan berpikir seperti analisis, sintesis, dan evaluasi agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
3) Penggunaan Media Interaktif: Pemanfaatan media interaktif seperti video interaktif, simulasi, atau permainan edukatif membantu peserta didik dalam mengolah informasi dengan cara yang menarik dan menantang.
4) Penggunaan Metode Diskusi dan Tanya Jawab: Diskusi dan tanya jawab melibatkan interaksi aktif antara guru dan peserta didik, yang mendorong refleksi, analisis, dan pengorganisasian informasi dalam pemahaman yang lebih mendalam.
5) Memberikan Tantangan: Memberikan tugas atau soal yang menantang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir secara mendalam dan mencari solusi kreatif. pengorganisasian informasi dalam pemahaman yang lebih mendalam.
Gaya Belajar dan Gaya Kognitif setiap peserta didik memang berbeda, maka tantangan dan tugas seorang pendidik adalah memberikan pembelajaran yang menarik bagi peserta didik dengan variasi metode pembelajaran, dan media yang sesuai. Jika Motivasi belajar sudah terbentuk, maka dimungkinkan prestasi belajar peserta didik akan meningkat.
* Penulis adalah Mahasiswa Semester 1 Jurusan PAI, FTIK IAIN Ponorogo Angkatan Tahun 2024